Pengusaha Sawit Desak Pemerintah Tidak Tetapkan BK CPO Progresif
Sabtu, 25/07/2009 10:49 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Gabungan Kelapa Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mendesak pemerintah untuk kembali mengkaji penerapan bea keluar minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang tidak bersifat progresif. Gapki menginginkan bea keluar ditetapkan fix dengan batas harga dasar US$ 700 per ton.
Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan secara prinsip pihaknya setuju dengan adanya ketentuan bea keluar namun jika dilakukan progresif maka berdampak pada distorsi Industri CPO di dalam negeri.
Pasalnya selama ini industri proccesor (produsen migor) akan terumbang-ambing oleh fluktuasi harga CPO dunia yang berakibat pada harga migor di masyarakat yang cederung fluktuatif.
"Kami mengharapkan PE (bea keluar) itu sebuah pajak yang fix , pada tingkat harga tertentu. Misalnya kalau US$ 700 per ton, maka PE-nya 2,5%, kalau meningkat ya tetap 2,5%," imbuh Fadhil di Departemen Perindustrian Jumat, sore (24/7/2009).
Ia juga mengatakan selama ini produksi CPO Indonesia dan ekspor CPO terus meningkat meski diberlakukan bea keluar progresif, namun jika tidak diberlakukan bea keluar dipastikan akan lebih meningkat lagi.
"Saya setuju pada pajak ekspor tapi dalam tingkatan fix ," katanya.
Ia juga mengeluhkan selama ini banyak kondisi internal didalam negeri misalnya regulasi, infrastruktur yang membuat daya saing produk CPO Indonesia harus tergeser oleh Malaysia yang menjadi pesaing kuat di bidang CPO. Masalah-masalah itu mencakup mulai dari pungutan resmi (bea keluar), tidak resmi dan lain-lain yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
"Harga CPO kita sekarang ini terdiskon US$ 10 per ton, akibat infrastruktur yang tidak memadai misalnya karena delay (pengiriman)," katanya.
Dalam ketentuan bea keluar produk-produk sawit termasuk CPO ditetapkan bea keluar ketika harga rata-rata CPO (Rotterdam) 20 hari pertama selama satu bulan sudah diatas US$ 700 per ton. Jika rentang harganya US$ 700-US$ 750 maka bea keluarnya 1,5%, US$ 751-US$ 800 bea keluarnya 3%, US$ 801-US$ 850 bea keluarnya 4,5% dan seterusnya.
Sementara itu Direktur Industri Makanan dan Minuman Ditjen Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Yelita Basri mengatakan selama ini penerapan bea keluar progresif mengedepankan prinsip keadilan dimana ketika harga CPO dunia naik maka dalam hal ini pemerintah mencoba mengambil sedikit kelebihan dari produsen CPO untuk pendapatan negara dari bea keluar.
"Uang PE (bea keluar) sebagian kita kembalikan, misalnya dalam bentuk BLT, PPN ditanggung pemerintah, program Minyakita dan subsidi lainnya," jelas Yelita.
(hen/dnl)
Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan secara prinsip pihaknya setuju dengan adanya ketentuan bea keluar namun jika dilakukan progresif maka berdampak pada distorsi Industri CPO di dalam negeri.
Pasalnya selama ini industri proccesor (produsen migor) akan terumbang-ambing oleh fluktuasi harga CPO dunia yang berakibat pada harga migor di masyarakat yang cederung fluktuatif.
"Kami mengharapkan PE (bea keluar) itu sebuah pajak yang fix , pada tingkat harga tertentu. Misalnya kalau US$ 700 per ton, maka PE-nya 2,5%, kalau meningkat ya tetap 2,5%," imbuh Fadhil di Departemen Perindustrian Jumat, sore (24/7/2009).
Ia juga mengatakan selama ini produksi CPO Indonesia dan ekspor CPO terus meningkat meski diberlakukan bea keluar progresif, namun jika tidak diberlakukan bea keluar dipastikan akan lebih meningkat lagi.
"Saya setuju pada pajak ekspor tapi dalam tingkatan fix ," katanya.
Ia juga mengeluhkan selama ini banyak kondisi internal didalam negeri misalnya regulasi, infrastruktur yang membuat daya saing produk CPO Indonesia harus tergeser oleh Malaysia yang menjadi pesaing kuat di bidang CPO. Masalah-masalah itu mencakup mulai dari pungutan resmi (bea keluar), tidak resmi dan lain-lain yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
"Harga CPO kita sekarang ini terdiskon US$ 10 per ton, akibat infrastruktur yang tidak memadai misalnya karena delay (pengiriman)," katanya.
Dalam ketentuan bea keluar produk-produk sawit termasuk CPO ditetapkan bea keluar ketika harga rata-rata CPO (Rotterdam) 20 hari pertama selama satu bulan sudah diatas US$ 700 per ton. Jika rentang harganya US$ 700-US$ 750 maka bea keluarnya 1,5%, US$ 751-US$ 800 bea keluarnya 3%, US$ 801-US$ 850 bea keluarnya 4,5% dan seterusnya.
Sementara itu Direktur Industri Makanan dan Minuman Ditjen Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Yelita Basri mengatakan selama ini penerapan bea keluar progresif mengedepankan prinsip keadilan dimana ketika harga CPO dunia naik maka dalam hal ini pemerintah mencoba mengambil sedikit kelebihan dari produsen CPO untuk pendapatan negara dari bea keluar.
"Uang PE (bea keluar) sebagian kita kembalikan, misalnya dalam bentuk BLT, PPN ditanggung pemerintah, program Minyakita dan subsidi lainnya," jelas Yelita.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 12:02 WIB
Ucapan Jero Wacik Bikin Khawatir Pertamina & Pengusaha SPBU di Kalimantan
-
Kamis, 24/05/2012 12:02 WIB
Anggota DPR: Benahi Dulu Pelayanan, Baru PNS Naik Gaji
-
Kamis, 24/05/2012 11:50 WIB
Ranch Market Tawarkan Saham IPO Rp 425- 510
-
Kamis, 24/05/2012 11:50 WIB
PNS Indonesia Kalah dengan Singapura karena Jarang Dididik
-
Kamis, 24/05/2012 11:31 WIB
Lippo Banderol Apartemen St. Moritz Tebaru Rp 2,5 Miliar
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
