Boediono Hanya Seorang Dosen Biasa
Sabtu, 23/05/2009 15:02 WIB
Foto: dok.detikFinance
Yogyakarta - Di mata para koleganya sebagai dosen di almamaternya di Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Boediono adalah seorang dosen biasa dan sederhana. Dia adalah dosen yang selalu rajin datang mengajar mahasiswa.
Hal itu diungkapkan staf pengajar sekaligus pengamat ekonomi, Dr. Tony Prasetyantono saat pertemuan dengan Cawapres Boediono di FEB UGM Bulaksumur Yogyakarta, Sabtu (23/5/2009).
"Pak Boed itu adalah dosen biasa yang selalu datang untuk mengajar. Kalau dosen luar biasa itu malah jarang datang. Beliau itu selalu hadir," ungkap Tony yang langsung disambut tepuk tangan para dosen yang hadir dalam pertemuan itu.
Tony mengaku heran dengan adanya perdebatan di berbagai media massa mengenai paham neoliberalisme. Menurutnya banyak orang yang tidak paham mengenai apa neoliberalisme itu. Istilah itu memang tidak dikenal pada saat mereka kuliah. "Yang ada adalah istilah kapitalisme," kata Tony yang mengaku belum pernah diajar oleh Boediono karena dia masuk pada tahun ganjil. Sedang Boediono lebih banyak mengajak di tahun genap.
Menurut Tony, Boediono bersama Almarhum Prof. Dr. Mubyarto pernah menulis buku mengenai Ekonomi Pancasila yang kemudian dikenal dengan ekonomi kerakyatan. Buku itu ditulis setelah ada seminar pada tahun 1980-an. "Istilah itu kemudian memunculkan diskusi panjang yang dimuat di media antara Arief Budiman dengan Mubyarto dan Boediono," katanya.
Tony mengatakan neoliberalisme awalnya muncul ketika negara Amerika Latin seperti Mexico dan Argentina terkena krisis pada tahun 1986. Hal itu terjadi lagi saat krisis ekonomi tahun 1994-1995 pada saat para ekonom Washington bersama IMF membuat rekomendasi yang kemudian muncul 10 pilar penanganan krisis.
Dari 10 pilar itu lanjut Tony, diperas lagi menjadi 3 hal terpenting yakni kebijakan fiskal yang disiplin. Negara berkembang yang terkena krisis, defisit APBN tidak boleh lebih dari 2%. Kedua masalah privatisasi BUMN dan ketiga liberalisasi pasar atau market liberalisasi agar pasar bersih dari distorsi.
"Masalah BUMN ini kemudian yang dianggap menjual aset negara, padahal hal itu untuk nomboki. Dan kenyataannya banyak BUMN yang diganggu politisi untuk membiayai," kata Tony.
Menurut Tony istilah yang dikenalkan oleh John Williamson atau dikenal dengan Washington Consensus itu kemudian menjadi sebuah jargon politik untuk melawan pro rakyat. "Sekarang ini neoliberal telah menjadi jargon politik," pungkas dia.
(bgs/dnl)
Hal itu diungkapkan staf pengajar sekaligus pengamat ekonomi, Dr. Tony Prasetyantono saat pertemuan dengan Cawapres Boediono di FEB UGM Bulaksumur Yogyakarta, Sabtu (23/5/2009).
"Pak Boed itu adalah dosen biasa yang selalu datang untuk mengajar. Kalau dosen luar biasa itu malah jarang datang. Beliau itu selalu hadir," ungkap Tony yang langsung disambut tepuk tangan para dosen yang hadir dalam pertemuan itu.
Tony mengaku heran dengan adanya perdebatan di berbagai media massa mengenai paham neoliberalisme. Menurutnya banyak orang yang tidak paham mengenai apa neoliberalisme itu. Istilah itu memang tidak dikenal pada saat mereka kuliah. "Yang ada adalah istilah kapitalisme," kata Tony yang mengaku belum pernah diajar oleh Boediono karena dia masuk pada tahun ganjil. Sedang Boediono lebih banyak mengajak di tahun genap.
Menurut Tony, Boediono bersama Almarhum Prof. Dr. Mubyarto pernah menulis buku mengenai Ekonomi Pancasila yang kemudian dikenal dengan ekonomi kerakyatan. Buku itu ditulis setelah ada seminar pada tahun 1980-an. "Istilah itu kemudian memunculkan diskusi panjang yang dimuat di media antara Arief Budiman dengan Mubyarto dan Boediono," katanya.
Tony mengatakan neoliberalisme awalnya muncul ketika negara Amerika Latin seperti Mexico dan Argentina terkena krisis pada tahun 1986. Hal itu terjadi lagi saat krisis ekonomi tahun 1994-1995 pada saat para ekonom Washington bersama IMF membuat rekomendasi yang kemudian muncul 10 pilar penanganan krisis.
Dari 10 pilar itu lanjut Tony, diperas lagi menjadi 3 hal terpenting yakni kebijakan fiskal yang disiplin. Negara berkembang yang terkena krisis, defisit APBN tidak boleh lebih dari 2%. Kedua masalah privatisasi BUMN dan ketiga liberalisasi pasar atau market liberalisasi agar pasar bersih dari distorsi.
"Masalah BUMN ini kemudian yang dianggap menjual aset negara, padahal hal itu untuk nomboki. Dan kenyataannya banyak BUMN yang diganggu politisi untuk membiayai," kata Tony.
Menurut Tony istilah yang dikenalkan oleh John Williamson atau dikenal dengan Washington Consensus itu kemudian menjadi sebuah jargon politik untuk melawan pro rakyat. "Sekarang ini neoliberal telah menjadi jargon politik," pungkas dia.
(bgs/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
