Esensi Divestasi Newmont Hilang
Senin, 13/07/2009 10:35 WIB
Foto: dok Detikcom
Jakarta - Pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya menggandeng anak usaha Bumi Resources yaitu Multicapital menjadi partner dalam pembelian saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Dengan adanya peran swasta, maka esensi divestasi Newmont dinilai sudah hilang.
Menurut Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, substansi divestasi Newmont adalah agar negara bisa ikut memiliki saham di pertambangan yang bernilai tinggi tersebut. Namun dengan kehadiran peran swasta yang dominan, maka kepemilikan saham Newmont justru akan jatuh ke tangan swasta.
"Esensi dari divestasi nggak tercapai kalau akhirnya jatuh ke swasta. Divestasi maksudnya kan karena tambangnya strageis, maka negara harus punya," kata Pri Agung saat dihubungi detikFinance, Senin (13/7/2009).
Dalam perusahaan baru yang akan dibentuk pemda NTB dan Multicapital, pemda hanya akan memiliki porsi 25 persen sementara Multicapital memiliki 75 persen. Belum diketahui kapan perusahaan patungan itu akan terbentuk.
Dengan jatuhnya saham NNT ke tangan swasta (Multicapital), bukan tidak mungkin kepemilikan atas NNT tersebut selanjutnya akan bergulir ke tangan swasta asing atau bahkan kembali ke Newmont.
"Suatu saat bisa jadi kembali ke Newmont lagi. Kalau pakai bendera yang berbeda, bisa gampang ganti kepemilikan, apalagi kalau perusahaannya terbuka dan diperdagangkan di bursa. Walau perusahaannya lokal, tapi kalau terbuka siapa saja bisa beli," tambahnya.
Kalaupun pemda NTB akhirnya resmi membeli saham NNT dengan menggandeng Multicapital, maka kontribusi dan manfaat yang didapat masing-masing pihak sebaiknya dijelaskan dengan transparan. Dari transparansi seperti itulah bisa diukur berapa keuntungan yang bisa masuk APBD dan kemudian bisa dinikmtai masyarakat setempat.
Proses divestasi saham NNT memang tidak bisa dikatakan mulus. Menurut Pri Agung, hal ini disebabkan pemerintah tidak memiliki kemauan yang tegas dan perencanaan yang jelas untuk membeli saham tersebut.
"Kalau memang ada kemauan politiknya, pasti dananya sudah disiapkan sejak 5 tahun lalu. Kalau memang tidak bisa langsung, ya disiapkan sedikit-sedikit. Pemerintah saja sulit menyediakan danaya, apalagi pemerintah daerah. Padahal kan divestasi NNT ini sudah ada jadwalnya sejak lama," katanya.
(lih/qom)
Menurut Direktur ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto, substansi divestasi Newmont adalah agar negara bisa ikut memiliki saham di pertambangan yang bernilai tinggi tersebut. Namun dengan kehadiran peran swasta yang dominan, maka kepemilikan saham Newmont justru akan jatuh ke tangan swasta.
"Esensi dari divestasi nggak tercapai kalau akhirnya jatuh ke swasta. Divestasi maksudnya kan karena tambangnya strageis, maka negara harus punya," kata Pri Agung saat dihubungi detikFinance, Senin (13/7/2009).
Dalam perusahaan baru yang akan dibentuk pemda NTB dan Multicapital, pemda hanya akan memiliki porsi 25 persen sementara Multicapital memiliki 75 persen. Belum diketahui kapan perusahaan patungan itu akan terbentuk.
Dengan jatuhnya saham NNT ke tangan swasta (Multicapital), bukan tidak mungkin kepemilikan atas NNT tersebut selanjutnya akan bergulir ke tangan swasta asing atau bahkan kembali ke Newmont.
"Suatu saat bisa jadi kembali ke Newmont lagi. Kalau pakai bendera yang berbeda, bisa gampang ganti kepemilikan, apalagi kalau perusahaannya terbuka dan diperdagangkan di bursa. Walau perusahaannya lokal, tapi kalau terbuka siapa saja bisa beli," tambahnya.
Kalaupun pemda NTB akhirnya resmi membeli saham NNT dengan menggandeng Multicapital, maka kontribusi dan manfaat yang didapat masing-masing pihak sebaiknya dijelaskan dengan transparan. Dari transparansi seperti itulah bisa diukur berapa keuntungan yang bisa masuk APBD dan kemudian bisa dinikmtai masyarakat setempat.
Proses divestasi saham NNT memang tidak bisa dikatakan mulus. Menurut Pri Agung, hal ini disebabkan pemerintah tidak memiliki kemauan yang tegas dan perencanaan yang jelas untuk membeli saham tersebut.
"Kalau memang ada kemauan politiknya, pasti dananya sudah disiapkan sejak 5 tahun lalu. Kalau memang tidak bisa langsung, ya disiapkan sedikit-sedikit. Pemerintah saja sulit menyediakan danaya, apalagi pemerintah daerah. Padahal kan divestasi NNT ini sudah ada jadwalnya sejak lama," katanya.
(lih/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 10:02 WIB
Equator Securities: IHSG Akan Menguat Terbatas
-
Jumat, 25/05/2012 09:58 WIB
Spanola Tambah Saham, RICY Menuju Rp 500?
-
Jumat, 25/05/2012 09:54 WIB
Semesta Indovest: Bursa Berpeluang Masuk Zona Hijau
-
Jumat, 25/05/2012 09:43 WIB
Lautandhana Securindo: Indeks Masih akan Fluktuatif
-
Jumat, 25/05/2012 09:36 WIB
Pasar Global Belum Kondusif, IHSG Melemah 16 Poin
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:33 WIB
8 Cara Mudah Genjot Modal Usaha
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Kemenkeu Klaim Pembenahan di Ditjen Pajak Terus Berjalan
-
Jumat, 25/05/2012 08:20 WIB
Adhi Karya Terbitkan Surat Utang Rp 1,5 Triliun
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
