6 Poin untuk Memilih Reksa Dana
Kamis, 05/02/2009 10:50 WIB
Foto: Taufik Gumulya
Jakarta - Dalam ilmu perencana keuangan, reksa dana merupakan suatu pilihan kendaraan yang dapat digunakan agar mencapai target kebutuhan dana dikemudian hari.
Untuk mengetahui reksa dana yang baik tentu ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh investor yakni:
1. Return yang merupakan kinerja reksadana secara historis harus optimal, sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapinya, contoh Reksa dana Saham (RDS) lebih beresiko dibanding dengan Reksa dana Pendapatan Tetap (RDPT) namun Reksadana Pendapatan Tetap lebih berisiko dari Reksa dana Pasar Uang (RDPU). Tolok ukur (Benchmark) return harus relevan dengan jenis reksa dana tersebut, contoh:
Satu hal yang mesti dimengerti bahwa kinerja masa lampau (historis) bukan merupakan jaminan bagi pencapaian dimasa mendatang (dapat lebih tinggi atau lebih rendah) namun kinerja atau return secara historis merupakan hasil kerja berjalan atas reksadana tersebut.
2. Sharpe Ratio (SR), mengukur konsistensi dari kinerja return dalam jangka yg relatif panjang. Untuk menghitung ini wajib menghitung Standar Deviasi (SD) terlebih dahulu. Jadi 'excess' return dari Reksa dana (RD) tsb terhadap instrumen yang relatif bebas resiko (Sertifikat Bank Indonesia) dibagi dengan SD.
Catatan (metode Risk and Return): SD semakin rendah berarti RD relatif tidak berisiko, sedangkan SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik.
3. Portfolio, evaluasi apakah memiliki likuiditas yang relatif tinggi, untuk portfolio obligasi dilihat ratingnya, untuk saham sebaiknya dilihat apakah termasuk dalam LQ45 (Indeks LQ45 adalah saham yang liquid, mudah untuk di jual-beli serta memiliki nilai kapitalisasi yang besar).
4. Jumlah Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) menunjukan seberapa besar kepercayaan masyarakat terhadap RD tersebut (sesuai dengan lamanya RD dan kecanggihan tenaga pemasar RD tsb tentunya). Kalau dari sudut pandang kami faktor pertumbuhan/perkembangan dana juga harus diperhatikan, sebaiknya kita minta data pertumbuhan AUM terlebih dahulu selain kita lihat perkembangan returnnya dalam kurun waktu tertentu. Perlu dicatat bahwa semakin besar AUM maka return berpotensi melambat.
5. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription), biaya manajemen, biaya switching (jika ada) serta biaya keluar (redemption).
6. Perhatikan komposisi investasi, yang dimaksud adalah harus sesuai dengan prospektus RD tsb. Beberapa RD (tidak banyak) kadang melanggar batas komposisinya walau hanya sedikit. Ada hal menarik yang harus diperhatikan yakni ketentuan Bapepam minimal 2% dari AUM harus berbentuk kas.
Lalu bagaimana kita mengetahui semua kondisi tersebut diatas? Hal ini dapat ditanyakan langsung melalui Agen Penjual Reksa dana atau langsung ke Manajer Investasi yang bersangkutan. Selain itu dapat dilihat di situs (website) Bapepam-LK jika kanal Pusat Informasi Reksadana yang disediakan oleh sudah pulih (saat berita ini ditulis kanal tersebut dalam perbaikan).
Taufik Gumulya, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services
(qom/qom)
Untuk mengetahui reksa dana yang baik tentu ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh investor yakni:
1. Return yang merupakan kinerja reksadana secara historis harus optimal, sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapinya, contoh Reksa dana Saham (RDS) lebih beresiko dibanding dengan Reksa dana Pendapatan Tetap (RDPT) namun Reksadana Pendapatan Tetap lebih berisiko dari Reksa dana Pasar Uang (RDPU). Tolok ukur (Benchmark) return harus relevan dengan jenis reksa dana tersebut, contoh:
- IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dengan RDS;
- Indeks Obligasi (Pemerintah dan Swasta) dengan RDPT,
- Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan RDPU.
Satu hal yang mesti dimengerti bahwa kinerja masa lampau (historis) bukan merupakan jaminan bagi pencapaian dimasa mendatang (dapat lebih tinggi atau lebih rendah) namun kinerja atau return secara historis merupakan hasil kerja berjalan atas reksadana tersebut.
2. Sharpe Ratio (SR), mengukur konsistensi dari kinerja return dalam jangka yg relatif panjang. Untuk menghitung ini wajib menghitung Standar Deviasi (SD) terlebih dahulu. Jadi 'excess' return dari Reksa dana (RD) tsb terhadap instrumen yang relatif bebas resiko (Sertifikat Bank Indonesia) dibagi dengan SD.
Catatan (metode Risk and Return): SD semakin rendah berarti RD relatif tidak berisiko, sedangkan SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik.
3. Portfolio, evaluasi apakah memiliki likuiditas yang relatif tinggi, untuk portfolio obligasi dilihat ratingnya, untuk saham sebaiknya dilihat apakah termasuk dalam LQ45 (Indeks LQ45 adalah saham yang liquid, mudah untuk di jual-beli serta memiliki nilai kapitalisasi yang besar).
4. Jumlah Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) menunjukan seberapa besar kepercayaan masyarakat terhadap RD tersebut (sesuai dengan lamanya RD dan kecanggihan tenaga pemasar RD tsb tentunya). Kalau dari sudut pandang kami faktor pertumbuhan/perkembangan dana juga harus diperhatikan, sebaiknya kita minta data pertumbuhan AUM terlebih dahulu selain kita lihat perkembangan returnnya dalam kurun waktu tertentu. Perlu dicatat bahwa semakin besar AUM maka return berpotensi melambat.
5. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription), biaya manajemen, biaya switching (jika ada) serta biaya keluar (redemption).
6. Perhatikan komposisi investasi, yang dimaksud adalah harus sesuai dengan prospektus RD tsb. Beberapa RD (tidak banyak) kadang melanggar batas komposisinya walau hanya sedikit. Ada hal menarik yang harus diperhatikan yakni ketentuan Bapepam minimal 2% dari AUM harus berbentuk kas.
Lalu bagaimana kita mengetahui semua kondisi tersebut diatas? Hal ini dapat ditanyakan langsung melalui Agen Penjual Reksa dana atau langsung ke Manajer Investasi yang bersangkutan. Selain itu dapat dilihat di situs (website) Bapepam-LK jika kanal Pusat Informasi Reksadana yang disediakan oleh sudah pulih (saat berita ini ditulis kanal tersebut dalam perbaikan).
Taufik Gumulya, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
