detikfinance

Ekspor Non L/C Tetap Jadi Modus Utama

Herdaru Purnomo - detikfinance
Rabu, 17/06/2009 11:20 WIB
Foto: dok Detikcom
Jakarta - Kewajiban penggunaan L/C dalam ekspor untuk sejumlah produk memang sedikit meningkatkan permintaan L/C. Namun eskpor non L/C akan tetap menjadi modus utama dalam aktivitas ekspor di Indonesia.

Berdasarkan data Bank Indonesia, komposisi ekspor nasional tahun 2004 terdiri dari non L/C sebesar 81 persen dan L/C hanya 19 persen. Sedangkan pada 2008, porsi non L/C ekspor non migas nasional sudah meningkat mencapai 88 persen atau sebesar US$ 94,33 miliar dari total ekspor non migas sebesar US$ 106,84 miliar.

"Meskipun penggunaan L/C diperkirakan akan sedikit meningkat karena imbas dari krisis global dan implementasi ketentuan wajib L/C oleh dari Menteri Perdagangan, kami memperkirakan non L/C tetap menjadi modus transaksi utama dalam perdagangan internasional," papar Dirut Bank Mandiri Agus Martowardoyo dalam konferensi pers penandatanganan kerjasama asuransi pembiayaan tagihan ekspor Mandiri dan ASEI di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (17/6/2009).

Sedangkan Direktur Utama ASEI Zaafril Razief Amir menjelaskan, bahwa secara tradisional perbankan lebih terbiasa melayani transaksi dengan L/C.

"Untuk transaksi ekspor dan impor non migas dengan L/C ini kami percaya Bank Mandiri adalah pemimpin pasar dengan market share ekspor 25,4% dan impor 26,7% di tahun 2008. Sebagai langkah selanjutnya secara selektif, beberapa tahun terakhir ini Bank Mandiri telah memberikan pembiayaan perdagangan atau trade finance untuk transaksi ekspor non L/C," paparnya.
   
Ia menambahkan, bahwa dalam situasi krisis global seperti sekarang, nasabah eksportir nasional dari berbagai segmen dan skala usaha semakin membutuhkan dukungan dari bank  nasional.

Kerjasama Bank mandiri-ASEI

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menggandeng PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) dalam kerjasama asuransi pembiayaan tagihan ekspor.

Direktur Utama Mandiri Agus Martowardojo mengatakan ASEI akan menjadi pihak penanggung dan Mandiri akan menjadi pihak tertanggung. Sedangkan obyek yang ditanggung adalah tagihan pembiayaan ekspor non L/C dengan risiko komersial dan risiko politik yang akan ditanggung.
   
"Untuk itu, ASEI akan mengganti 85 persen dari nilai pertanggungan dengan nilai pertanggungan maksimal US$ 5 juta per transakasi," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa penandatanganan ini merupakan langkah awal dari kerjasama antara Mandri dan ASEI. "Saat ini salah satu tren yang mengemuka dalam perdagangan luar negeri beberapa tahun terakhir adalah transaksi open account atau transaksi non L/C," tuturnya

Untuk diketahui, kredit Mandiri tumbuh 30,5% (Year on Year) atau sebesar Rp41,4 triliun, yaitu dari Rp 135,5 triliun menjadi Rp176,9 triliun. Jumlah dana murah meningkat 14,4% atau sebesar Rp19,6 triliun, yaitu dari sebesar Rp136,2 triliun menjadi Rp155,7 triliun. Net Interest Margin (NIM) naik dari sebesar 5,03% menjadi 5,47%.
   
Cost Efficiency Ratio (CER) membaik dari 41,1% menjadi sebesar 35,1%. NPL Netto 1,46%. Laba bersih mencapai Rp1,40 triliun, atau tumbuh 0,8% dari pencapaian periode yang sama tahun 2008 yang sebesar Rp 1,39 triliun.


(dru/lih)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    BeritaTerbaru Index »
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.