detikfinance

BI: Inflasi 2009 Bisa 4%

Wahyu Daniel - detikfinance
Selasa, 14/07/2009 09:40 WIB
Foto: Wahyu/detikFinance
Jakarta - Target inflasi 2009 sebesar 4% seperti yang pernah diutarakan Presiden SBY diamini Bank Indonesia (BI). Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengakui inflasi 4% di 2009 bisa tercapai.

"Kalau inflasi kita lihat tahun ini memang bisa di sekitar 4%. Kalau sesuai dengan prediksi tidak kena shock lagi, itu bisa," ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin malam (13/7/2009).

Hartadi mengatakan faktor yang mendukung inflasi 2009 bisa mencapai 4% antara lain karena produksi dalam negeri mencukupi.

"Kemudian imported inflation tidak ada, karena harga komoditi di dunia turun semua, kemudian pasokan pangan selama semester I ini kelihatan sangat baik sekali," katanya.

Namun Hartadi mengatakan, tekanan inflasi 2010 perlu diwaspadai karena pemulihan ekonomi bisa memicu peningkatan permintaan sehingga potensi inflasi meningkat.

"Tekanan dari demand baik dari domestik maupun dari luar negeri sudah mulai ada di 2010, beda dengan 2009. Kemungkinan dengan perbaikan recovery dunia, harga komoditas biasanya ikut naik, minyak salah satu contohnya, minyak dan palm oil," tuturnya.

Dikatakan Hartadi dengan kemungkinan harga komoditi yang naik di 2010, maka tarif listrik dan PAM akan turut berubah. "Tapi mudah-mudahan perubahan itu nggak terlalu besar sehingga tekanannya bisa kita perhitungkan," imbuhnya.

Sementara untuk BI Rate yang diperkirakan bisa mencapai 6% sampai akhir 2009, Hartadi tidak berani berspekulasi.

"Kalau BI Rate itu bukan hanya inflasi yang sekarang saja, tapi harus lihat apakah ada tekanan paling tidak sampai tahun depan, kalau nanti sudah recover global domestik semua recover, demand pressure-nya akan naik, belum lagi kalau ada harga-harga komoditi yang naik seperti minyak, itu akan menambah tekanan pada inflasi, itu mungkin terjadi tahun depan di 2010," paparnya.

Selain itu, menanggapi kemungkinan berlanjutnya pemerintah SBY, Hartadi mengatakan ini akan meningkatkan kepercayaan investor.

"Kalau kita lihat para investor yang penting confidence, dicari keadaan ke depan, kalau ketidakpastian berkurang itu akan menambah confidence banyak investor yang wait and see," ujarnya.

Kemudian menanggapi rencana Moody's yang dikabarkan akan mereview rating Indonesia lebih cepat, Hartadi mengatakan hal itu wajar melihat prospek ekonomi Indonesia yang bagus.

"Prospek ekonomi Indonesia dengan situasi yang berat di 2009, masih survive apalagi kalau ditambah dengan recovery ekonomi dunia," katanya.

Kemudian dengan ketahanan Indonesia yang kuat dimana jumlah cadangan devisa mencukupi dan juga kerjasama Bilateral Swap Agreement (BSA) menjadi pertimbangan.

"Saya kira begitu, Moody's juga saya kira melihatnya seperti itu, bahwa resiliensi dari Indonesia karena kita punya cadangan devisa yang cukup, kalaupun terjadi shock kita punya bantalan lain, BSA dolar maupun currency swap seperti yen dan reinmimbi," pungkasnya.


(dnl/lih)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.