PPA Belum Putuskan Pertamina Harus Lepas 16 Anak Usaha Non Inti
Rabu, 16/09/2009 13:01 WIB
Foto: PPA
Jakarta - PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) melaporkan ada 16 anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di luar bisnis inti Pertamina yaitu di sektor pertambangan. PPA akan mengkaji apakah anak-anak usaha Pertamina tersebut perlu dipertahankan.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PPA Boyke Mukijat di kantornya, Jakarta, Selasa malam (15/9/2009).
"Menurut laporan, terdapat 16 anak perusahaan Pertamina, non core business (bisnis inti). 11 diantaranya di bidang properti dan 5 sisanya di saham. Mereka diantaranya adalah Patra Dokumen, Hotel Patra Jasa, Pipe Indo Jaya, dan Pertamina Drilling Services," tuturnya.
Boyke mengatakan, PPA mendapat tugas tambahan dari Menneg BUMN untuk mengelola aset-aset BUMN bergerak di luar bisnis inti BUMN yang bersangkutan.
"Banyak BUMN yang mempunyai usaha (melalui anak perusahaannya) yang tidak berhubungan dengan bisnis inti mereka. PAL yang mempunyai Rumah Sakit, Pertamina punya Hotel Patra Jasa, ataupun perusahaan pengelola pipa. Untuk apa? lebih baik mereka berkonsentrasi kepada core business -nya," katanya.
Untuk Pertamina, Boyke mengatakan saat ini PPA tengah dalam finalisasi kajian anak usaha Pertamina tersebut.
"Dalam tahap ini, banyak terjadi adjustment dan banyak effort , sebelum terjadi rekomendasi terhadap aset. Pengkajian bersamaan dengan penghitungan aset oleh penilai independen, untuk mengetahui nilai penyempurnaan dokumen di tiap-tiap anak perusahaan," katanya.
Menurut Boyke, bisa saja nantinya PPA memberikan rekomendasi kepada Pertamina untuk menyatukan anak-anak usaha yang tidak berhubungan dengan bisnis intinya.
"Untuk membentuk perusahaan baru, hingga pengerjaannya lebih fokus. Ada beberapa BUMN yang punya hotel, mereka bisa disatukankan. Tugas tambahan ini tetap mengikuti guidance yang ada. Yaitu setelah anak-anak perusahaan dikaji, maka PPA melahirkan alternatif solusi," jelasnya.
Solusi yang dikeluarkan PPA nantinya diserahkan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi yang terdiri dari Kementerian Negara BUMN, Departemen Keuangan, dan Kementerian Teknis lain.
"Alternatif solusi tersebut akan bisa dilaksanakan PPA jika telah mendapatkan approval dari minimal 2 departemen tersebut," tutupnya.
(dnl/qom)
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PPA Boyke Mukijat di kantornya, Jakarta, Selasa malam (15/9/2009).
"Menurut laporan, terdapat 16 anak perusahaan Pertamina, non core business (bisnis inti). 11 diantaranya di bidang properti dan 5 sisanya di saham. Mereka diantaranya adalah Patra Dokumen, Hotel Patra Jasa, Pipe Indo Jaya, dan Pertamina Drilling Services," tuturnya.
Boyke mengatakan, PPA mendapat tugas tambahan dari Menneg BUMN untuk mengelola aset-aset BUMN bergerak di luar bisnis inti BUMN yang bersangkutan.
"Banyak BUMN yang mempunyai usaha (melalui anak perusahaannya) yang tidak berhubungan dengan bisnis inti mereka. PAL yang mempunyai Rumah Sakit, Pertamina punya Hotel Patra Jasa, ataupun perusahaan pengelola pipa. Untuk apa? lebih baik mereka berkonsentrasi kepada core business -nya," katanya.
Untuk Pertamina, Boyke mengatakan saat ini PPA tengah dalam finalisasi kajian anak usaha Pertamina tersebut.
"Dalam tahap ini, banyak terjadi adjustment dan banyak effort , sebelum terjadi rekomendasi terhadap aset. Pengkajian bersamaan dengan penghitungan aset oleh penilai independen, untuk mengetahui nilai penyempurnaan dokumen di tiap-tiap anak perusahaan," katanya.
Menurut Boyke, bisa saja nantinya PPA memberikan rekomendasi kepada Pertamina untuk menyatukan anak-anak usaha yang tidak berhubungan dengan bisnis intinya.
"Untuk membentuk perusahaan baru, hingga pengerjaannya lebih fokus. Ada beberapa BUMN yang punya hotel, mereka bisa disatukankan. Tugas tambahan ini tetap mengikuti guidance yang ada. Yaitu setelah anak-anak perusahaan dikaji, maka PPA melahirkan alternatif solusi," jelasnya.
Solusi yang dikeluarkan PPA nantinya diserahkan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi yang terdiri dari Kementerian Negara BUMN, Departemen Keuangan, dan Kementerian Teknis lain.
"Alternatif solusi tersebut akan bisa dilaksanakan PPA jika telah mendapatkan approval dari minimal 2 departemen tersebut," tutupnya.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 11:42 WIB
3 Bulan Lagi Jatah BBM Subsidi di Kalimantan Habis
-
Jumat, 25/05/2012 11:40 WIB
Kalimantan Minta Tambah Jatah BBM, Ini Tanggapan Pengusaha SPBU
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Investor Asing 'Kabur' Dari Bursa, IHSG Anjlok 92 Poin
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Agus Marto: 40% Anggaran Perjalanan Dinas Dikorupsi PNS
-
Jumat, 25/05/2012 11:30 WIB
Wah! Uang Perjalanan Dinas Dipakai PNS Untuk Tambahan THR
-
Jumat, 25/05/2012 11:01 WIB
Sudah 20 Tahun Atlet Eropa Pakai Sepatu Made in Tangerang
-
Jumat, 25/05/2012 10:56 WIB
Kegagalan IPO Facebook Jadi Peringatan Awal Bagi Investor
-
Jumat, 25/05/2012 10:48 WIB
Ini Penyebab Jebolnya BBM Subsidi di Kalimantan
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Sesi I
Investor Asing 'Kabur' Dari Bursa, IHSG Anjlok 92 Poin
-
Jumat, 25/05/2012 10:59 WIB
Sri Mulyani Anggap Korupsi Perjalanan Dinas Turunkan Martabat PNS
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
