Bea Cukai 'Gerah' Penetapan HPE CPO RI Rendah
Rabu, 09/09/2009 16:30 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Direktorat Jenderal Bea Cukai mendesak Departemen Perdagangan untuk lebih antisipatif dalam menentukan besaran harga patokan ekspor (HPE) minyak sawit mentah (CPO) Indonesia.
Pasalnya selama ini penetapan HPE seringkali berselisih jauh dengan harga CPO internasional di Rotterdam.
Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi mengatakan dengan kondisi demikian potensi pendapatan penerimaan negara dari bea keluar CPO berpeluang semakin menciut. Padahal ia harus mengejar target pendapatan bea keluar yang tahun ini mencapai Rp 1,3 triliun.
"Saya sudah sampaikan kepada Ibu Menteri Keuangan, mengenai penetapan harga patokan ekspor (HPE) CPO, itu perlu ditinjau ulang," katanya.
Ia menambahkan dengan penetapan HPE CPO yang tidak terlalu berselisih jauh dengan harga internasional, maka dampaknya tidak akan terlalu merugikan potensi penerimaan negara dari bea keluar.
Mengingat selama ini HPE menjadi faktor pengali dalam setiap penetapan persentase bea keluar CPO, meski pada saat bea keluar 0% HPE berapapun tak memiliki pengaruh dari sisi pendapatan.
"HPE ditetapkan oleh Mendag meski ketentuan bea keluar di atas US$ 700, tapi HPE bisa di bawah itu, yang dikenakan," katanya.
Ia mengharapkan agar ada kebijakan yang jelas dalam menentukan kebijakan produk kelapa sawit di dalam negeri.
Yaitu dari sisi pemenuhan kebutuhan pasokan CPO di dalam negeri dengan upaya menggenjot pendapatan bea keluar pemerintah dari CPO, salah satunya dengan meninjau ulang penetapan HPE.
Saat ini pemerintah terkesan untuk fokus pada upaya stabilitas pasokan CPO di dalam negeri untuk menstabilkan harga produk turunannya, namun faktanya harga minyak goreng dalam negeri justru masih tinggi.
Artinya penetapan HPE rendah tidak menjamin adanya penurunan harga produk turunan CPO termasuk minyak goreng.
"Saya tidak bemaksud mempertentangkan dua hal itu (pendapatan dan pasokan CPO dalam negeri), tetapi saya minta Depdag lebih antisipatiflah," serunya.
Seperti diketahui realisasi Bea Keluar hingga periode 31 Agustus 2009 hanya sebesar Rp 520,7 miliar, padahal target akhir Agustus sebesar Rp 933 miliar atau masih kurang Rp 412,3 miliar, dengan target sampai akhir tahun 2009 sebesar Rp 1,3 triliun.
(hen/dnl)
Pasalnya selama ini penetapan HPE seringkali berselisih jauh dengan harga CPO internasional di Rotterdam.
Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi mengatakan dengan kondisi demikian potensi pendapatan penerimaan negara dari bea keluar CPO berpeluang semakin menciut. Padahal ia harus mengejar target pendapatan bea keluar yang tahun ini mencapai Rp 1,3 triliun.
"Saya sudah sampaikan kepada Ibu Menteri Keuangan, mengenai penetapan harga patokan ekspor (HPE) CPO, itu perlu ditinjau ulang," katanya.
Ia menambahkan dengan penetapan HPE CPO yang tidak terlalu berselisih jauh dengan harga internasional, maka dampaknya tidak akan terlalu merugikan potensi penerimaan negara dari bea keluar.
Mengingat selama ini HPE menjadi faktor pengali dalam setiap penetapan persentase bea keluar CPO, meski pada saat bea keluar 0% HPE berapapun tak memiliki pengaruh dari sisi pendapatan.
"HPE ditetapkan oleh Mendag meski ketentuan bea keluar di atas US$ 700, tapi HPE bisa di bawah itu, yang dikenakan," katanya.
Ia mengharapkan agar ada kebijakan yang jelas dalam menentukan kebijakan produk kelapa sawit di dalam negeri.
Yaitu dari sisi pemenuhan kebutuhan pasokan CPO di dalam negeri dengan upaya menggenjot pendapatan bea keluar pemerintah dari CPO, salah satunya dengan meninjau ulang penetapan HPE.
Saat ini pemerintah terkesan untuk fokus pada upaya stabilitas pasokan CPO di dalam negeri untuk menstabilkan harga produk turunannya, namun faktanya harga minyak goreng dalam negeri justru masih tinggi.
Artinya penetapan HPE rendah tidak menjamin adanya penurunan harga produk turunan CPO termasuk minyak goreng.
"Saya tidak bemaksud mempertentangkan dua hal itu (pendapatan dan pasokan CPO dalam negeri), tetapi saya minta Depdag lebih antisipatiflah," serunya.
Seperti diketahui realisasi Bea Keluar hingga periode 31 Agustus 2009 hanya sebesar Rp 520,7 miliar, padahal target akhir Agustus sebesar Rp 933 miliar atau masih kurang Rp 412,3 miliar, dengan target sampai akhir tahun 2009 sebesar Rp 1,3 triliun.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Jakarta Setiabudi Bagi-bagi Dividen Rp 10 per Lembar
-
Kamis, 24/05/2012 12:21 WIB
Warga Kalimantan Hanya Ingin BBM Subsidi, Pertamax Cs Tak Laku
-
Kamis, 24/05/2012 12:20 WIB
Perlukah Anggota DPR Naik Gaji Tahun Depan?
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 09:08 WIB
The Signature Tower Angkat Nama Indonesia di Internasional
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
