Penurunan BI Rate Bisa Berlanjut Sampai 7%
Sabtu, 18/04/2009 16:25 WIB
Foto: Dok. detikFinance
Bandung - Penurunan BI Rate diperkirakan masih akan terus berlanjut, dan di akhir tahun 2009 bisa berada di level 7%.
Demikian hal itu dikemukakan oleh Senior Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto di sela pelatihan dasar wartawan perbankan di Hotel Savoy Homann, Bandung, Sabtu (18/4/2009).
"Prediksi tersebut berdasarkan basis expected inflation di 5-7% tahun 2009, paling tidak BI Rate harus berada sekitar 100-200 bps di atas itu," katanya.
Ia mengatakan, BI rate harus berada di atas perkiraan inflasi agar bisa memberikan insentif atau sweetener bagi orang atau lembaga yang akan berinvestasi di SBI. Menurutnya, kalau inflasi lebih tinggi dari BI Rate, maka tidak akan ada investor tertarik untuk menempatkan dananya.
"SBI bisa menjadi sebuah second chance bagi bank yang memiliki kelebihan likuiditas. Daripada bingung mau taruh dimana, paling secure ya di SBI," ujarnya.
Awal tahun kemarin, dalam situasi yang tidak normal dan dipengaruhi faktor negatif eksternal, inflasi tidak bisa dikendalikan. Ia mengatakan, seiring waktu inflasi tersebut sudah bisa dikendalikan pemerintah sehingga banyak faktor yang mendukung untuk penurunan kembali BI Rate.
"Sekarang demand barang pokok sudah tidak ada persoalan. Sembako tidak langka, bahkan pemerintah berencana ekspor beras. Dengan begitu harganya turun sehingga cost of inflation juga turun," imbuhnya.
Ia juga mengharapkan inflasi bisa terus ditekan jika tidak ada bencana alam. Di Indonesia, bencana alam bisa menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi melambung.
Contohnya, jika tiba-tiba terjadi banjir yang melumpuhkan logistik. Maka biaya pengiriman bisa lebih mahal otomatis harga jual menjadi lebih mahal membuat inflasi tinggi.
"Kombinasi harga minyak yang rendah, supply and demand yang stabil, panen raya, tidak ada bencana alam ini bisa menekan tingginya inflasi," jelasnya.
Meski begitu, ia memperkirakan harga minyak dunia di penghujung tahun akan berada di level US$ 50 per barel. Pasalnya, permintaan minyak dunia masih terbatas akibat banyaknya negara yang sudah mulai menggunakan energi alternatif.
(ang/dnl)
Demikian hal itu dikemukakan oleh Senior Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto di sela pelatihan dasar wartawan perbankan di Hotel Savoy Homann, Bandung, Sabtu (18/4/2009).
"Prediksi tersebut berdasarkan basis expected inflation di 5-7% tahun 2009, paling tidak BI Rate harus berada sekitar 100-200 bps di atas itu," katanya.
Ia mengatakan, BI rate harus berada di atas perkiraan inflasi agar bisa memberikan insentif atau sweetener bagi orang atau lembaga yang akan berinvestasi di SBI. Menurutnya, kalau inflasi lebih tinggi dari BI Rate, maka tidak akan ada investor tertarik untuk menempatkan dananya.
"SBI bisa menjadi sebuah second chance bagi bank yang memiliki kelebihan likuiditas. Daripada bingung mau taruh dimana, paling secure ya di SBI," ujarnya.
Awal tahun kemarin, dalam situasi yang tidak normal dan dipengaruhi faktor negatif eksternal, inflasi tidak bisa dikendalikan. Ia mengatakan, seiring waktu inflasi tersebut sudah bisa dikendalikan pemerintah sehingga banyak faktor yang mendukung untuk penurunan kembali BI Rate.
"Sekarang demand barang pokok sudah tidak ada persoalan. Sembako tidak langka, bahkan pemerintah berencana ekspor beras. Dengan begitu harganya turun sehingga cost of inflation juga turun," imbuhnya.
Ia juga mengharapkan inflasi bisa terus ditekan jika tidak ada bencana alam. Di Indonesia, bencana alam bisa menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi melambung.
Contohnya, jika tiba-tiba terjadi banjir yang melumpuhkan logistik. Maka biaya pengiriman bisa lebih mahal otomatis harga jual menjadi lebih mahal membuat inflasi tinggi.
"Kombinasi harga minyak yang rendah, supply and demand yang stabil, panen raya, tidak ada bencana alam ini bisa menekan tingginya inflasi," jelasnya.
Meski begitu, ia memperkirakan harga minyak dunia di penghujung tahun akan berada di level US$ 50 per barel. Pasalnya, permintaan minyak dunia masih terbatas akibat banyaknya negara yang sudah mulai menggunakan energi alternatif.
(ang/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
