Mandiri Setia dengan Dividen 50%
Jumat, 30/01/2009 18:13 WIB
Foto: Dadan K/detikFinance
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk akan tetap mempertahankan rasio pemberian dividen sebesar 50 persen dari laba bersihnya. Sementara dividen khusus hingga kini belum diputuskan.
Demikian disampaikan Dirut Mandiri Agus Martowardojo di sela-sela peluncuran e-toll card di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (31/1/2009).
"Kelihatannya pola yang kita ada kebijakannya adalah pembayaran dividen di kisaran 50 persen. Kalau saat lalu itu spesial dividen itu kan sifatnya tidak rutin, yang ingin kita jaga dan memperoleh persetujuan pemegang saham adalah pembayaran di kisaran 50 persen," urai Agus.
Di tempat yang sama, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan bahwa dividen BUMN memang sebagian akan diturunkan dibawah 50%. Menurut Sofyan, yang paling penting dari dividen bukan lah persentasenya, tapi jumlahnya.
"Yang penting jumlahnya kan. Kalau misalnya jumlahnya disepakati, nanti kita distribusikan berapa dan ambil dari mana," ujarnya.
Bahkan sejumlah BUMN kemungkinan tidak akan dipungut dividen, misalnya Jamsostek. Namun ada pula BUMN yang akan dimintakan dividen khusus.
"Ada yang di bawah (50%), ada yang diatas. Nanti kita lihat satu per satu," katanya.
Yang pasti, setoran dividen BUMN itu akan dilihat berdasarkan tingkat keuntungan, kebutuhan pendanaan BUMN bersangkutan dan juga kebutuhan APBN.
Kinerja Mandiri
Agus juga menyatakan, sejauh ini kinerja Mandiri cukup baik, sehingga bank BUMN terbesar itu tidak ada niatan untuk menerbitkan subdebt dalam rangka meningkatkan rasio kecukupan modal atau CAR.
"Itu tidak perlu subdebt karena kita masih punya permodalan kira2 16-17 persen. Jadi kalau seandainya kita lihat kebutuhan baru akan kita keluarkan," katanya.
Selain itu, Mandiri juga memiliki Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang akan cukup untuk mendukung pinjaman valasnya. Per Desember 2008, LDR valas Mandiri mencapai 80% atau turun dibandingkan posisi per tahun 2007 yang sebesar 125%.
"Sekarang ini posisi dana lebih sekitar US$ 1,6 miliar. Jadi kita punya dana valas likuid, jadi kalau ada kebutuhan pendanaan ataupun pelunasan tentu kita dalam posisi melunasi itu. Tapi kita harus hati-hati," katanya.
"Kalau seandainya ada pinjaman luar negeri valas tentu sekarang kalau bisa diperpanjang akan diperpanjang tapi seandainya terlalu mahal kita akan lunasi," imbuh Agus.
Mandiri juga menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 16 persen di tahun 2009. Angka itu berarti revisi dari target sebelumnya.
"Untuk pertumbuhan kredit 2009, waktu budgeting awalnya 22-24 persen, terus turun ke 15-16 persen. Angka finalnya 16 persen," ungkapnya.
Menurutnya, Mandiri melakukan revisi target pertumbuhan kredit setelah mendengar rencana IMF untuk menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia.
"Ini membuat semua orang takut. Posisi 16 persen ini yang kita yakin berada di posisi yang wajar," kata Agus.
(ang/qom)
Demikian disampaikan Dirut Mandiri Agus Martowardojo di sela-sela peluncuran e-toll card di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (31/1/2009).
"Kelihatannya pola yang kita ada kebijakannya adalah pembayaran dividen di kisaran 50 persen. Kalau saat lalu itu spesial dividen itu kan sifatnya tidak rutin, yang ingin kita jaga dan memperoleh persetujuan pemegang saham adalah pembayaran di kisaran 50 persen," urai Agus.
Di tempat yang sama, Menneg BUMN Sofyan Djalil mengatakan bahwa dividen BUMN memang sebagian akan diturunkan dibawah 50%. Menurut Sofyan, yang paling penting dari dividen bukan lah persentasenya, tapi jumlahnya.
"Yang penting jumlahnya kan. Kalau misalnya jumlahnya disepakati, nanti kita distribusikan berapa dan ambil dari mana," ujarnya.
Bahkan sejumlah BUMN kemungkinan tidak akan dipungut dividen, misalnya Jamsostek. Namun ada pula BUMN yang akan dimintakan dividen khusus.
"Ada yang di bawah (50%), ada yang diatas. Nanti kita lihat satu per satu," katanya.
Yang pasti, setoran dividen BUMN itu akan dilihat berdasarkan tingkat keuntungan, kebutuhan pendanaan BUMN bersangkutan dan juga kebutuhan APBN.
Kinerja Mandiri
Agus juga menyatakan, sejauh ini kinerja Mandiri cukup baik, sehingga bank BUMN terbesar itu tidak ada niatan untuk menerbitkan subdebt dalam rangka meningkatkan rasio kecukupan modal atau CAR.
"Itu tidak perlu subdebt karena kita masih punya permodalan kira2 16-17 persen. Jadi kalau seandainya kita lihat kebutuhan baru akan kita keluarkan," katanya.
Selain itu, Mandiri juga memiliki Dana Pihak Ketiga (DPK) valas yang akan cukup untuk mendukung pinjaman valasnya. Per Desember 2008, LDR valas Mandiri mencapai 80% atau turun dibandingkan posisi per tahun 2007 yang sebesar 125%.
"Sekarang ini posisi dana lebih sekitar US$ 1,6 miliar. Jadi kita punya dana valas likuid, jadi kalau ada kebutuhan pendanaan ataupun pelunasan tentu kita dalam posisi melunasi itu. Tapi kita harus hati-hati," katanya.
"Kalau seandainya ada pinjaman luar negeri valas tentu sekarang kalau bisa diperpanjang akan diperpanjang tapi seandainya terlalu mahal kita akan lunasi," imbuh Agus.
Mandiri juga menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 16 persen di tahun 2009. Angka itu berarti revisi dari target sebelumnya.
"Untuk pertumbuhan kredit 2009, waktu budgeting awalnya 22-24 persen, terus turun ke 15-16 persen. Angka finalnya 16 persen," ungkapnya.
Menurutnya, Mandiri melakukan revisi target pertumbuhan kredit setelah mendengar rencana IMF untuk menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia.
"Ini membuat semua orang takut. Posisi 16 persen ini yang kita yakin berada di posisi yang wajar," kata Agus.
(ang/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
