"Pemegang saham sudah menyetujui perubahan rencana pembangkit listrik dari yang semula 10 unit menjadi 2 unit," kata Dirut SMGR, Dwi Soetjipto usai RUPSLB di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Jumat (30/1/2009).
Dwi menjelaskan, perubahan nilai capex disebabkan adanya krisis perekonomian yang diprediksi akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan Indonesia yang akan berdampak pada terbatasnya likuiditas di masyarakat maupun pasar keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya perseroan berencana membangun 2 buah pabrik semen dan 10 pembangkit listrik dengan kapasitas 410 MW.
"Karena kita tidak bisa mendapatkan pendanaan dana pihak ketiga yang memadai untuk proyek-proyek ini, maka kami memutuskan untuk mengoptimalkan dana internal dan mengubah agenda capex," ujarnya.
Setelah perubahan capex ini, SMGR hanya akan membangun 2 PLTU dengan kapasitas 70 MW dengan nilai investasi US$ 114 juta untuk pabrik yang ada di Tonasa, Sulawesi. Satu pabrik lagi rencananya akan dibangun di Pati, Jawa Tengah.
Mengenai rencana melanjutkan buy back saham, Dwi mengatakan perseroan masih mengkaji kemungkinan tersebut. "Jika kami lihat buy back masih baik untuk dilakukan maka kita mungkin akan melanjutkan program buy back," ujarnya. (ir/qom)











































