Produsen Karet yang Harus Puas Jadi Tukang Dagang Ban
Kamis, 15/10/2009 11:09 WIB
Azis Pane (Foto: Suhendra/detikcom)
Jakarta - Industri ban dalam negeri seharusnya bisa dibanggakan mengingat Indonesia kini merupakan salah satu penghasil karena terbesar di dunia. Tapi sayang berbagai masalah terus menghadang industri ini, sehingga perkembangannya pun jauh dari harapan.
Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya juga mengatakan, industri bank dalam negeri saat ini terhadang oleh selundupan ekspor antar negara melalui praktek manipulasi sertifikat asal atau transhipment.
Kecurigaan ini, kata Fahmi, sangat beralasan dengan meningkatkanya suplai ban di China. Pasalnya di negeri tirai bambu tersebut saat ini penjualan mobil telah mencapai 1,6 juta unit. Selain itu, kondisi pasar global saat ini yang masih sangat melemah maka dipastikan terjadi perebutan pasar.
Bagaimana sebenarnya potret industri ban dalam negeri? Berikut wawancara detikFinance dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane di Jakarta, Rabu (14/10/2009).
Industri ban inikan lebih banyak ekspor, namun dalam persaingan di pasar ekspor sering kena barrier, seperti dumping. Kedepannya mau dibawa kemana industri ban dalam negeri?
Kalau kita mau buka-bukaan daya saing di luar walaupun kita penghasil karet nomor dua di dunia kita tidak akan bisa melawan China dan India. Hal ini karena mereka punya pembangunan industri secara strategis, jadi dibuat langkah-langkah agar punya daya saing kuat, setelah baru ke pasar dunia. Jadi mereka kuasai dulu pasar dalam negerinya, seharusnya pola itu yang kita lakukan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kalau industri ban kita berawal dari substitusi impor, jadi tidak ada industrialis, yang hanya pedagang. Kalau kita berawal dari substitusi impor, arahnya adalah perdagangan jadi tidak kokoh industri kita. Misalnya saat butuh tekstil, kita buat tekstil tapi bahan bakunya banyak yang masih impor. Ban misalnya, bahan bakunya 62% masih impor, jadi kalau mau industri hulunya diperkuat.
Caranya seperti apa?
Caranya semua bea masuk bahan baku sektor hulu industri ban harus di-nol-kan, misalnya kawat baja sekarang bea masuknya masih 15%, kalau di-nol-kan maka akan turun harganya. Tapi kalau tinggi ya jualnya tinggi jadi tidak punya daya saing. Tarifnya harus diharmonisasi betul-betul, jadi jangan separuh-separuh.
Dengan bahan baku ban masih impor 62%, lalu justru produksi ban kita banyak diekspor sampai 70% lebih, ini artinya apa?
Artinya kita masih dagang saja, jadi kalau bikin negara industri harus dipersiapkan dulu, jadi lama harus ada visi. Jangan masing-masing departemen beda-beda, misalnya standar nasional Indonesia (SNI) oli, depperin bilang lain, Esdm lain, jadi kacau. Harus ada satu komando.
Mengenai investasi, kenapa terkesan Investor bidang industri ban tidak mau masuk?
Masalahnya adalah kredibelitas pemerintah, infrastruktur (jalan) dan sumber daya manusia (SDM). Misalnya India sangat konsen dengan SDM, jadi kalau ada investor masuk sudah siap.
Sedangkan dari sisi konsumsi, ban di Indonesia itu produksinya sudah cukup besar (45 juta per tahun), tetapi demand-nya masih 11 juta. Jadi mau dikemanakan, apa kita harus perang harga di dalam negeri. Untuk pabrik ban di China setahunnya bisa produksi mencapai 200 juta, di Thailand 100 juta, kalau kita 45 juta itu pun kapasitasnya.
Sekarang masih rendahnya demand itu karena infrastruktur jalan kita masih terbatas, sekarang di Kalimantan, Papua ada jalan nggak?. Coba kalau ada jalan, maka demandnya di pasar dalam negeri sangat besar.
Jadi investasi bidang ban di tanah air sudah tidak menarik dong?
Justru masih sangat menarik, terutama untuk industri hulunya, masih banyak bahan baku yang diimpor. Tapi dari sisi bahan baku karet alam kita cukup banyak, dahulu Malaysia penghasil terbesar karet alam sekarang mereka sudah bergeser ke produk sawit, sekarang posisi mereka menjadi ketiga di karet, Indonesia dan pertama Thailand.
Investor mau masuk sebenarnya, tapi ragu-ragu karena faktor tadi kredibelitas, infrastruktur. Saat ini didalam negeri ada 13 pabrik ban, empat diantaranya adalah asing, ada satu Multistrada yang belum gabung dengan APBI.
Investor sempat datang beberapa kali ke saya, diantaranya dari yayasan veteran tentara di AS, ada juga Yokohama dari Jepang dan yang baru saja datang dari China bawa dana US$ 15 juta, tapi itu masih kurang paling tidak bangun pabrik US$ 100 juta. Mereka mundur semua, gara-gara ada masalah dengan kredibelitas pemerintah aturan pemerintah pusat dan daerah yang berubah-rubah dan lain-lain.
Mengenai ekspor, targetnya tahun ini kan ekspor US$ 1 miliar, atau sama dengan tahun lalu. Bagaimana dengan tahun depan?
Saya rasa mulai membaik di kuartal kedua tahun 2010. Dengan adanya krisis global ini ekspor kita turun 30%, demand dalam negeri turun 23%. Tetapi pada bulan Agustus 2009 sudah mulai terlihat perbaikan, atau sama dengan Agustus tahun lalu.
(hen/qom)
Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya juga mengatakan, industri bank dalam negeri saat ini terhadang oleh selundupan ekspor antar negara melalui praktek manipulasi sertifikat asal atau transhipment.
Kecurigaan ini, kata Fahmi, sangat beralasan dengan meningkatkanya suplai ban di China. Pasalnya di negeri tirai bambu tersebut saat ini penjualan mobil telah mencapai 1,6 juta unit. Selain itu, kondisi pasar global saat ini yang masih sangat melemah maka dipastikan terjadi perebutan pasar.
Bagaimana sebenarnya potret industri ban dalam negeri? Berikut wawancara detikFinance dengan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane di Jakarta, Rabu (14/10/2009).
Industri ban inikan lebih banyak ekspor, namun dalam persaingan di pasar ekspor sering kena barrier, seperti dumping. Kedepannya mau dibawa kemana industri ban dalam negeri?
Kalau kita mau buka-bukaan daya saing di luar walaupun kita penghasil karet nomor dua di dunia kita tidak akan bisa melawan China dan India. Hal ini karena mereka punya pembangunan industri secara strategis, jadi dibuat langkah-langkah agar punya daya saing kuat, setelah baru ke pasar dunia. Jadi mereka kuasai dulu pasar dalam negerinya, seharusnya pola itu yang kita lakukan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kalau industri ban kita berawal dari substitusi impor, jadi tidak ada industrialis, yang hanya pedagang. Kalau kita berawal dari substitusi impor, arahnya adalah perdagangan jadi tidak kokoh industri kita. Misalnya saat butuh tekstil, kita buat tekstil tapi bahan bakunya banyak yang masih impor. Ban misalnya, bahan bakunya 62% masih impor, jadi kalau mau industri hulunya diperkuat.
Caranya seperti apa?
Caranya semua bea masuk bahan baku sektor hulu industri ban harus di-nol-kan, misalnya kawat baja sekarang bea masuknya masih 15%, kalau di-nol-kan maka akan turun harganya. Tapi kalau tinggi ya jualnya tinggi jadi tidak punya daya saing. Tarifnya harus diharmonisasi betul-betul, jadi jangan separuh-separuh.
Dengan bahan baku ban masih impor 62%, lalu justru produksi ban kita banyak diekspor sampai 70% lebih, ini artinya apa?
Artinya kita masih dagang saja, jadi kalau bikin negara industri harus dipersiapkan dulu, jadi lama harus ada visi. Jangan masing-masing departemen beda-beda, misalnya standar nasional Indonesia (SNI) oli, depperin bilang lain, Esdm lain, jadi kacau. Harus ada satu komando.
Mengenai investasi, kenapa terkesan Investor bidang industri ban tidak mau masuk?
Masalahnya adalah kredibelitas pemerintah, infrastruktur (jalan) dan sumber daya manusia (SDM). Misalnya India sangat konsen dengan SDM, jadi kalau ada investor masuk sudah siap.
Sedangkan dari sisi konsumsi, ban di Indonesia itu produksinya sudah cukup besar (45 juta per tahun), tetapi demand-nya masih 11 juta. Jadi mau dikemanakan, apa kita harus perang harga di dalam negeri. Untuk pabrik ban di China setahunnya bisa produksi mencapai 200 juta, di Thailand 100 juta, kalau kita 45 juta itu pun kapasitasnya.
Sekarang masih rendahnya demand itu karena infrastruktur jalan kita masih terbatas, sekarang di Kalimantan, Papua ada jalan nggak?. Coba kalau ada jalan, maka demandnya di pasar dalam negeri sangat besar.
Jadi investasi bidang ban di tanah air sudah tidak menarik dong?
Justru masih sangat menarik, terutama untuk industri hulunya, masih banyak bahan baku yang diimpor. Tapi dari sisi bahan baku karet alam kita cukup banyak, dahulu Malaysia penghasil terbesar karet alam sekarang mereka sudah bergeser ke produk sawit, sekarang posisi mereka menjadi ketiga di karet, Indonesia dan pertama Thailand.
Investor mau masuk sebenarnya, tapi ragu-ragu karena faktor tadi kredibelitas, infrastruktur. Saat ini didalam negeri ada 13 pabrik ban, empat diantaranya adalah asing, ada satu Multistrada yang belum gabung dengan APBI.
Investor sempat datang beberapa kali ke saya, diantaranya dari yayasan veteran tentara di AS, ada juga Yokohama dari Jepang dan yang baru saja datang dari China bawa dana US$ 15 juta, tapi itu masih kurang paling tidak bangun pabrik US$ 100 juta. Mereka mundur semua, gara-gara ada masalah dengan kredibelitas pemerintah aturan pemerintah pusat dan daerah yang berubah-rubah dan lain-lain.
Mengenai ekspor, targetnya tahun ini kan ekspor US$ 1 miliar, atau sama dengan tahun lalu. Bagaimana dengan tahun depan?
Saya rasa mulai membaik di kuartal kedua tahun 2010. Dengan adanya krisis global ini ekspor kita turun 30%, demand dalam negeri turun 23%. Tetapi pada bulan Agustus 2009 sudah mulai terlihat perbaikan, atau sama dengan Agustus tahun lalu.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:55 WIB
Tanri Abeng: Belajar Networking Setelah itu Baru Jadi Entrepreneur
-
Kamis, 24/05/2012 17:47 WIB
SBY Minta Hemat Listrik, PNS Jangan Main 'Game' Saat Lembur
-
Kamis, 24/05/2012 17:34 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 17:16 WIB
Rebut Dari Harry Tanoe, SCTV 'Pegang' Liga Champion hingga 2015
-
Kamis, 24/05/2012 17:42 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
