Pemerintah akan Terapkan Bea Keluar Kakao
Jumat, 14/08/2009 15:56 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Di tengah naiknya harga kakao internasional dan juga untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri, pemerintah berencanan untuk menerapkan tarif Bea Keluar (BK) untuk ekspor kakao ke luar negeri.
Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (14/8/2009).
"Tapi belum ada besarannya, itu perhitungannya berapa besar belum ada, tapi rekomendasi di kita. Itu berdasarkan PMK (Peraturan Menteri Keuangan) yang nanti akan digodok," ujarnya.
Bayu mengatakan penerapan BK ini dilakukan supaya penyerapan di dalam negeri lebih baik. Apalagi jika revitalisasi perkebunan kakao di Sulawesi berhasil, maka akan terjadi lonjakan produksi coklat di dalam negeri.
"Di sisi lain ekspor ditengarai dikuasai oleh beberapa pedagang internasional besar. Kalau meningkat akan tergantung ekspor. Pengalaman krisis dan lain-lain kalau terlalu tergantung ekspor, kalau ada shock di luar negeri maka kita hadapi masalah, sehingga perlu diversifikasi dengan pengembangan pasar dalam negeri," tuturnya.
Alasan lain penerapan BK ini, dikatakan Bayu, karena negara lain seperti Malaysia menerapkan diskriminasi. Dimana kalau Indonesia mengekspor barang mentah ke Malaysia maka akan kena tarif Bea Masuk 0%. Namun jika yang diekspor merupakan barang jadi atau setengah jadi, maka akan dikenakan tarif.
"Untuk counter itu kita bikin di sini, kalau ekspor kena BK. Kalau setengah jadi atau jadi kita turunkan tarifnya lebih kecil. Kita ingin diversifikasi penyerapan industri dalam negeri dan perilaku eksportir dan tata niaga yang perlu perbaikan, jadi bukan hanya BK tapi juga mutu," jelasnya.
Pengenaan BK ini akan diterapkan secepatnya. Dalam setahun jumlah ekspor kakao Indonesia adalah 500 ribu ton, dan jika revitalisasi perkebunan di Sulawesi selesai maka ekspor kakao bisa meningkat 2 kali lipat.
"Dari 11 industri pengelolah coklat yang bertahan 4 saja, sisanya mati. Karena semua terdorong ekspor biji, ada player besar yang bermain sampai ke petani," tandasnya.
(dnl/qom)
Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (14/8/2009).
"Tapi belum ada besarannya, itu perhitungannya berapa besar belum ada, tapi rekomendasi di kita. Itu berdasarkan PMK (Peraturan Menteri Keuangan) yang nanti akan digodok," ujarnya.
Bayu mengatakan penerapan BK ini dilakukan supaya penyerapan di dalam negeri lebih baik. Apalagi jika revitalisasi perkebunan kakao di Sulawesi berhasil, maka akan terjadi lonjakan produksi coklat di dalam negeri.
"Di sisi lain ekspor ditengarai dikuasai oleh beberapa pedagang internasional besar. Kalau meningkat akan tergantung ekspor. Pengalaman krisis dan lain-lain kalau terlalu tergantung ekspor, kalau ada shock di luar negeri maka kita hadapi masalah, sehingga perlu diversifikasi dengan pengembangan pasar dalam negeri," tuturnya.
Alasan lain penerapan BK ini, dikatakan Bayu, karena negara lain seperti Malaysia menerapkan diskriminasi. Dimana kalau Indonesia mengekspor barang mentah ke Malaysia maka akan kena tarif Bea Masuk 0%. Namun jika yang diekspor merupakan barang jadi atau setengah jadi, maka akan dikenakan tarif.
"Untuk counter itu kita bikin di sini, kalau ekspor kena BK. Kalau setengah jadi atau jadi kita turunkan tarifnya lebih kecil. Kita ingin diversifikasi penyerapan industri dalam negeri dan perilaku eksportir dan tata niaga yang perlu perbaikan, jadi bukan hanya BK tapi juga mutu," jelasnya.
Pengenaan BK ini akan diterapkan secepatnya. Dalam setahun jumlah ekspor kakao Indonesia adalah 500 ribu ton, dan jika revitalisasi perkebunan di Sulawesi selesai maka ekspor kakao bisa meningkat 2 kali lipat.
"Dari 11 industri pengelolah coklat yang bertahan 4 saja, sisanya mati. Karena semua terdorong ekspor biji, ada player besar yang bermain sampai ke petani," tandasnya.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 12:21 WIB
Warga Kalimantan Hanya Ingin BBM Subsidi, Pertamax Cs Tak Laku
-
Kamis, 24/05/2012 12:20 WIB
Perlukah Anggota DPR Naik Gaji Tahun Depan?
-
Kamis, 24/05/2012 12:14 WIB
Uni Eropa Suntik Bank 'Sakit' Pakai Dana Bailout
-
Kamis, 24/05/2012 12:07 WIB
Bergerak Fluktuatif, IHSG Rehat di 3.972
-
Kamis, 24/05/2012 12:02 WIB
Ucapan Jero Wacik Bikin Khawatir Pertamina & Pengusaha SPBU di Kalimantan
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
