Wall Street Masih Berakhir 'Merah'
Kamis, 26/02/2009 07:05 WIB
Foto: Reuters
New York - Saham-saham di Wall Street masih berakhir di teritori negatif, karena investor masih mengkhawatirkan nasib perbankan plus angka penjualan rumah yang lebih rendah dari ekspektasi.
Perdagangan di Wall Street diawali dengan penurunan yang tajam dan bergerak dengan sangat bergejolak. Wall Street sedikit membaik setelah ketidakpastian tentang nasib perbankan ditegaskan oleh Menkeu AS yang menyatakan akan mulai melakukan 'Stress Test' pada perbankan.
Pada perdagangan Rabu (25/2/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 80,05 poin (1,09%) ke level 7.270,89. Indeks Standard & Poor's 500 juga turun 8,24 poin (1,07%) ke level 764,90 dan Nasdaq turun 16,40 poin (1,14%) ke level 1.425,43.
Penjualan rumah di AS turun lebih besar dari ekspektasi pada Januari. Penjualan rumah turun 5,3% atau secara rata-rata tahunan mencapai 4,49 juta, turun dibandingkan Desember yang sebesar 4,74 juta. Angka ini terendah sejak tahun 1997. Saham-saham konstruksi pun lagsung melemah. Indeks Kontruksi Rumah di Dow Jones turun hingga 2,1%, sementara United Technologies dan Caterpillar turun lebih dari 3%.
Pidato Presiden Barack Obama yang dilakukan menjelang sesi-sesi akhir perdagangan juga tak mampu menyelamatkan Wall Street. Komentar Obama justru direspons negatif oleh pasar ketika dia menyatakan bahwa institusi keuangan yang menghadapi risiko serius akan mendapat pengawasan serius dari pemerintah.
"Ketika ada pertanyaan tentang seberapa besar peranan pemerintah (dalam institusi swasta), maka pasar tidak menyukainya," ujar Peter Kenny, analia dari Knight Equity seperti dikutip dari Reuters, Kamis (26/2/2009).
Rencana melakukan 'Stress Test' yang diumumkan oleh Menkeu AS Timothy Geithner membuat saham-saham perbankan menguat. Stress Test merupakan elemen kunci bagi program penyelamatan perbankan yang diumumkan pemerintahan Obama.
Saham Bank of America melonjak 9 persen, JPMorgan naik 3,4%. Namun penguatan ini lebih rendah ketimbang di awal-awal perdagangan, akibat pernyataan dari Obama.
Perdagangan cukup aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,8 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,43 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
(qom/qom)
Perdagangan di Wall Street diawali dengan penurunan yang tajam dan bergerak dengan sangat bergejolak. Wall Street sedikit membaik setelah ketidakpastian tentang nasib perbankan ditegaskan oleh Menkeu AS yang menyatakan akan mulai melakukan 'Stress Test' pada perbankan.
Pada perdagangan Rabu (25/2/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 80,05 poin (1,09%) ke level 7.270,89. Indeks Standard & Poor's 500 juga turun 8,24 poin (1,07%) ke level 764,90 dan Nasdaq turun 16,40 poin (1,14%) ke level 1.425,43.
Penjualan rumah di AS turun lebih besar dari ekspektasi pada Januari. Penjualan rumah turun 5,3% atau secara rata-rata tahunan mencapai 4,49 juta, turun dibandingkan Desember yang sebesar 4,74 juta. Angka ini terendah sejak tahun 1997. Saham-saham konstruksi pun lagsung melemah. Indeks Kontruksi Rumah di Dow Jones turun hingga 2,1%, sementara United Technologies dan Caterpillar turun lebih dari 3%.
Pidato Presiden Barack Obama yang dilakukan menjelang sesi-sesi akhir perdagangan juga tak mampu menyelamatkan Wall Street. Komentar Obama justru direspons negatif oleh pasar ketika dia menyatakan bahwa institusi keuangan yang menghadapi risiko serius akan mendapat pengawasan serius dari pemerintah.
"Ketika ada pertanyaan tentang seberapa besar peranan pemerintah (dalam institusi swasta), maka pasar tidak menyukainya," ujar Peter Kenny, analia dari Knight Equity seperti dikutip dari Reuters, Kamis (26/2/2009).
Rencana melakukan 'Stress Test' yang diumumkan oleh Menkeu AS Timothy Geithner membuat saham-saham perbankan menguat. Stress Test merupakan elemen kunci bagi program penyelamatan perbankan yang diumumkan pemerintahan Obama.
Saham Bank of America melonjak 9 persen, JPMorgan naik 3,4%. Namun penguatan ini lebih rendah ketimbang di awal-awal perdagangan, akibat pernyataan dari Obama.
Perdagangan cukup aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,8 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,43 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
