Kinerja Reksa Dana Stabil
Rabu, 11/03/2009 10:40 WIB
(Foto: dok detikFinance)
Jakarta - Investasi reksa dana sejak awal tahun 2009 terlihat stabil. Bahkan pada Januari 2009 ada tambahan nilai aktiva bersih (NAB) Rp 300 miliar hingga posisinya menjadi Rp 74,3 triliun.
Kinerja yang membaik ini khususnya ditopang oleh reksa dana terproteksi yang masih memiliki peluang untuk tumbuh tinggi.
Selain itu, faktor lain yang diharapkan dapat mengangkat kinerja reksa dana lebih lanjut adalah kebijakan pengenaan PPh final sebesar 0% untuk bunga dan diskonto atas obligasi yang diperoleh pada tahun 2009-2010.
Demikian ulasan tinjauan kebijakan moneter BI per Maret 2009 yang dikutip, Rabu (11/3/2009).
Surat Utang Negara
Secara umum pasar SUN masih mengalami tekanan pada Februari 2009, walaupun kinerjanya mulai membaik pada akhir laporan. Hal tersebut tercermin dalam kenaikan rata-rata bulanan yield SUN secara merata di semua tenor pada bulan Februari 2009.
Aktivitas portfolio adjustment investor asing terhadap aset di emerging market ke arah corporate bond dan government bond AS yang masih tinggi, menjadi pemicu meningkatnya yield SUN tersebut.
Dalam perkembangannya, memasuki akhir Februari 2009, yield SUN kembali turun seiring dengan ekspektasi penurunan BI Rate dan meredanya risiko eksternal. Namun demikian dalam keseluruhan periode laporan rata-rata yield SUN
menunjukkan peningkatan sebesar 174 bps untuk keseluruhan tenor.
Sementara itu, apabila hanya melihat SUN dengan tenor jangka panjang saja, yield SUN mengalami kenaikan lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 202 bps.
Kondisi yang terjadi di pasar SUN sejalan dengan perkembangan likuiditasnya. Hal tersebut tercermin pada relatif stabilnya rata-rata volume perdagangan SUN.
Pada Februari 2009, volume perdagangan SUN tercatat sebesar Rp 2,8 triliun, relatif stabil jika dibandingkan dengan posisi Januari 2009 yang tercatat sebesar Rp 2,7 triliun.
Sementara itu, frekuensi rata-rata harian perdagangan SUN tercatat sebesar 47 kali pada Februari 2009, atau turun dibandingkan dengan Januari 2009 yang sebesar 53 kali.
Hal tersebut merupakan indikasi bahwa pelaku pasar masih cenderung wait and see dalam menyikapi volatilitas pasar keuangan global.
Faktor domestik yang relatif terjaga, seperti meredanya ekspektasi inflasi sebagai dampak lanjutan dari penurunan harga BBM bersubsidi, mulai membaiknya persepsi pasar terhadap prospek pembiayaan APBN 2009, tidak mampu menahan penurunan kinerja SUN.
Selain itu, penurunan posisi SUN yang dimiliki oleh asing turut mengganggu pulihnya kepercayaan pelaku pasar yang pada akhirnya berpengaruh pada likuiditas di pasar tersebut. Gejolak pasar keuangan global yang masih berlanjut menyebabkan investor asing membukukan net jual sebesar Rp 5,1 triliun pada Februari 2009.
Namun kondisi tersebut diimbangi oleh kondisi ekses likuiditas perbankan di awal tahun yang dibarengi dengan pembelian SUN oleh Bank Indonesia, akhirnya mengangkat kembali kinerja SUN di akhir Februari 2009. Dalam hal ini Bank Rekap dan reksa dana menjadi counterparty asing dan SUN di pasar perdana dengan masingmasing membukukan net beli sebesar Rp9,1 triliun dan Rp 1,7 triliun.
Sementara itu, pembelian oleh Bank Indonesia, meskipun relatif minimal namun dipandang memiliki momentum yang tepat, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan pasar terkait dengan peran Bank Sentral terhadap stabilitas harga SUN.
(ir/qom)
Kinerja yang membaik ini khususnya ditopang oleh reksa dana terproteksi yang masih memiliki peluang untuk tumbuh tinggi.
Selain itu, faktor lain yang diharapkan dapat mengangkat kinerja reksa dana lebih lanjut adalah kebijakan pengenaan PPh final sebesar 0% untuk bunga dan diskonto atas obligasi yang diperoleh pada tahun 2009-2010.
Demikian ulasan tinjauan kebijakan moneter BI per Maret 2009 yang dikutip, Rabu (11/3/2009).
Surat Utang Negara
Secara umum pasar SUN masih mengalami tekanan pada Februari 2009, walaupun kinerjanya mulai membaik pada akhir laporan. Hal tersebut tercermin dalam kenaikan rata-rata bulanan yield SUN secara merata di semua tenor pada bulan Februari 2009.
Aktivitas portfolio adjustment investor asing terhadap aset di emerging market ke arah corporate bond dan government bond AS yang masih tinggi, menjadi pemicu meningkatnya yield SUN tersebut.
Dalam perkembangannya, memasuki akhir Februari 2009, yield SUN kembali turun seiring dengan ekspektasi penurunan BI Rate dan meredanya risiko eksternal. Namun demikian dalam keseluruhan periode laporan rata-rata yield SUN
menunjukkan peningkatan sebesar 174 bps untuk keseluruhan tenor.
Sementara itu, apabila hanya melihat SUN dengan tenor jangka panjang saja, yield SUN mengalami kenaikan lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 202 bps.
Kondisi yang terjadi di pasar SUN sejalan dengan perkembangan likuiditasnya. Hal tersebut tercermin pada relatif stabilnya rata-rata volume perdagangan SUN.
Pada Februari 2009, volume perdagangan SUN tercatat sebesar Rp 2,8 triliun, relatif stabil jika dibandingkan dengan posisi Januari 2009 yang tercatat sebesar Rp 2,7 triliun.
Sementara itu, frekuensi rata-rata harian perdagangan SUN tercatat sebesar 47 kali pada Februari 2009, atau turun dibandingkan dengan Januari 2009 yang sebesar 53 kali.
Hal tersebut merupakan indikasi bahwa pelaku pasar masih cenderung wait and see dalam menyikapi volatilitas pasar keuangan global.
Faktor domestik yang relatif terjaga, seperti meredanya ekspektasi inflasi sebagai dampak lanjutan dari penurunan harga BBM bersubsidi, mulai membaiknya persepsi pasar terhadap prospek pembiayaan APBN 2009, tidak mampu menahan penurunan kinerja SUN.
Selain itu, penurunan posisi SUN yang dimiliki oleh asing turut mengganggu pulihnya kepercayaan pelaku pasar yang pada akhirnya berpengaruh pada likuiditas di pasar tersebut. Gejolak pasar keuangan global yang masih berlanjut menyebabkan investor asing membukukan net jual sebesar Rp 5,1 triliun pada Februari 2009.
Namun kondisi tersebut diimbangi oleh kondisi ekses likuiditas perbankan di awal tahun yang dibarengi dengan pembelian SUN oleh Bank Indonesia, akhirnya mengangkat kembali kinerja SUN di akhir Februari 2009. Dalam hal ini Bank Rekap dan reksa dana menjadi counterparty asing dan SUN di pasar perdana dengan masingmasing membukukan net beli sebesar Rp9,1 triliun dan Rp 1,7 triliun.
Sementara itu, pembelian oleh Bank Indonesia, meskipun relatif minimal namun dipandang memiliki momentum yang tepat, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan pasar terkait dengan peran Bank Sentral terhadap stabilitas harga SUN.
(ir/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
