Produsen Domestik Minta Izin Impor Paku dan Kawat Dibatasi
Jumat, 10/07/2009 16:50 WIB
Foto: KS
Jakarta - The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) cluster Paku dan Kawat meyayangkan kurangnya kontrol pemerintah terhadap izin impor yang diberikan kepada para importir kawat dan paku. Jumlah izin dan kuota impor paku dan kawat yang diterbitkan sudah terlalu banyak.
"Yang mendaftar menjadi importir ke Depperin sebanyak 800 importir, dan yang sudah dikeluarkan izin sekitar 250-300 importir," ujar Ketua IISIA cluster Paku dan Kawat, Ario Setiantono di wisma baja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (10/9/2009).
Selain banyaknya jumlah importir yang diberikan izin, Ario menilai besarannya kuota impor paku dan kawat yang diberikan juga berlebih.
"Mereka mengajukan angka yang fantastis. Bahkan ada dua perusahaan sudah mendapatkan izin impor 10 ribu ton per tahun. Jadi 2 perusahaan itu sama saja bikin satu pabrik di Indonesia, padahal kami pengusaha lokal sudah megap-megap," jelasnya.
Ario menegaskan sebenarnya produsen lokal mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hanya saja murah harga paku yang dijual para importir menyebabkan mereka tidak dapat berkompetisi.
"Ini terbukti, dalam tiga bulan terakhir produksi bagus karena importir sedang mengurus izin. Bahkan pabrik yang sudah koma bisa hidup lagi," ungkapnya.
Untuk itu Ario meminta kepada Depdag dan Deperin untuk bekerjasama untuk membatasi jumlah izin impor untuk paku dan kawat kepada importir terdaftar.
"Sebaiknya izin kuota impor yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri yang juga telah disesuaikan dengan kemampuan produsen dalam negeri untuk menyuplai paku dan kawat. Selain itu, juga harus dipantau apakah mereka membayar tarif yang berlaku," paparnya.
Ario juga berharap pemerintah untuk segera memutuskan dan menerapkan bea masuk safe guard yang telah diusulkan oleh Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI). Pada kesempatan yang sama pengurus IISIA, I Dulong memperkirakan produksi paku dalam negeri akan menurun dibandingkan tahun 2008.
"Estimasi kami produksi paku nasional akan turun sekitar 50-60 ribu ton. Dimana total produksi tahun lalu sekitar 76,628 ribu ton per tahun," jelas Dulong yang juga Presdir Batraja Makmur Wiretama. Ario memperkirakan impor paku dan kawat akan naik 200 persen dibandingkan impor 2008 yang mencapai 33 ribu ton. "Saya sampaikan kepada pemerintah apakah sudah menyaring importir dengan benar," kata Ario.
(epi/lih)
"Yang mendaftar menjadi importir ke Depperin sebanyak 800 importir, dan yang sudah dikeluarkan izin sekitar 250-300 importir," ujar Ketua IISIA cluster Paku dan Kawat, Ario Setiantono di wisma baja, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (10/9/2009).
Selain banyaknya jumlah importir yang diberikan izin, Ario menilai besarannya kuota impor paku dan kawat yang diberikan juga berlebih.
"Mereka mengajukan angka yang fantastis. Bahkan ada dua perusahaan sudah mendapatkan izin impor 10 ribu ton per tahun. Jadi 2 perusahaan itu sama saja bikin satu pabrik di Indonesia, padahal kami pengusaha lokal sudah megap-megap," jelasnya.
Ario menegaskan sebenarnya produsen lokal mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hanya saja murah harga paku yang dijual para importir menyebabkan mereka tidak dapat berkompetisi.
"Ini terbukti, dalam tiga bulan terakhir produksi bagus karena importir sedang mengurus izin. Bahkan pabrik yang sudah koma bisa hidup lagi," ungkapnya.
Untuk itu Ario meminta kepada Depdag dan Deperin untuk bekerjasama untuk membatasi jumlah izin impor untuk paku dan kawat kepada importir terdaftar.
"Sebaiknya izin kuota impor yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri yang juga telah disesuaikan dengan kemampuan produsen dalam negeri untuk menyuplai paku dan kawat. Selain itu, juga harus dipantau apakah mereka membayar tarif yang berlaku," paparnya.
Ario juga berharap pemerintah untuk segera memutuskan dan menerapkan bea masuk safe guard yang telah diusulkan oleh Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI). Pada kesempatan yang sama pengurus IISIA, I Dulong memperkirakan produksi paku dalam negeri akan menurun dibandingkan tahun 2008.
"Estimasi kami produksi paku nasional akan turun sekitar 50-60 ribu ton. Dimana total produksi tahun lalu sekitar 76,628 ribu ton per tahun," jelas Dulong yang juga Presdir Batraja Makmur Wiretama. Ario memperkirakan impor paku dan kawat akan naik 200 persen dibandingkan impor 2008 yang mencapai 33 ribu ton. "Saya sampaikan kepada pemerintah apakah sudah menyaring importir dengan benar," kata Ario.
(epi/lih)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 11:31 WIB
Lippo Banderol Apartemen St. Moritz Tebaru Rp 2,5 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 11:26 WIB
Banyak Fiktif, Anggaran Perjalanan Dinas Dipangkas Demi Didik PNS
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
-
Kamis, 24/05/2012 10:44 WIB
Berjuang di Bisnis PC, HP Terpaksa PHK 25.000 Karyawan
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
