RI Minta Australia Cabut Anti-Dumping Kertas Toilet
Rabu, 26/08/2009 11:40 WIB
Foto: Suhendra-detikFinance
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan optimisnya terhadap upaya protes mengenai kebijakan pengenaan anti-dumping bagi produk kertas toilet Indonesia oleh Australia. Ia memperkirakan paling lambat akhir tahun ini pengenaan anti dumping tersebut berpeluang dicabut oleh otoritas pemerintah Australia.
"Kita berharap hal itu bisa dicabut pada akhir tahun 2009 ini," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam acara rapat kerja dengan komisi VI DPR-RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu dinihari (26/8/2009).
Mari mengatakan pihaknya sejak lama telah mengajukan keberatan terhadap keputusan Australia mengenai pengenaan anti-dumping kertas toilet asal Indonesia yang telah dilakukan sejak tahun lalu. Ia menilai dalam proses investigasi, pemerintah Australia melakukan langkah yang tidak fair .
"Karena kita mengganggap tidak fair ," katanya.
Mengenai melunaknya Australia terhadap kebijakan ini, sebenarnya sudah sejak lama disampaikan oleh Mari pemerintah Australia telah melakukan berbagai upaya evaluasi terkait keberatan Indonesia khususnya dalam kasus pengenaan anti dumping kertas toilet.
"Melalui perdagangan multilateral, Indonesia berupaya maksimal memanfaatkan persetujuan WTO, termasuk dengan memanfaatkan lembaga DSU untuk menyelesaikan kasus-kasus tuduhan dumping," tegas Mari.
Mari menambahkan berdasarkan data Departemen Perdagangan hingga Juni 2009 setidaknya sudah ada 187 kasus tuduhan terhadap Indonesia diantaranya 157 kasus tuduhan dumping, 11 kasus tuduhan subsidi, 19 kasus tuduhan safeguard .
Ia mengatakan selama 2005-2009 Depdag telah melakukan pembelaan terhadap produk ekspor Indonesia yang terkena tuduhan dumping. Diantaranya sebanyak 85 kasus telah dihentikan mencakup 74 kasus dumping, 6 kasus subsidi, dan 5 kasus safeguard . Untuk kasus yang telah dikenakan mencapai 76 kasus meliputi 62 kasus dumping, 5 kasus subsidi dan 9 kasus safeguard .
Sementara sampai saat ini ada sebanyak 26 kasus dalam proses penyelidikan negara penuduh, meliputi 21 kasus dumping dan 5 kasus safeguard .
"Untuk dumping paling banyak yang kita kena adalah benang sintetis dan ban, karena kita memang kompetitif," katanya.
(hen/dnl)
"Kita berharap hal itu bisa dicabut pada akhir tahun 2009 ini," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam acara rapat kerja dengan komisi VI DPR-RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu dinihari (26/8/2009).
Mari mengatakan pihaknya sejak lama telah mengajukan keberatan terhadap keputusan Australia mengenai pengenaan anti-dumping kertas toilet asal Indonesia yang telah dilakukan sejak tahun lalu. Ia menilai dalam proses investigasi, pemerintah Australia melakukan langkah yang tidak fair .
"Karena kita mengganggap tidak fair ," katanya.
Mengenai melunaknya Australia terhadap kebijakan ini, sebenarnya sudah sejak lama disampaikan oleh Mari pemerintah Australia telah melakukan berbagai upaya evaluasi terkait keberatan Indonesia khususnya dalam kasus pengenaan anti dumping kertas toilet.
"Melalui perdagangan multilateral, Indonesia berupaya maksimal memanfaatkan persetujuan WTO, termasuk dengan memanfaatkan lembaga DSU untuk menyelesaikan kasus-kasus tuduhan dumping," tegas Mari.
Mari menambahkan berdasarkan data Departemen Perdagangan hingga Juni 2009 setidaknya sudah ada 187 kasus tuduhan terhadap Indonesia diantaranya 157 kasus tuduhan dumping, 11 kasus tuduhan subsidi, 19 kasus tuduhan safeguard .
Ia mengatakan selama 2005-2009 Depdag telah melakukan pembelaan terhadap produk ekspor Indonesia yang terkena tuduhan dumping. Diantaranya sebanyak 85 kasus telah dihentikan mencakup 74 kasus dumping, 6 kasus subsidi, dan 5 kasus safeguard . Untuk kasus yang telah dikenakan mencapai 76 kasus meliputi 62 kasus dumping, 5 kasus subsidi dan 9 kasus safeguard .
Sementara sampai saat ini ada sebanyak 26 kasus dalam proses penyelidikan negara penuduh, meliputi 21 kasus dumping dan 5 kasus safeguard .
"Untuk dumping paling banyak yang kita kena adalah benang sintetis dan ban, karena kita memang kompetitif," katanya.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Jakarta Setiabudi Bagi-bagi Dividen Rp 10 per Lembar
-
Kamis, 24/05/2012 12:21 WIB
Warga Kalimantan Hanya Ingin BBM Subsidi, Pertamax Cs Tak Laku
-
Kamis, 24/05/2012 12:20 WIB
Perlukah Anggota DPR Naik Gaji Tahun Depan?
-
Kamis, 24/05/2012 12:14 WIB
Uni Eropa Suntik Bank 'Sakit' Pakai Dana Bailout
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 10:59 WIB
Tanri Abeng Si 'Manajer Rp 1 Miliar' Memulai Bisnis dari Jualan Pisang
Tanri Abeng mengaku pernah mengalami masa-masa sulit semenjak kecil. Kini ia menjadi pengusaha sukses, yang diawalinya dari jualan pisang ketika kecil.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
