Ekspor Dibatasi, Pemerintah Harus Susun Peta Konsumsi Batubara
Kamis, 15/10/2009 15:52 WIB
Produksi batubara KPC (Foto: Ist)
Jakarta - Pemerintah berniat membatasi ekspor batubara. Langkah tersebut harus diikuti dengan pembentukan peta konsumsi batubara agar nantinya kebijakan itu tidak sia-sia.
"Peta konsumsi batubara dalam negeri atau grand scenario jangka panjang batubara harus disusun. Berapa penggunaan batubara untuk domestik, industri semen, PLN dll," ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Energy and Resources Law, Ryad A Chairil kepada detikFinance , Kamis (15/10/2009).
Tanpa pembuatan peta konsumsi batubara domestik, lanjut Ryad, dikhawatirkan produksi batubara tidak akan terserap dengan baik di dalam negeri. Ia mencontohkan kasus serupa yang terjadi di industri migas.
"Ekspor dibatasi tapi akhirnya tidak terserap di dalam negeri," imbuhnya.
Selain itu, pemerintah juga harus berani melakukan intervensi dari sisi pemasaran. Hal itu menurut Ryad dibenarkan secara kontrak. Ia menjelaskan, selama ini para produsen batubara terikat kontrak dengan pembeli untuk kontrak dengan jangka waktu tertentu.
"Biasanya batubara ketika produksi itu langsung SPA (Sales and Purchase Agreement ) dengan buyer, dikuncu 5,10 atau 30 tahun. Nah, pemerintah harus berani untuk mengintervensi dan membatalkan SPA yang sudah dikontrak jangka panjang," jelasnya.
Hal lain yang perlu dilakukan terkait pembatasan ekspor itu adalah, pemerintah harus menetapkan coal index yang tidak menyulitkan atau merugikan BUMN untuk membeli.
Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan sebelumnya menyatakan, pemerintah berencana membatasi ekspor batubara menjadi 150 juta ton per tahun. Hal itu dilakukan mengingat adanya peningkatan konsumsi batubara dalam negeri.
Bambang menjelaskan, produksi batubara pada tahun ini diperkirakan sekitar 230 juta ton, dengan alokasi untuk domestik baru sebesar Rp 68,5 juta. Dari jumlah itu kebutuhan untuk pembangkit PLN dialokasikan sekitar 40-46 juta ton.
(qom/dnl)
"Peta konsumsi batubara dalam negeri atau grand scenario jangka panjang batubara harus disusun. Berapa penggunaan batubara untuk domestik, industri semen, PLN dll," ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Energy and Resources Law, Ryad A Chairil kepada detikFinance , Kamis (15/10/2009).
Tanpa pembuatan peta konsumsi batubara domestik, lanjut Ryad, dikhawatirkan produksi batubara tidak akan terserap dengan baik di dalam negeri. Ia mencontohkan kasus serupa yang terjadi di industri migas.
"Ekspor dibatasi tapi akhirnya tidak terserap di dalam negeri," imbuhnya.
Selain itu, pemerintah juga harus berani melakukan intervensi dari sisi pemasaran. Hal itu menurut Ryad dibenarkan secara kontrak. Ia menjelaskan, selama ini para produsen batubara terikat kontrak dengan pembeli untuk kontrak dengan jangka waktu tertentu.
"Biasanya batubara ketika produksi itu langsung SPA (Sales and Purchase Agreement ) dengan buyer, dikuncu 5,10 atau 30 tahun. Nah, pemerintah harus berani untuk mengintervensi dan membatalkan SPA yang sudah dikontrak jangka panjang," jelasnya.
Hal lain yang perlu dilakukan terkait pembatasan ekspor itu adalah, pemerintah harus menetapkan coal index yang tidak menyulitkan atau merugikan BUMN untuk membeli.
Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan sebelumnya menyatakan, pemerintah berencana membatasi ekspor batubara menjadi 150 juta ton per tahun. Hal itu dilakukan mengingat adanya peningkatan konsumsi batubara dalam negeri.
Bambang menjelaskan, produksi batubara pada tahun ini diperkirakan sekitar 230 juta ton, dengan alokasi untuk domestik baru sebesar Rp 68,5 juta. Dari jumlah itu kebutuhan untuk pembangkit PLN dialokasikan sekitar 40-46 juta ton.
(qom/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:55 WIB
Tanri Abeng: Belajar Networking Setelah itu Baru Jadi Entrepreneur
-
Kamis, 24/05/2012 17:47 WIB
SBY Minta Hemat Listrik, PNS Jangan Main 'Game' Saat Lembur
-
Kamis, 24/05/2012 17:34 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 17:16 WIB
Rebut Dari Harry Tanoe, SCTV 'Pegang' Liga Champion hingga 2015
-
Kamis, 24/05/2012 17:42 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
