Penurunan Pos Tarif Bea Masuk FTA Kemungkinan Ditunda
Kamis, 29/01/2009 13:47 WIB
(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - Pemerintah mempertimbangkan penundaan proses harmonisasi pos tarif bea masuk dalam kerangka Free Trade Agreement (FTA). Sebelumnya, Departemen Perdagangan juga memutuskan menunda penurunan harmonisasi 324 pos tarif di luar FTA.
Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia sudah melakukan negosiasi penerapan FTA ditingkat ASEAN maupun ditingkat bilateral seperti FTA dengan Jepang (IJEPA), FTA Australia New Zealand dan lain-lain. Pelaksanaan harmonisasi pos tarif untuk masing-masing negara dijadwalkan mulai diberlakukan tahun 2009 seterusnya.
"Memang ada usulan atau pendapat dari berbagai pihak mengenai hal tersebut, dan pemerintah sangat memahami latar belakang dari usulan pendapat tersebut," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam pesan singkatnya kepada detikFinance saat ditanya mengenai sikap pemerintah terhadap usulan penundaan harmonisasi pos tarif, Kamis (29/1/2009).
Usulan penundaan penurunan pos tarif disampaikan oleh kalangan dunia usaha khususnya sektor industri. Kalangan industri menilai penurunan tarif secara cepat akan mengganggu daya saing industri dalam negeri sebagai imbas krisis global.
"Kita ingin menegosiasikan untuk ditunda harmonisasinya, harus dengan semuanya," kata Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI) Departemen Perindustrian (Depperin) Dedi Mulyadi di gedung Depperin.
Diakui Dedi, untuk FTA yang sdah disepakati seperti Jepang terbilang lebih berat dibandingkan dengan FTA yang baru akan disepakati seperti FTA Australia-New Zeland dan lain-lain. "Kalau dengan Jepang agak berat," ungkapnya.
"Kita diminta penurunannya ditunda, pemerintah kita yang meminta, baru mau dinegosiasiasi agar penurunannya jangan cepat-cepat," serunya.
Dedi menjelaskan, pada kondisi krisis global saat ini, penerapan bea masuk yang rendah sebagai konsekuensi FTA, maka akan mempengaruhi kepada persaingan produk dalam negeri dengan produk luar.
"Misalnya untuk bea masuk suatu komoditi 7%, terus ada rencana dikurangi menjadi 5%, tahun ini diminta jangan dikurangi dulu, diperlambat dulu. Tapi baru dinegosiasi, belum tentu diterima, Bu Ani sudah bilang begitu," ucapnya.
(hen/ir)
Dalam beberapa tahun terakhir Indonesia sudah melakukan negosiasi penerapan FTA ditingkat ASEAN maupun ditingkat bilateral seperti FTA dengan Jepang (IJEPA), FTA Australia New Zealand dan lain-lain. Pelaksanaan harmonisasi pos tarif untuk masing-masing negara dijadwalkan mulai diberlakukan tahun 2009 seterusnya.
"Memang ada usulan atau pendapat dari berbagai pihak mengenai hal tersebut, dan pemerintah sangat memahami latar belakang dari usulan pendapat tersebut," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam pesan singkatnya kepada detikFinance saat ditanya mengenai sikap pemerintah terhadap usulan penundaan harmonisasi pos tarif, Kamis (29/1/2009).
Usulan penundaan penurunan pos tarif disampaikan oleh kalangan dunia usaha khususnya sektor industri. Kalangan industri menilai penurunan tarif secara cepat akan mengganggu daya saing industri dalam negeri sebagai imbas krisis global.
"Kita ingin menegosiasikan untuk ditunda harmonisasinya, harus dengan semuanya," kata Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI) Departemen Perindustrian (Depperin) Dedi Mulyadi di gedung Depperin.
Diakui Dedi, untuk FTA yang sdah disepakati seperti Jepang terbilang lebih berat dibandingkan dengan FTA yang baru akan disepakati seperti FTA Australia-New Zeland dan lain-lain. "Kalau dengan Jepang agak berat," ungkapnya.
"Kita diminta penurunannya ditunda, pemerintah kita yang meminta, baru mau dinegosiasiasi agar penurunannya jangan cepat-cepat," serunya.
Dedi menjelaskan, pada kondisi krisis global saat ini, penerapan bea masuk yang rendah sebagai konsekuensi FTA, maka akan mempengaruhi kepada persaingan produk dalam negeri dengan produk luar.
"Misalnya untuk bea masuk suatu komoditi 7%, terus ada rencana dikurangi menjadi 5%, tahun ini diminta jangan dikurangi dulu, diperlambat dulu. Tapi baru dinegosiasi, belum tentu diterima, Bu Ani sudah bilang begitu," ucapnya.
(hen/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
