Depdag-Depperin Memanas Gara-Gara Isu Proteksionisme
Rabu, 18/02/2009 14:42 WIB
Jakarta - Setelah Pertamina versus Komisi VII DPR RI, kini giliran hubungan Departemen Perdagangan (Depdag) dengan Departemen Perindustrian (Depperin) yang memanas. Kali ini pemicunya adalah menyangkut persepsi isu proteksionisme.
Seperti diketahui Departemen Perindustrian sedang menggodok regulasi berupa juknis mengenai penjabaran inpres No 2 tahun 2009 mengenai penggunaan produk dalam negeri. Selain itu, muncul pula kabar akan keluarnya surat keputusan bersama (SKB) yang diantaranya mengatur kewajiban penggunaan barang dalam negeri bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengarah pada upaya proteksionisme.
Hal ini rupanya menjadi persepsi yang berbeda antara kedua departemen tersebut. Departemen Perdagangan sangat menghindari tindakan-tindakan ke arah proteksionisme yang justru diharamkan oleh WTO.
Kemarin Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu membantah adanya penerapan kewajiban penggunaan produk sepatu lokal bagi PNS.
"Eh tiba-tiba ketika saya katakan mau himbau PNS beli sepatu dalam negeri, heboh! Yang heboh temen saya menteri lagi, cilaka," ucap Fahmi dengan emosi dalam acara rapat kerja Departemen Perindustrian di Jakarta, Rabu (18/2/2009).
Dikatakan Fahmi, masalah ini tidak terlepas dari perbedaan pandangan mengenai cara menghadapi krisis antara kedua departemen ini. Namun menurutnya, bila mengaca pada negara-negara lain di dunia saat ini semuanya sudah mengarah pada proteksionisme sehingga tidak ada alasan Indonesia tidak melakukan hal yang sama. Seperti diketahui, Amerika kini juga sedang menerapkan 'Buy American' yang merupakan slogan menyerupai 'Aku Cinta Produk Lokal'.
"Beberapa negara lakukan berbagai upaya yang sebaliknya dari konsep ekonomi yang dicanangkannya. Contohnya Amerika itu kan bersikap liberal anti-proteksionisme, begitu peristiwa dahsyat menimpa, Amerika menjadi proteksionistis, dan itu menjadi hal yang belum pernah dilakukan sejak puluhan tahun lalu," paparnya panjang lebar.
Ia mengatakan Amerika saja yang rajanya liberal sudah memberikan langkah bailout yang luar biasa, yang merupakan gambaran dari upaya proteksionisme.
"Padahal Amerika yang sponsor WTO lakukan itu, begitu pula Singapura dan Jepang, ada yang salah dalam pola berpikir kita, dan itu teman saya menteri. Kecewa saya. Bagaimana bisa kita lindungi krisis di keluarga kita, lindungi keluarga kita dulu, baru tetangga," seru Fahmi.
Kisruh ini juga semakin memanas setelah salah satu pejabat eselon 1 Departemen Perindustrian diminta harus mencabut pernyataannya oleh pejabat setingkat yang sama di Departemen Perdagangan mengenai pernyataan proteksionisme yang tengah dilakukan oleh Indonesia.
"Saudara Fauzi (Dirjen IKM) dikritik untuk mencabut statement. Dan saya bilang, nggak usah takut, toh komandannya saya,saya yang tanggung jawab. Kita harus lindungi perekonomian negara kita. WTO untuk sementara lupakan dalu. Amerika saja nggak ngerti apa itu WTO," pungkasnya.
(hen/qom)
Seperti diketahui Departemen Perindustrian sedang menggodok regulasi berupa juknis mengenai penjabaran inpres No 2 tahun 2009 mengenai penggunaan produk dalam negeri. Selain itu, muncul pula kabar akan keluarnya surat keputusan bersama (SKB) yang diantaranya mengatur kewajiban penggunaan barang dalam negeri bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengarah pada upaya proteksionisme.
Hal ini rupanya menjadi persepsi yang berbeda antara kedua departemen tersebut. Departemen Perdagangan sangat menghindari tindakan-tindakan ke arah proteksionisme yang justru diharamkan oleh WTO.
Kemarin Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu membantah adanya penerapan kewajiban penggunaan produk sepatu lokal bagi PNS.
"Eh tiba-tiba ketika saya katakan mau himbau PNS beli sepatu dalam negeri, heboh! Yang heboh temen saya menteri lagi, cilaka," ucap Fahmi dengan emosi dalam acara rapat kerja Departemen Perindustrian di Jakarta, Rabu (18/2/2009).
Dikatakan Fahmi, masalah ini tidak terlepas dari perbedaan pandangan mengenai cara menghadapi krisis antara kedua departemen ini. Namun menurutnya, bila mengaca pada negara-negara lain di dunia saat ini semuanya sudah mengarah pada proteksionisme sehingga tidak ada alasan Indonesia tidak melakukan hal yang sama. Seperti diketahui, Amerika kini juga sedang menerapkan 'Buy American' yang merupakan slogan menyerupai 'Aku Cinta Produk Lokal'.
"Beberapa negara lakukan berbagai upaya yang sebaliknya dari konsep ekonomi yang dicanangkannya. Contohnya Amerika itu kan bersikap liberal anti-proteksionisme, begitu peristiwa dahsyat menimpa, Amerika menjadi proteksionistis, dan itu menjadi hal yang belum pernah dilakukan sejak puluhan tahun lalu," paparnya panjang lebar.
Ia mengatakan Amerika saja yang rajanya liberal sudah memberikan langkah bailout yang luar biasa, yang merupakan gambaran dari upaya proteksionisme.
"Padahal Amerika yang sponsor WTO lakukan itu, begitu pula Singapura dan Jepang, ada yang salah dalam pola berpikir kita, dan itu teman saya menteri. Kecewa saya. Bagaimana bisa kita lindungi krisis di keluarga kita, lindungi keluarga kita dulu, baru tetangga," seru Fahmi.
Kisruh ini juga semakin memanas setelah salah satu pejabat eselon 1 Departemen Perindustrian diminta harus mencabut pernyataannya oleh pejabat setingkat yang sama di Departemen Perdagangan mengenai pernyataan proteksionisme yang tengah dilakukan oleh Indonesia.
"Saudara Fauzi (Dirjen IKM) dikritik untuk mencabut statement. Dan saya bilang, nggak usah takut, toh komandannya saya,saya yang tanggung jawab. Kita harus lindungi perekonomian negara kita. WTO untuk sementara lupakan dalu. Amerika saja nggak ngerti apa itu WTO," pungkasnya.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
