JK, Sang Penyerang No.3
Kamis, 25/06/2009 21:36 WIB
Foto: Setpres
Jakarta - Calon Presiden nomor 3, Jusuf Kalla, menjadi peserta yang paling aktif 'menyerang' dalam debat putaran kedua. Tak hanya menyerang capres saingannya, JK juga 'menyerang' cawapres pendamping SBY, yaitu Boediono.
Dalam debat yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu, JK menyerang capres nomor 1 yaitu Megawati Soekarnoputri soal harga penjualan gas Tangguh. JK bersikeras harga jual gas Tangguh yang disetujui saat Megawati menjadi presiden terlalu murah.
"Maaf bu, soal Tangguh, terlalu murah. Harusnya jangan US$ 3,8 (per barel) karena sekarang harganya bisa US$ 6 (per barel)," katanya dalam debat capres di studio Metro TV, Jakarta, Kamis (25/6/2009).
Mega yang mendapat 'serangan' dadakan ini hanya diam dan tidak membalas.
Dua Kali Diserang JK, Boediono Dibela SBY
Setelah Mega, giliran SBY-Boediono yang jadi sasaran JK. Kali ini JK mengungkit persoalan-persoalan dalam kepemimpinan SBY seperti suku bunga yang tinggi dan program percepatan 10.000 MW.
Pada satu kesempatan, JK juga menyinggung Boediono tentang tingginya suku bunga selama Boediono menjadi Gubernur Bank Indonesia.
"Jangan hanya inflasi yang harus ditekan, Pak Boediono. Tapi juga suku bunga untuk petani," kata JK sambil menunjuk Boediono.
Boediono yang tengah duduk di kursi penonton tidak membalas.
Namun JK tak menghentikan 'serangannya'. Dalam kesempatan lain ia menyinggung program 10.000 MW. JK menyinggung Boediono yang dianggapnya dulu tidak menyetujui penjaminan untuk program tersebut. Saat itu Boediono memang masih menjadi Menko Perekonomian.
"Saat itu Pak Boediono menolak penjaminan," katanya sambil menunjuk Boediono lagi. Dan Boediono lagi-lagi tidak membalas.
Namun kali ini serangan JK sempat dibalas oleh SBY. SBY mengatakan, pemerintah bukannya mempersulit penjaminan untuk program 10.000 MW, tetapi memang saat itu dibutuhkan kejelasan penjaminan apa yang diperlukan.
"Saya, Pak JK, dan Pak Boediono hadir saat itu. Dulu katanya tidak ada garansi, lalu jadi garansi lunak, lalu jadi garansi penuh. Lalu akhirnya kita berikan jaminan untuk 10.000 MW," katanya.
Mendengar jawaban SBY ini, JK langsung menimpali.
"Kalau waktu itu nggak disetujui, mati lampu kita sekarang," canda JK.
Secara keseluruhan, JK memang menjadi peserta yang terlihat paling atraktif. Selain lebih santai karena berbicara sambil berjalan-jalan, JK juga kerap mengeluarkan kalimat-kalimat lucu yang menyegarkan.
(lih/dnl)
Dalam debat yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu, JK menyerang capres nomor 1 yaitu Megawati Soekarnoputri soal harga penjualan gas Tangguh. JK bersikeras harga jual gas Tangguh yang disetujui saat Megawati menjadi presiden terlalu murah.
"Maaf bu, soal Tangguh, terlalu murah. Harusnya jangan US$ 3,8 (per barel) karena sekarang harganya bisa US$ 6 (per barel)," katanya dalam debat capres di studio Metro TV, Jakarta, Kamis (25/6/2009).
Mega yang mendapat 'serangan' dadakan ini hanya diam dan tidak membalas.
Dua Kali Diserang JK, Boediono Dibela SBY
Setelah Mega, giliran SBY-Boediono yang jadi sasaran JK. Kali ini JK mengungkit persoalan-persoalan dalam kepemimpinan SBY seperti suku bunga yang tinggi dan program percepatan 10.000 MW.
Pada satu kesempatan, JK juga menyinggung Boediono tentang tingginya suku bunga selama Boediono menjadi Gubernur Bank Indonesia.
"Jangan hanya inflasi yang harus ditekan, Pak Boediono. Tapi juga suku bunga untuk petani," kata JK sambil menunjuk Boediono.
Boediono yang tengah duduk di kursi penonton tidak membalas.
Namun JK tak menghentikan 'serangannya'. Dalam kesempatan lain ia menyinggung program 10.000 MW. JK menyinggung Boediono yang dianggapnya dulu tidak menyetujui penjaminan untuk program tersebut. Saat itu Boediono memang masih menjadi Menko Perekonomian.
"Saat itu Pak Boediono menolak penjaminan," katanya sambil menunjuk Boediono lagi. Dan Boediono lagi-lagi tidak membalas.
Namun kali ini serangan JK sempat dibalas oleh SBY. SBY mengatakan, pemerintah bukannya mempersulit penjaminan untuk program 10.000 MW, tetapi memang saat itu dibutuhkan kejelasan penjaminan apa yang diperlukan.
"Saya, Pak JK, dan Pak Boediono hadir saat itu. Dulu katanya tidak ada garansi, lalu jadi garansi lunak, lalu jadi garansi penuh. Lalu akhirnya kita berikan jaminan untuk 10.000 MW," katanya.
Mendengar jawaban SBY ini, JK langsung menimpali.
"Kalau waktu itu nggak disetujui, mati lampu kita sekarang," canda JK.
Secara keseluruhan, JK memang menjadi peserta yang terlihat paling atraktif. Selain lebih santai karena berbicara sambil berjalan-jalan, JK juga kerap mengeluarkan kalimat-kalimat lucu yang menyegarkan.
(lih/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 09:05 WIB
First Asia Capital: Indeks Bergerak Fluktuatif
-
Jumat, 25/05/2012 09:02 WIB
Kemenkeu Klaim Pembenahan di Ditjen Pajak Terus Berjalan
-
Jumat, 25/05/2012 08:25 WIB
OSO Securities: IHSG Lanjutkan Penguatan
-
Jumat, 25/05/2012 08:18 WIB
Adhi Karya Terbitkan Surat Utang Rp 1,5 Triliun
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 07:33 WIB
8 Cara Mudah Genjot Modal Usaha
-
Jumat, 25/05/2012 07:30 WIB
Saham Teknologi Hambat Penguatan Wall Street
-
Jumat, 25/05/2012 08:20 WIB
Adhi Karya Terbitkan Surat Utang Rp 1,5 Triliun
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
