Pemerintah Perlu Bawa RSPO ke WTO
Jumat, 02/10/2009 16:32 WIB
Foto: dok detikFinance
Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyarankan pemerintah mempertimbangkan membawa masalah sertifikasi Roundtable Sustainable on Palm Oil (RSPO) ke forum organisasi perdagangan dunia (WTO). Pasalnya, Uni Eropa selaku pihak yang memberikan ketentuan RSPO dianggap melakukan diskriminasi terselubung terhadap produk sawit termasuk dari Indonesia.
"RSPO ini sebenarnya berpeluang dibawa ke forum WTO, karena ada diskriminasi terselubung," kata Sekretaris Umum Gapki Joko Supriyono saat ditemui di kantor Gapki, Jakarta, Jumat (2/10/2009).
Joko menambahkan, saat ini RSPO menjadi salah satu ketentuan persyaratan bagi produk sawit yang akan masuk ke pasar Eropa, meskipun sejatinya pemenuhan RSPO lebih bersifat sukarelea. Dikatakannya, cikal bakal diterapkannya RSPO diduga karena pihak Eropa mau melindungi para petaninya sehingga menerapkan ketentuan di luar masalah berdagangan dengan adanya sertifikat RSPO.
"Namun siapa yang harus membawanya, seharusnya pemerintah, tapi apakah ini feasible dibawah ke WTO. Kita minta pemerintah dulu lah yang membawanya," katanya.
Dugaan kekhawatiran Eropa terhadap produk sawit dapat dimaklumi karena setiap tahun permintaan produk sawit termasuk CPO ke Eropa menunjukan tanda-tanda positif atau setara dengan negara-negara lain yang permintaan sawitnya tinggi seperti China dan India.
"Tahun ini sampai Juli, permintaan dari RRC dan India progresnya bagus, termasuk dari Eropa walaupun ribut-ribut (RSPO) tetap lanjut juga," katanya.
Sampai dengan Juli 2009 ekspor sawit (CPO) Indonesia ke Eropa mencapai 770.000 ton sedangkan total tahun 2008 sempat tembus 2,1 juta ton. Untuk China pada periode yang sama mencapai 575.000 ton, total tahun 2008 sampai 1,9 juta ton dan India hingga Juli sebanyak 1,250 juta ton, untuk total tahun 2008 mencapai 4,6 juta ton,
Meskipun, kata dia, masalah sustainable dalam produk kelapa sawit itu direspon positif oleh produsen kelapa sawit dan secara umum bisa diterima pelaku usaha sawit di Indonesia. Namun apa yang telah dilakukan oleh Uni Eropa terkait RSPO sudah nampal seperti diskriminasi terselubung yang mengganggu perdagangan sektor sawit Indonesia.
"One day, kita akan ajukan masalah ini ke pemerintah, agar bisa dibawa ke WTO," katanya.
(hen/ang)
"RSPO ini sebenarnya berpeluang dibawa ke forum WTO, karena ada diskriminasi terselubung," kata Sekretaris Umum Gapki Joko Supriyono saat ditemui di kantor Gapki, Jakarta, Jumat (2/10/2009).
Joko menambahkan, saat ini RSPO menjadi salah satu ketentuan persyaratan bagi produk sawit yang akan masuk ke pasar Eropa, meskipun sejatinya pemenuhan RSPO lebih bersifat sukarelea. Dikatakannya, cikal bakal diterapkannya RSPO diduga karena pihak Eropa mau melindungi para petaninya sehingga menerapkan ketentuan di luar masalah berdagangan dengan adanya sertifikat RSPO.
"Namun siapa yang harus membawanya, seharusnya pemerintah, tapi apakah ini feasible dibawah ke WTO. Kita minta pemerintah dulu lah yang membawanya," katanya.
Dugaan kekhawatiran Eropa terhadap produk sawit dapat dimaklumi karena setiap tahun permintaan produk sawit termasuk CPO ke Eropa menunjukan tanda-tanda positif atau setara dengan negara-negara lain yang permintaan sawitnya tinggi seperti China dan India.
"Tahun ini sampai Juli, permintaan dari RRC dan India progresnya bagus, termasuk dari Eropa walaupun ribut-ribut (RSPO) tetap lanjut juga," katanya.
Sampai dengan Juli 2009 ekspor sawit (CPO) Indonesia ke Eropa mencapai 770.000 ton sedangkan total tahun 2008 sempat tembus 2,1 juta ton. Untuk China pada periode yang sama mencapai 575.000 ton, total tahun 2008 sampai 1,9 juta ton dan India hingga Juli sebanyak 1,250 juta ton, untuk total tahun 2008 mencapai 4,6 juta ton,
Meskipun, kata dia, masalah sustainable dalam produk kelapa sawit itu direspon positif oleh produsen kelapa sawit dan secara umum bisa diterima pelaku usaha sawit di Indonesia. Namun apa yang telah dilakukan oleh Uni Eropa terkait RSPO sudah nampal seperti diskriminasi terselubung yang mengganggu perdagangan sektor sawit Indonesia.
"One day, kita akan ajukan masalah ini ke pemerintah, agar bisa dibawa ke WTO," katanya.
(hen/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 13:35 WIB
Wah! DKI Jakarta Masih Terboros Konsumsi Bensin Premium
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Jakarta Setiabudi Bagi-bagi Dividen Rp 10 per Lembar
-
Kamis, 24/05/2012 12:21 WIB
Warga Kalimantan Hanya Ingin BBM Subsidi, Pertamax Cs Tak Laku
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Ekonomi Dunia Suram, RI Waspada Banjir Produk China
-
Kamis, 24/05/2012 10:15 WIB
Saham Anjlok, Facebook & Morgan Stanley Digugat Investor
-
Kamis, 24/05/2012 12:36 WIB
Jakarta Setiabudi Bagi-bagi Dividen Rp 10 per Lembar
-
Kamis, 24/05/2012 10:02 WIB
Saham Facebook Naik, Tapi Masih di Bawah Harga IPO
-
Kamis, 24/05/2012 12:07 WIB
Sesi I
Bergerak Fluktuatif, IHSG Rehat di 3.972
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
31 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
