Batal Ekspor Beras Premium, Bulog Fokus di Pengawasan
Kamis, 14/05/2009 15:35 WIB
Foto: Bulog
Jakarta - Perum Bulog memastikan akan menunda rencana ekspor beras premium hingga Juni 2009. Bulog hanya akan fokus pada pengawasan proses ekspor dan stabilitas harga beras di dalam negeri.
"Kita akan kawal terus agar tidak melenceng," kata Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar usai acara rapat dengar pendapat dengan komisi IV, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/5/2009).
Pengawasan ekspor beras dilakukan untuk mengantisipasi penyimpangan berbentuk penggelembungan jumlah ekspor seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. Untk pengawasan seperti ini, peranan Bea Cukai dan surveyor dalam hal ini PT Sucofindo sangat strategis untuk melakukan verifikasi ekspor.
"Yang akan dipantau terkait ekspor, yaitu harga jangan terlalu tereskalasi termasuk pematauan kualitas dan kuantitas," jelasnya.
10.000 Ton Beras Premium Sudah di Tangan
Meski menunda bahkan mengarah pada pembatalan ekspor beras premium, hingga saat ini Bulog telah mengantongi rekomendasi ekspor beras premium sebanyak 10.000 ton dari Departemen Pertanian.
Sayangnya rekomendasi yang sudah di tangan tersebut urung dipakai untuk memperoleh izin ekspor oleh Bulog, dengan alasan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pelaku swasta dalam rangka stabilisasi harga beras.
"Bulog sudah menerima rekomendasi 10.000 ton, tapi belum meneruskan ke depdag (untuk mendapat izin)," ucap Mustafa.
Sebanyak 10.000 ton beras itu diantaranya berjenis Muncul, Pandan Wangi dan lain-lain. Padahal pembeli dari Jepang telah mewanti-wanti untuk siap menampung beras premium dari Bulog.
"Tanggal 22 Mei buyer dari Jepang mau datang ke mari. Kita harap ada perpanjangan (setelah Juni), kalau buyer masih oke, kita siap untuk term berikutnya," kilahnya.
Mengenai tidak digunakannya rekomendasi itu, Mustafa mengatakan hal itu tidak akan ada sanksi, dari Departemen Pertanian selaku pemberi rekomendasi. Pasalnya, rekomendasi itu belum berlanjut pada pemberian izin ekspor dari Departemen Perdagangan.
Mustafa menambahkan mengenai kemungkinan akan ada perpanjangan batas waktu ekspor, dengan tegas ia mengatakan belum tahu pasti akan ada perpanjangan waktu setelah bulan Juni. Hal ini mengingat dalam rakor Menko Perekonomian diputuskan batas ekspor beras premium hanya bisa dilakukan sampai akhir bulan Juni 2009.
(hen/lih)
"Kita akan kawal terus agar tidak melenceng," kata Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar usai acara rapat dengar pendapat dengan komisi IV, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (14/5/2009).
Pengawasan ekspor beras dilakukan untuk mengantisipasi penyimpangan berbentuk penggelembungan jumlah ekspor seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. Untk pengawasan seperti ini, peranan Bea Cukai dan surveyor dalam hal ini PT Sucofindo sangat strategis untuk melakukan verifikasi ekspor.
"Yang akan dipantau terkait ekspor, yaitu harga jangan terlalu tereskalasi termasuk pematauan kualitas dan kuantitas," jelasnya.
10.000 Ton Beras Premium Sudah di Tangan
Meski menunda bahkan mengarah pada pembatalan ekspor beras premium, hingga saat ini Bulog telah mengantongi rekomendasi ekspor beras premium sebanyak 10.000 ton dari Departemen Pertanian.
Sayangnya rekomendasi yang sudah di tangan tersebut urung dipakai untuk memperoleh izin ekspor oleh Bulog, dengan alasan memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada pelaku swasta dalam rangka stabilisasi harga beras.
"Bulog sudah menerima rekomendasi 10.000 ton, tapi belum meneruskan ke depdag (untuk mendapat izin)," ucap Mustafa.
Sebanyak 10.000 ton beras itu diantaranya berjenis Muncul, Pandan Wangi dan lain-lain. Padahal pembeli dari Jepang telah mewanti-wanti untuk siap menampung beras premium dari Bulog.
"Tanggal 22 Mei buyer dari Jepang mau datang ke mari. Kita harap ada perpanjangan (setelah Juni), kalau buyer masih oke, kita siap untuk term berikutnya," kilahnya.
Mengenai tidak digunakannya rekomendasi itu, Mustafa mengatakan hal itu tidak akan ada sanksi, dari Departemen Pertanian selaku pemberi rekomendasi. Pasalnya, rekomendasi itu belum berlanjut pada pemberian izin ekspor dari Departemen Perdagangan.
Mustafa menambahkan mengenai kemungkinan akan ada perpanjangan batas waktu ekspor, dengan tegas ia mengatakan belum tahu pasti akan ada perpanjangan waktu setelah bulan Juni. Hal ini mengingat dalam rakor Menko Perekonomian diputuskan batas ekspor beras premium hanya bisa dilakukan sampai akhir bulan Juni 2009.
(hen/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
