detikfinance

Ekspor Furnitur Anjlok 50%, Lebih Buruk Dari Dugaan

Suhendra - detikfinance
Rabu, 22/04/2009 17:16 WIB
Foto: Hendra/detikFinance
Jakarta - Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) mencatat  penurunan produk ekspor furnitur Indonesia pada kuartal I 2009 mencapai 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi anjloknya ekspor ini jauh melampaui perkiraan sebelumnya yang sebesar 30%.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asmindo Ambar Tjahyono dalam acara konferensi pers di Hotel Century, Jakarta, Rabu (22/4/2009).

"Situasi ekspor belum bangkit, pantauan di Surabaya, Semarang ekspor merosot ke  45% sampai 50%, di triwulan pertama, triwulan kedua nampaknya seperti itu," jelasnya.

Dengan kondisi ini, Ambar sudah berulang kali menyampaikan bahwa dampaknya akan merambat ke pemutusan hubungn kerja (PHK) karyawan yang bergantung pada ekspor ini.

"Saya khawatir ada PHK di industri furnitur," ucapnya.

Bahkan yang paling parah lagi, sekarang ini para pembeli pasar ekspor  melakukan tindakan posisi tawar yang tinggi, dimana pembeli banyak yang menawar atau meminta diskon lebih rendah  30% dari harga tahun 2008.

Ekspor produk furnitur atau permebelan per tahun  mencapai US$ 2 miliar, dan kerajinan mencapai US$  600 juta, sehingga total ekspor anggota Asmindo mencapai US$ 2,6 miliar per tahun.



(hen/lih)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.