LPS: Deposan Besar Masih Ngendon di Bank Century
Senin, 31/08/2009 08:34 WIB
Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan, deposan-deposan besar Bank Century hingga kini masih bertahan meski bank yang dulunya dimiliki Robert Tantular itu sempat didera kasus gagal kliring.
Menurut Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani, nasabah-nasabah besar itu paling-paling hanya mengambil 10 persen dananya untuk kegiatan operasionalnya.
"Dananya masih stay (deposan terbesar), kalau ambil paling 10 persen saja dan itu hal biasa, karena nasabah tersebut biasa bayar pajak gaji, operasional dan keperluan bulanan," jelas Firdaus usai Konferensi Pers LPS di Kantornya, Gedung BRI II, Jakarta, Minggu malam (30/08/2009).
Sayangnya, Firdaus tidak menyebutkan siapa saja deposan-deposan besar Bank Century tersebut. Menjadi kebijakan sebuah bank untuk menjaga kerahasiaan para nasabahnya.
Dikatakannya, komposisi deposito saat ini sesuai dengan standar-standar bank di Indonesia yakni mencapai 60 persen dari komposisi total Dana Pihak Ketiga (DPK).
"Dari total DPK sebesar Rp 9,9 triliun, DPK yang berada sesuai dengan penjaminan LPS atau dibawah Rp 2 miliar berjumlah Rp 5,2 Triliun," ungkapnya.
Ia mengatakan, komposisi tersebut terdiri dari 40 persen dana korporat dan 60 persen dana nasabah individu. Korporat tersebut termasuk dari BUMN dan non BUMN.
Terkait tambahan bailout hingga Rp 6,7 triliun yang kabarnya untuk membayar dana deposan, Firdaus menyatakan bahwa tugas LPS hanya sebatas sebagai penyalur modal tambahan jika rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century tergerus.
Kebijakan pembayaran kepada deposan-deposan yang telah jatuh tempo merupakan hak penuh dari manajemen Century saat ini.
"Ketika dana ditempatkan (disuntikan) ke Bank Century, semata-mata merupakan upaya kami untuk menjadikan Century menjadi sehat, bagaimana penggunaannya akan diserahkan pada pihak manajemen," ujarnya.
Firdaus menjelaskan, penggunaan dana sepenuhnya berada dipihak manajemen. "Dia bisa memakai dana tersebut untuk membayar dana nasabah century yang punya deposito dan telah jatuh tempo dan tidak mau diperpanjang lagi," katanya.
Selain itu, Firdaus mengemukakan dana total sebesar Rp 6,7 triliun yang telah disuntik LPS juga ada yang dipakai oleh Century untuk ditaruh di Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
"Sekitar Rp 2,2 triliun masih di SUN dan SBI," jelasnya.
(dru/qom)
Menurut Kepala Eksekutif LPS, Firdaus Djaelani, nasabah-nasabah besar itu paling-paling hanya mengambil 10 persen dananya untuk kegiatan operasionalnya.
"Dananya masih stay (deposan terbesar), kalau ambil paling 10 persen saja dan itu hal biasa, karena nasabah tersebut biasa bayar pajak gaji, operasional dan keperluan bulanan," jelas Firdaus usai Konferensi Pers LPS di Kantornya, Gedung BRI II, Jakarta, Minggu malam (30/08/2009).
Sayangnya, Firdaus tidak menyebutkan siapa saja deposan-deposan besar Bank Century tersebut. Menjadi kebijakan sebuah bank untuk menjaga kerahasiaan para nasabahnya.
Dikatakannya, komposisi deposito saat ini sesuai dengan standar-standar bank di Indonesia yakni mencapai 60 persen dari komposisi total Dana Pihak Ketiga (DPK).
"Dari total DPK sebesar Rp 9,9 triliun, DPK yang berada sesuai dengan penjaminan LPS atau dibawah Rp 2 miliar berjumlah Rp 5,2 Triliun," ungkapnya.
Ia mengatakan, komposisi tersebut terdiri dari 40 persen dana korporat dan 60 persen dana nasabah individu. Korporat tersebut termasuk dari BUMN dan non BUMN.
Terkait tambahan bailout hingga Rp 6,7 triliun yang kabarnya untuk membayar dana deposan, Firdaus menyatakan bahwa tugas LPS hanya sebatas sebagai penyalur modal tambahan jika rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century tergerus.
Kebijakan pembayaran kepada deposan-deposan yang telah jatuh tempo merupakan hak penuh dari manajemen Century saat ini.
"Ketika dana ditempatkan (disuntikan) ke Bank Century, semata-mata merupakan upaya kami untuk menjadikan Century menjadi sehat, bagaimana penggunaannya akan diserahkan pada pihak manajemen," ujarnya.
Firdaus menjelaskan, penggunaan dana sepenuhnya berada dipihak manajemen. "Dia bisa memakai dana tersebut untuk membayar dana nasabah century yang punya deposito dan telah jatuh tempo dan tidak mau diperpanjang lagi," katanya.
Selain itu, Firdaus mengemukakan dana total sebesar Rp 6,7 triliun yang telah disuntik LPS juga ada yang dipakai oleh Century untuk ditaruh di Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
"Sekitar Rp 2,2 triliun masih di SUN dan SBI," jelasnya.
(dru/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 11:42 WIB
3 Bulan Lagi Jatah BBM Subsidi di Kalimantan Habis
-
Jumat, 25/05/2012 11:40 WIB
Kalimantan Minta Tambah Jatah BBM, Ini Tanggapan Pengusaha SPBU
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Investor Asing 'Kabur' Dari Bursa, IHSG Anjlok 92 Poin
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Agus Marto: 40% Anggaran Perjalanan Dinas Dikorpusi PNS
-
Jumat, 25/05/2012 11:30 WIB
Wah! Uang Perjalanan Dinas Dipakai PNS Untuk Tambahan THR
-
Jumat, 25/05/2012 11:01 WIB
Sudah 20 Tahun Atlet Eropa Pakai Sepatu Made in Tangerang
-
Jumat, 25/05/2012 10:56 WIB
Kegagalan IPO Facebook Jadi Peringatan Awal Bagi Investor
-
Jumat, 25/05/2012 10:48 WIB
Ini Penyebab Jebolnya BBM Subsidi di Kalimantan
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Telat Laporkan Kinerja Keuangan, Bank Mutiara Diomelin Bursa
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
