Impor Paku dan Kawat dari China Tak Terbendung
Jumat, 10/07/2009 16:43 WIB
Foto: dok Detikcom
Jakarta - Penerapan Permendag No 21 tahun 2009 yang mewajibkan importir baja memiliki nomor importir terdaftar nampaknya belum efektif membendung impor baja khususnya untuk produk kawat dan paku.
Ketua The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) cluster Paku dan Kawat, Ario Setiantono menyatakan pada Mei dan Juni 2009 masuk 1.000 ton kawat dan paku per bulann melalui pelabuhan Surabaya dan Semarang.
"Pada Mei dan Juni, ada 1.000 ton kawat dan paku impor masuk ke pelabuhan di Surabaya dan Semarang setiap bulannya. Paku dan kawat tersebut, 90 persennya berasal dari China," ujar Ario di Wisma Baja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (10/7/2009).
Menurut Ario, kondisi ini diperparah karena harga jual paku impor lebih murah daripada harga paku lokal. Saat ini harga jual paku impor sekitar Rp 7.200 per kg, sedangkan harga paku lokal dijual dengan harga Rp 7.900- Rp 8.000 per kg.
"Harga mereka lebih murah karena produsen kawat dan paku dari China mendapatkan subsidi dari pemerintah China berupa pengembalian pajak sebesar 11 persen ditambah lagi para importir paku melakukan praktek under in voicing atau menyelundupkan kawat dan paku dengan sistem borongan atau menggunakan nomor HS yang tidak bayar bea masuk," paparnya.
Ario menyatakan saat ini ada puluhan ribu ton kawat dan paku siap masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya, Semarang, Medan dan beberapa pelabuhan kecil lainnya. Apabila tidak segera dibendung oleh pemerintah, maka hal ini akan membuat industri kawat dan paku akan mengalami kebangkrutan dan pada akhirnya menyebabkan PHK dan pengangguran.
"Untuk itu kami meminta kepada dirjen bea cukai untuk memperketat pengawasan terhadap produk baja terutama kawat dan paku," jelasnya.
Ario juga mengusulkan kepada Depdag dan dirjen pajak dan kepolisian dapat melakukan upaya kerjasama sweeping ke distributor dan toko-toko grosir bahan bangunan yang disinyalir banyak menjual produk kawat dan paku impor yang diselundupkan dari China.
"Mereka ini umumnya membeli produk-produk tersebut tanpa faktur pajak dan juga menjual tanpa faktur pajak. Hal ini tentunya akan sangat merugikan penerimaan pajak negara. IISIA siap untuk menjadi partner pemerintah untuk membendung impor illegal produk baja termasuk dalam melakukan sweeping," ungkapnya.
(epi/lih)
Ketua The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) cluster Paku dan Kawat, Ario Setiantono menyatakan pada Mei dan Juni 2009 masuk 1.000 ton kawat dan paku per bulann melalui pelabuhan Surabaya dan Semarang.
"Pada Mei dan Juni, ada 1.000 ton kawat dan paku impor masuk ke pelabuhan di Surabaya dan Semarang setiap bulannya. Paku dan kawat tersebut, 90 persennya berasal dari China," ujar Ario di Wisma Baja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (10/7/2009).
Menurut Ario, kondisi ini diperparah karena harga jual paku impor lebih murah daripada harga paku lokal. Saat ini harga jual paku impor sekitar Rp 7.200 per kg, sedangkan harga paku lokal dijual dengan harga Rp 7.900- Rp 8.000 per kg.
"Harga mereka lebih murah karena produsen kawat dan paku dari China mendapatkan subsidi dari pemerintah China berupa pengembalian pajak sebesar 11 persen ditambah lagi para importir paku melakukan praktek under in voicing atau menyelundupkan kawat dan paku dengan sistem borongan atau menggunakan nomor HS yang tidak bayar bea masuk," paparnya.
Ario menyatakan saat ini ada puluhan ribu ton kawat dan paku siap masuk ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya, Semarang, Medan dan beberapa pelabuhan kecil lainnya. Apabila tidak segera dibendung oleh pemerintah, maka hal ini akan membuat industri kawat dan paku akan mengalami kebangkrutan dan pada akhirnya menyebabkan PHK dan pengangguran.
"Untuk itu kami meminta kepada dirjen bea cukai untuk memperketat pengawasan terhadap produk baja terutama kawat dan paku," jelasnya.
Ario juga mengusulkan kepada Depdag dan dirjen pajak dan kepolisian dapat melakukan upaya kerjasama sweeping ke distributor dan toko-toko grosir bahan bangunan yang disinyalir banyak menjual produk kawat dan paku impor yang diselundupkan dari China.
"Mereka ini umumnya membeli produk-produk tersebut tanpa faktur pajak dan juga menjual tanpa faktur pajak. Hal ini tentunya akan sangat merugikan penerimaan pajak negara. IISIA siap untuk menjadi partner pemerintah untuk membendung impor illegal produk baja termasuk dalam melakukan sweeping," ungkapnya.
(epi/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 11:31 WIB
Lippo Banderol Apartemen St. Moritz Tebaru Rp 2,5 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 11:26 WIB
Banyak Fiktif, Anggaran Perjalanan Dinas Dipangkas Demi Didik PNS
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
-
Kamis, 24/05/2012 10:44 WIB
Berjuang di Bisnis PC, HP Terpaksa PHK 25.000 Karyawan
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
