detikfinance

Malaysia Mulai Liberalisasi Ekonomi

Nurul Qomariyah - detikfinance
Selasa, 30/06/2009 15:45 WIB
Menara Petronas (Foto: Reuters)
Kuala Lumpur - Neoliberalisme sedang dikecam di Indonesia. Namun Malaysia malah mengumumkan sejumlah kebijakan untuk meliberalisasi ekonominya setelah negeri jiran tersebut menghadapi ancaman resesi. Investor asing kini diperbolehkan bergerak lebih leluasa di Malaysia.

Salah satu kebijakan liberalisasi ekonomi Malaysia adalah menghapuskan kewajiban untuk menyisihkan 30% saham IPO untuk warga Malaysia. Aturan yang membatasi pembelian oleh investor asing juga dihapuskan.

"Kebijakan baru ini akan membuat perekonomian kami lebih bersemangat. Saya kira ini akan menaikkan kita setinggi mungkin pada radar yang bisa menarik investasi langsung dan saham investor asing," ujar Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak seperti dikutip dari AFP, Selasa (30/6/2009).

Pemerintah Malaysia menghapuskan kewajiban persetujuan dari Foreign Investment Committee (FIC) untuk transaksi, kecuali yang dapat mendilusi kepentingan warga Malaysia. Investor asing juga tak lagi harus mendapatkan persetujuan untuk merger dan akuisisi.

"Untuk FIC, dapat saya katakan tak lagi ada. FIC bukan lagi sebuah instrumen yang efektif untuk mendukung pertumbuhan," ujar Najib.

FIC merupakan bagian dari rencana aksi Malaysia yang disebut New Economic Policy (NEP), sebuah skema kontroversial untuk meningkatkan kemandirian ekonomi etnis Malaysia yang mendominasi negara multikultur tersebut.

Kebijakan yang dibuat pada tahun 1969 ketika ada kerusuhan rasial itu ditujukan untuk menanggapi dominasi sektor bisnis oleh warga Malaysia dari etnis China dengan menyediakan sejumlah manfaat di sektor perumahan, pendidikan dan tenaga kerja.

Para ekonom menyambut baik langkah liberalisasi tersebut, terutama setelah pemerintah Malaysia mengumumkan kemungkinan terjadinya resesi setelah negara tersebut akan mengalami kontraksi hingga 5% pada tahun ini.

"Karena anjloknya penanaman modal asing yang tajam, langkah ini akan membuat Malaysia sebagai tempat yang nyaman untuk menarik investor asing dan mempertahankan investasi dalam negeri yang mengalami kelesuan sejak krisis finansial Asia tahun 1998 silam," ujar Yeah Kim Leng, Kepala Ekonom RAM Holdings.

(qom/lih)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    BeritaTerbaru Index »
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.