Industri Perkebunan Wajib Pakai Energi Bersih
Jumat, 15/05/2009 13:25 WIB
(Foto: dok detikFinance)
Yogyakarta - Industri-ndustri perkebunan seperti kelapa sawit wajib menggunakan energi bersih. Hal ini disebabkan tuntutan luar negeri yang mewajibkan adanya sertifikasi sebagai perusahaan yang ramah lingkungan.
Demikian dikatakan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI), Soedjai Kartasasmita kepada wartawan seusai acara rakernas di gedung Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) di Jl Urip Sumoharjo, Yogyakarta, Jumat (15/5/2009).
"Industri-industri sawit sekarang ini wajib mendapat sertifikasi produk yang ramah lingkungan bila produknya di pasarkan ke luar negeri," kata dia.
Menurut Soedjai dalam rakernas yang dihadiri perusahaan perkebunan milik BUMN, swasta, perusahaan perkebunan besar, menengah dan kecil itu mewajibkan kepada anggota GPPI untuk memanfaatkan limbah pabrik menjadi energi bersih. Namun pihaknya tidak akan memasang target pemanfaatan energi bersih di perusahaan-perusahaan perkebunan.
"Tak ada target. Tahun ini sudah ada 3 perusahaan. Tapi mereka sepakat untuk memanfaatkan limbah pabrik untuk dijadikan pupuk organik atau energi alternatif," katanya.
Dia mengatakan limbah perkebunan sawit yang mencapai ribuan ton setiap kali produksi itu bisa menghasilkan energi listrik yang bersih hingga 3-4 megawatt. Hal itu berarti akan menghemat biaya sekitar Rp 800 juta untuk membayar biaya listrik dari PLN.
"Tarif listriknya nol, berarti beban biaya produksi juga berkurang. Ini salah satu contoh yang telah dilakukan sebuah perusahaan sawit," kata Soedjai didampingi Direktur Eksekutif GPPI, H. Simanjuntak.
Menurut dia, penggunaan listrik bersih itu tidak hanya dilakukan oleh perusahaan perkebunan sawit saja tapi juga perusahaan gula. Limbah tebu dari pabrik gula juga bisa dimanfaatkan menjadi biogas, listrik dan pupuk organik.
Dia mengatakan untuk membiayainya, GPPI telah menggandeng International Financial Corporation (IFC) yang akan bekerjasama dengan bank-bank di Indnesia.
"Ini adalah salah satu cara untuk bertahan dan mereka sanggup membiayai kreditnya. Di saat krisis sekarang ini, perusahaan perkebunan adalah salah satu sektor yang tidak ada PHK," pungkas dia.
Inovatif
Menghadapi krisis global sekarang ini, industri-industri perkebunan di Indonesia dituntut lebih inovatif dalam menghasilkan produk. Perusahaan perkebunan tidak boleh lagi mengandalkan aspek komoditas saja tapi juga harus mampu menangkap berbagai peluang usaha di sektor tersebut.
"Dalam situasi krisis global seperti sekarang ini perusahaan harus tetap mendapat laba," kata Soedjai.
Menurut dia, saat ini semua perusahaan perkebunan baik yang besar, menengah, kecil/usaha rakyat harus mengubah paradigma. Perusahaan tidak boleh lagi mengandalkan aspek komoditas saja untuk dijual di luar negeri. Aspek-aspek lain yang bisa memberikan nilai tambah harus dikembangkan.
Meski dipasaran sudah ada berbagai komoditas perkebunan seperti teh, kopi dan coklat. Perusahaan harus mampu menampilkan produk-produk spesial. "Ini yang harus dilakukan agar bisa bertahan," katanya.
Dia mencontohkan pemasaran teh dengan kemasan yang bagus dengan mengandung berbagai khasiat. Meski harganya mahal, konsumen tetap akan mencari dan membeli. Contoh lainnya adalah kopi Luwak seperti yang dipasarkan perusahaan kopi di Jawa Timur, satu cangkir berharga Rp 100 ribu. Sedang kalau di luar negeri seperti Amerika bisa mencapai US$ 30.
"Ini baru satu komoditas. Belum lagi coklat atau cacao yang saat ini harganya paling tinggi mencapai US$ 2.600/ton. Artinya dalam situasi krisis seperti sekarang ini, orang masih mencicipi kopi yang enak, coklat yang enak dan teh yang bagus," kata Soedjai yang didampingi Direktur Eksekutif GPPI, H. Simanjuntak.
(bgs/ir)
Demikian dikatakan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI), Soedjai Kartasasmita kepada wartawan seusai acara rakernas di gedung Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) di Jl Urip Sumoharjo, Yogyakarta, Jumat (15/5/2009).
"Industri-industri sawit sekarang ini wajib mendapat sertifikasi produk yang ramah lingkungan bila produknya di pasarkan ke luar negeri," kata dia.
Menurut Soedjai dalam rakernas yang dihadiri perusahaan perkebunan milik BUMN, swasta, perusahaan perkebunan besar, menengah dan kecil itu mewajibkan kepada anggota GPPI untuk memanfaatkan limbah pabrik menjadi energi bersih. Namun pihaknya tidak akan memasang target pemanfaatan energi bersih di perusahaan-perusahaan perkebunan.
"Tak ada target. Tahun ini sudah ada 3 perusahaan. Tapi mereka sepakat untuk memanfaatkan limbah pabrik untuk dijadikan pupuk organik atau energi alternatif," katanya.
Dia mengatakan limbah perkebunan sawit yang mencapai ribuan ton setiap kali produksi itu bisa menghasilkan energi listrik yang bersih hingga 3-4 megawatt. Hal itu berarti akan menghemat biaya sekitar Rp 800 juta untuk membayar biaya listrik dari PLN.
"Tarif listriknya nol, berarti beban biaya produksi juga berkurang. Ini salah satu contoh yang telah dilakukan sebuah perusahaan sawit," kata Soedjai didampingi Direktur Eksekutif GPPI, H. Simanjuntak.
Menurut dia, penggunaan listrik bersih itu tidak hanya dilakukan oleh perusahaan perkebunan sawit saja tapi juga perusahaan gula. Limbah tebu dari pabrik gula juga bisa dimanfaatkan menjadi biogas, listrik dan pupuk organik.
Dia mengatakan untuk membiayainya, GPPI telah menggandeng International Financial Corporation (IFC) yang akan bekerjasama dengan bank-bank di Indnesia.
"Ini adalah salah satu cara untuk bertahan dan mereka sanggup membiayai kreditnya. Di saat krisis sekarang ini, perusahaan perkebunan adalah salah satu sektor yang tidak ada PHK," pungkas dia.
Inovatif
Menghadapi krisis global sekarang ini, industri-industri perkebunan di Indonesia dituntut lebih inovatif dalam menghasilkan produk. Perusahaan perkebunan tidak boleh lagi mengandalkan aspek komoditas saja tapi juga harus mampu menangkap berbagai peluang usaha di sektor tersebut.
"Dalam situasi krisis global seperti sekarang ini perusahaan harus tetap mendapat laba," kata Soedjai.
Menurut dia, saat ini semua perusahaan perkebunan baik yang besar, menengah, kecil/usaha rakyat harus mengubah paradigma. Perusahaan tidak boleh lagi mengandalkan aspek komoditas saja untuk dijual di luar negeri. Aspek-aspek lain yang bisa memberikan nilai tambah harus dikembangkan.
Meski dipasaran sudah ada berbagai komoditas perkebunan seperti teh, kopi dan coklat. Perusahaan harus mampu menampilkan produk-produk spesial. "Ini yang harus dilakukan agar bisa bertahan," katanya.
Dia mencontohkan pemasaran teh dengan kemasan yang bagus dengan mengandung berbagai khasiat. Meski harganya mahal, konsumen tetap akan mencari dan membeli. Contoh lainnya adalah kopi Luwak seperti yang dipasarkan perusahaan kopi di Jawa Timur, satu cangkir berharga Rp 100 ribu. Sedang kalau di luar negeri seperti Amerika bisa mencapai US$ 30.
"Ini baru satu komoditas. Belum lagi coklat atau cacao yang saat ini harganya paling tinggi mencapai US$ 2.600/ton. Artinya dalam situasi krisis seperti sekarang ini, orang masih mencicipi kopi yang enak, coklat yang enak dan teh yang bagus," kata Soedjai yang didampingi Direktur Eksekutif GPPI, H. Simanjuntak.
(bgs/ir)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
