Industri Bola yang Terus Menggelinding
Selasa, 10/02/2009 15:55 WIB
Foto: AFP
Jakarta - Di tengah hantaman krisis global, industri bola kaki masih terus eksis. Produksi bola nasional saat ini terus meningkat bahkan ekspor ke beberapa negara tradisional seperti Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin masih tetap berjalan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Olahraga Nasional Indonesia (Asioni) Irwan Suryanto kepada detikFinance, saat ditemui di Gedung Departemen Perindustrian Selasa (10/2/2009).
"Nggak ada masalah, ekspor belum ada penurunan. Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin masih jalan, moga-moga tahun ini nggak terpengaruh," katanya.
Bahkan dengan jujur Irwan mengatakan, faktor kurs rupiah yang melemah terhadap dollar AS justru menguntungkan, industri sepak bola, karena selama ini 90% produk bola di ekspor ke luar negeri.
Pemilik industri bola merek 'Triple S' ini mengaku produksi bolanya saat ini mencapai maksimal 100.000 per bulan. Bahkan tahun ini ia berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan mengembangkan produk bola futsal.
"Melemahnya kurs dari 9100 sampai 11.000 atau naik 20%, ini moment untuk meningkatkan gaji karyawan," ujarnya.
Meskipun masih terlihat aman, ia mencoba mengubah strategi sebagai antisipasi krisis yaitu dengan memaksimalkan peluang pasar dalam negeri, diantaranya dengan mengurangi komposisi ekspor dan meningkatkan komposisi pasar dalam negeri.
"Tahun ini kita coba ubah strategi ekspor, ada rencana pengalihan komposisi, kalau memungkinkan sama-sama 50%," imbuhnya.
Irwan menambahkan, sektor industri bola saat ini relatif tertolong karena ekspor bola Indonesia tidak ditujukan ke pasar AS maupun Eropa yang merupakan negara-negara yang terkena krisis. Selain itu, sektor ini juga lebih banyak menggunakan bahan baku lokal, yang mencapai 85% sedangkan impor 15% khusunya untuk karet bagian dalam bola.
Berdasarkan pengalamannya melanglang buana, di industri bola kaki berbasis ekspor. Ia mengakui negara pesaing terberat berasal dari India dan Pakistan yang mampu memproduksi 120.000 bola per hari.
"Kalau di pabrik saya saja hanya 650.000 setahun, tapi kalau skala nasional produksinya 2 juta buah," imbuhnya.
Khusus merek Triple S yang ia miliki, pada tahun 2008 produksinya mengalami kenaikan 10% dari tahun 2007. Pada tahun ini ia berharap masih ada kenaikan diangka yang sama.
Mengenai harga, dikatakannya produk bola Indonesia relatif kompetitif yaitu berada dikisaran US$ 3 sampai US$ 7 dollar (untuk yang premium) per buah. Maka tidak heran, negara-negara Amerika Latin yang mempunyai kebutuhan bola mencapai 500.000 per bulannya. Sebagian besar dipasok dari bola Indonesia.
Pria yang selalu berpeci hitam ini mengaku omset penjualan bola kakinya bisa mencapai Rp 20 miliar per tahun. Bahkan dengan rencananya mengembangkan produksi bola futsal yang saat ini masih dalam jumlah kecil, ia yakin omsetnya akan terus membesar.
Siap Menyongsong Piala Dunia 2022
Mendengar kabar Indonesia mencalonkan diri menjadi tuan rumah piala dunia 2022, Irwan sangat senang sekali. Bahkan ia berkeinginan Indonesia benar-benar terpilih sebagai tuan rumah piala dunia sepak bola. Paling tidak produksi bola asal Majalengka-nya bisa dipakai secara resmi.
"Saya berharap Indonesia terpilih," harapnya.
(hen/qom)
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Olahraga Nasional Indonesia (Asioni) Irwan Suryanto kepada detikFinance, saat ditemui di Gedung Departemen Perindustrian Selasa (10/2/2009).
"Nggak ada masalah, ekspor belum ada penurunan. Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin masih jalan, moga-moga tahun ini nggak terpengaruh," katanya.
Bahkan dengan jujur Irwan mengatakan, faktor kurs rupiah yang melemah terhadap dollar AS justru menguntungkan, industri sepak bola, karena selama ini 90% produk bola di ekspor ke luar negeri.
Pemilik industri bola merek 'Triple S' ini mengaku produksi bolanya saat ini mencapai maksimal 100.000 per bulan. Bahkan tahun ini ia berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan mengembangkan produk bola futsal.
"Melemahnya kurs dari 9100 sampai 11.000 atau naik 20%, ini moment untuk meningkatkan gaji karyawan," ujarnya.
Meskipun masih terlihat aman, ia mencoba mengubah strategi sebagai antisipasi krisis yaitu dengan memaksimalkan peluang pasar dalam negeri, diantaranya dengan mengurangi komposisi ekspor dan meningkatkan komposisi pasar dalam negeri.
"Tahun ini kita coba ubah strategi ekspor, ada rencana pengalihan komposisi, kalau memungkinkan sama-sama 50%," imbuhnya.
Irwan menambahkan, sektor industri bola saat ini relatif tertolong karena ekspor bola Indonesia tidak ditujukan ke pasar AS maupun Eropa yang merupakan negara-negara yang terkena krisis. Selain itu, sektor ini juga lebih banyak menggunakan bahan baku lokal, yang mencapai 85% sedangkan impor 15% khusunya untuk karet bagian dalam bola.
Berdasarkan pengalamannya melanglang buana, di industri bola kaki berbasis ekspor. Ia mengakui negara pesaing terberat berasal dari India dan Pakistan yang mampu memproduksi 120.000 bola per hari.
"Kalau di pabrik saya saja hanya 650.000 setahun, tapi kalau skala nasional produksinya 2 juta buah," imbuhnya.
Khusus merek Triple S yang ia miliki, pada tahun 2008 produksinya mengalami kenaikan 10% dari tahun 2007. Pada tahun ini ia berharap masih ada kenaikan diangka yang sama.
Mengenai harga, dikatakannya produk bola Indonesia relatif kompetitif yaitu berada dikisaran US$ 3 sampai US$ 7 dollar (untuk yang premium) per buah. Maka tidak heran, negara-negara Amerika Latin yang mempunyai kebutuhan bola mencapai 500.000 per bulannya. Sebagian besar dipasok dari bola Indonesia.
Pria yang selalu berpeci hitam ini mengaku omset penjualan bola kakinya bisa mencapai Rp 20 miliar per tahun. Bahkan dengan rencananya mengembangkan produksi bola futsal yang saat ini masih dalam jumlah kecil, ia yakin omsetnya akan terus membesar.
Siap Menyongsong Piala Dunia 2022
Mendengar kabar Indonesia mencalonkan diri menjadi tuan rumah piala dunia 2022, Irwan sangat senang sekali. Bahkan ia berkeinginan Indonesia benar-benar terpilih sebagai tuan rumah piala dunia sepak bola. Paling tidak produksi bola asal Majalengka-nya bisa dipakai secara resmi.
"Saya berharap Indonesia terpilih," harapnya.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
