Penerapan Standar Nasional Kartu ATM dan Debet Dimulai
Jumat, 06/02/2009 11:21 WIB
(Foto: Wahyu-detikFinance)
Jakarta - Setelah kurang lebih 2 tahun digodok, Standarisasi Nasional kartu debet dan ATM yang berbasis chip akhirnya diimplementasikan. Sistem pembayaran berbasis chip ini merupakan sebuah batu loncatan dalam perkembangan industri di Indonesia.
"Dengan telah disusunnya standar nasional kartu ATM/Debet berbasis chip maka diharapkan dapat lebih memudahkan dalam mewujudkan kesesuaian pengoperasian antar operator (interoperability) di masa yang akan datang," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, S.Budi Rochadi, dalam acara Implementasi Standar Nasional kartu ATM dan kartu debet berbasis chip di Indonesia, di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (6/2/09).
Tidak seperti kartu kredit pada umumnya yang mengikuti standar EMV dan aplikasi principal Visa/Master yang berlaku internasional, untuk kartu ATM/Debet ini perlu ditetapkan secara nasional oleh industri.
"Penetapan standar sebagai acuan untuk seluruh penerbit kartu ATM/Debet di Indonesia selanjutnya akan diatur dalam revisi ketentuan Bank Indonesia mengenai alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi," tambah Budi.
Upaya awal penyusunan standar nasional untuk kartu ATM/Debet yang berbasis chip sudah dilakukan sejak tahun 2006. Atas kesepakatan industri perbankan melalui forum komunikasi sistem pembayaran (FSKPN) bank-bank sepakat untuk memberikan mandat kepada tiga perusahaan switching. Ketiga perusahaan itu yaitu PT Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama), PT Rintis Sejahtera (Prima) dan PT Daya Network Lestari (Alto) untuk menyusun standar nasional yang dimaksud.
"Diharapkan dimasa mendatang bila standarsasi telah dilakukan maka nantinya pemegang dapat melakukan transaksi disemua ATM dan semua bank," jelas Budi.
Budi juga menjelaskan kartu debet ini berbeda dari kartu kredit karena diubah standarnya. Penerapan implementasi ini paling besar biaya yang dikeluarkan untuk sistem karena harus memperbarui sistemnya.
Karena biayanya cukup besar, penerapannya dilakukan secara bertahap, sedangkan pelaksanaan migrasinya dibebaskan kepada industri perbankan.
Menurutnya, untuk migrasi biaya tiap kartu sebesar US$ 2 yang pembayaran tergantung dari bank tersebut apakah dibebankan kepada nasabah atau tidak.
Saat ini jumlah pengguna kartu ATM/debet sebanyak 30 juta-40 juta kartu.
(ir/qom)
"Dengan telah disusunnya standar nasional kartu ATM/Debet berbasis chip maka diharapkan dapat lebih memudahkan dalam mewujudkan kesesuaian pengoperasian antar operator (interoperability) di masa yang akan datang," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, S.Budi Rochadi, dalam acara Implementasi Standar Nasional kartu ATM dan kartu debet berbasis chip di Indonesia, di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (6/2/09).
Tidak seperti kartu kredit pada umumnya yang mengikuti standar EMV dan aplikasi principal Visa/Master yang berlaku internasional, untuk kartu ATM/Debet ini perlu ditetapkan secara nasional oleh industri.
"Penetapan standar sebagai acuan untuk seluruh penerbit kartu ATM/Debet di Indonesia selanjutnya akan diatur dalam revisi ketentuan Bank Indonesia mengenai alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang saat ini sedang dalam tahap finalisasi," tambah Budi.
Upaya awal penyusunan standar nasional untuk kartu ATM/Debet yang berbasis chip sudah dilakukan sejak tahun 2006. Atas kesepakatan industri perbankan melalui forum komunikasi sistem pembayaran (FSKPN) bank-bank sepakat untuk memberikan mandat kepada tiga perusahaan switching. Ketiga perusahaan itu yaitu PT Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama), PT Rintis Sejahtera (Prima) dan PT Daya Network Lestari (Alto) untuk menyusun standar nasional yang dimaksud.
"Diharapkan dimasa mendatang bila standarsasi telah dilakukan maka nantinya pemegang dapat melakukan transaksi disemua ATM dan semua bank," jelas Budi.
Budi juga menjelaskan kartu debet ini berbeda dari kartu kredit karena diubah standarnya. Penerapan implementasi ini paling besar biaya yang dikeluarkan untuk sistem karena harus memperbarui sistemnya.
Karena biayanya cukup besar, penerapannya dilakukan secara bertahap, sedangkan pelaksanaan migrasinya dibebaskan kepada industri perbankan.
Menurutnya, untuk migrasi biaya tiap kartu sebesar US$ 2 yang pembayaran tergantung dari bank tersebut apakah dibebankan kepada nasabah atau tidak.
Saat ini jumlah pengguna kartu ATM/debet sebanyak 30 juta-40 juta kartu.
(ir/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
