Proyek Senoro Bisa Tetap Ekonomis Meski Gas untuk Domestik
Senin, 08/06/2009 11:38 WIB
Foto: lih/detikFinance
Jakarta - PT LNG Energi Utama, yang selama ini merasa dicurangi dalam proyek LNG Senoro, mengklaim gas dari lapangan tersebut sebetulnya bisa diprioritaskan untuk dalam negeri. Seandainya ditunjuk jadi kontraktor proyek tersebut, LNG EU mengaku bisa mengalokasikan gas Senoro untuk kebutuhan dalam negeri tanpa harus mengorbankan keekonomian proyek.
"Sejak awal (2005), fokus LNG-EU hanyalah membangun kilang gas di Senoro di Sulawesi Tengah, dan siap mengakomodasi kepentingan nasional, termasuk memprioritaskan kebutuhan gas domestik, kapanpun dibutuhkan," kata Executive Director PT LNG-EU Norm Marshall dalam pernyataan tertulis yang dikutip detikFinance, Senin (8/6/2009).
Proyek LNG Senoro kini memang kembali gamang setelah Wapres Jusuf Kalla mengharuskan produksi gas diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Padahal berdasarkan perhitungan ekonomi proyek selama ini, gas dari proyek Senoro sudah dialokasikan untuk diekspor ke Jepang.
Norm menegaskan, proyek LNG di Senoro sebenarnya bisa menjadi proyek yang cukup ekonomis, asalkan pihak pengembang dan operator mampu mengelola dengan biaya yang relatif lebih murah dan tingkat efisiensi yang tinggi.
"LNG-EU, berdasarkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sesuai dengan proposal proyek LNG Senoro dan proyek LNG yang kini sedang dilakukan di Australia (di mana kedua proyek tersebut memiliki kapasitas serupa) memperhitungkan bahwa proyek LNG Donggi Senoro bisa dibangun dengan anggaran sekitar US$ 800 juta. Angka tersebut tak sampai setengah dari penawaran Mitsubishi saat ini, yang sekitar US$ 1,8-2 miliar," ujarnya.
LNG EU merupakan perusahaan yang merasa dicurangi dalam pemilihan kontraktor pembangunan kilang LNG Senoro. LNG EU merasa data-data yang sudah dikumpulkannya digunakan oleh Mitsubishi yang kini menjadi kontraktor resmi. LNG EU pun mengadukan masalah ini ke KPPU.
Kini, setelah proses proyek Senoro kerap terhambat, LNG EU kembali mengajukan diri untuk mengerjakan proyek tersebut. LNG EU mengklaim pihaknya bisa mengerjakan proyek dengan biaya yang lebih efisien dari yang ditawarkan Mitsubishi.
"Kendati demikian, hal itu tidak akan mengurangi dasar laporan kami ke KPPU, karena terkait dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dan potensi kerugian yang muncul sejak tahun 2005, di mana jika memang ada pelanggaran, maka pihak yang melanggar harus bertanggungjawab," ujar Norm.
(lih/qom)
"Sejak awal (2005), fokus LNG-EU hanyalah membangun kilang gas di Senoro di Sulawesi Tengah, dan siap mengakomodasi kepentingan nasional, termasuk memprioritaskan kebutuhan gas domestik, kapanpun dibutuhkan," kata Executive Director PT LNG-EU Norm Marshall dalam pernyataan tertulis yang dikutip detikFinance, Senin (8/6/2009).
Proyek LNG Senoro kini memang kembali gamang setelah Wapres Jusuf Kalla mengharuskan produksi gas diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Padahal berdasarkan perhitungan ekonomi proyek selama ini, gas dari proyek Senoro sudah dialokasikan untuk diekspor ke Jepang.
Norm menegaskan, proyek LNG di Senoro sebenarnya bisa menjadi proyek yang cukup ekonomis, asalkan pihak pengembang dan operator mampu mengelola dengan biaya yang relatif lebih murah dan tingkat efisiensi yang tinggi.
"LNG-EU, berdasarkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya sesuai dengan proposal proyek LNG Senoro dan proyek LNG yang kini sedang dilakukan di Australia (di mana kedua proyek tersebut memiliki kapasitas serupa) memperhitungkan bahwa proyek LNG Donggi Senoro bisa dibangun dengan anggaran sekitar US$ 800 juta. Angka tersebut tak sampai setengah dari penawaran Mitsubishi saat ini, yang sekitar US$ 1,8-2 miliar," ujarnya.
LNG EU merupakan perusahaan yang merasa dicurangi dalam pemilihan kontraktor pembangunan kilang LNG Senoro. LNG EU merasa data-data yang sudah dikumpulkannya digunakan oleh Mitsubishi yang kini menjadi kontraktor resmi. LNG EU pun mengadukan masalah ini ke KPPU.
Kini, setelah proses proyek Senoro kerap terhambat, LNG EU kembali mengajukan diri untuk mengerjakan proyek tersebut. LNG EU mengklaim pihaknya bisa mengerjakan proyek dengan biaya yang lebih efisien dari yang ditawarkan Mitsubishi.
"Kendati demikian, hal itu tidak akan mengurangi dasar laporan kami ke KPPU, karena terkait dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dan potensi kerugian yang muncul sejak tahun 2005, di mana jika memang ada pelanggaran, maka pihak yang melanggar harus bertanggungjawab," ujar Norm.
(lih/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 07:56 WIB
8 Cara Mudah Genjot Modal Usaha
-
Jumat, 25/05/2012 07:45 WIB
IHSG Diprediksi Masih Bergerak ke Samping
-
Jumat, 25/05/2012 07:30 WIB
Saham Teknologi Hambat Penguatan Wall Street
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 07:30 WIB
Saham Teknologi Hambat Penguatan Wall Street
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
