China Musuh No 1 Produk Indonesia di Australia
Rabu, 28/10/2009 15:12 WIB
Foto: dok detikFinance
Jakarta - Murah meriahnya produk-produk China bukan hanya menghantui produk-produk lokal di Tanah Air. Di negeri Kangguru, Australia pun, produk China masih menjadi musuh nomor satu produk Indonesia disana.
Hal ini disampaikan oleh Dubes Indonesia untuk Australia Primoalui dalam acara konferensi pers di arena Trade Expo Indonesia, Rabu (28/10/2009).
"Pesaing utama kita di pasar Australia adalah China yang nomor satu," katanya.
Ia menjelaskan, pesaing lainnya yang cukup potensial antara lain Thailaind, Singapura, Jerman, Inggris, Vietnam dan lain-lain. Kondisi persaingan yang ketat tersebut justru harus memperebutkan ceruk pasar penduduk Australia yang hanya 21 juta orang.
"Memang pasar yang sempit itu, banyaknya pesaing, memang tidak mudah. Sehingga kita harus menyelesaikan FTA kita dengan Australia, seperti China dan Singapura sudah (dengan Australia)," katanya.
Ia menjelaskan, sekarang ini Indonesia menempati peringkat 12 dari negara-negara mitra dagang Australia. Sedangkan negeri jiran Singapura menempati posisi 5 dan Malaysia menempati posisi ke- 7.
Beberapa produk Indonesia yang sudah tembus ke pasar Australia antara lain produk udang, kopi, karet, tekstil, sepatu, elektronik, suku cadang, kulit, makanan olahan, bumbu masak dan lain-lain. Produk-produk tersebut juga harus bersaing dengan produk negara-negara tetangga tersebut.
Sampai saat ini, ia mengakui masalah-masalah perdagangan masih terjadi antara kedua negera misalnya soal dumping, diantaranya Australia yang menuduh dumping produk kertas toilet Indonesia dan sebaliknya Indonesia menuduh dumping produk terigu asal Australia.
"Memang masalah dumping mewarnai hubungan perdagangan kedua negera," terangnya.
Dikatakannya, pada tahun 2008 total perdagangan kedua negara antara Indonesia-Australia mencapai US$ 6,7 miliar, sedangkan pada tahun 2007 hanya US$ 6,3 miliar.
Khusus untuk perdagangan bebas (FTA) kedua negara, studi kelayakan telah selesai. Sehingga ia mengharapkan hal ini layak untuk dilanjutkan ke perundingan. Targetnya, FTA dengan Australia bisa rampung pada tahun depan dalam rangka Australia-New Zealand FTA ASEAN.
"Kita optimis dengan ini bisa meningkatkan perdagangan antara kedua negara," ucapnya.
(hen/ang)
Hal ini disampaikan oleh Dubes Indonesia untuk Australia Primoalui dalam acara konferensi pers di arena Trade Expo Indonesia, Rabu (28/10/2009).
"Pesaing utama kita di pasar Australia adalah China yang nomor satu," katanya.
Ia menjelaskan, pesaing lainnya yang cukup potensial antara lain Thailaind, Singapura, Jerman, Inggris, Vietnam dan lain-lain. Kondisi persaingan yang ketat tersebut justru harus memperebutkan ceruk pasar penduduk Australia yang hanya 21 juta orang.
"Memang pasar yang sempit itu, banyaknya pesaing, memang tidak mudah. Sehingga kita harus menyelesaikan FTA kita dengan Australia, seperti China dan Singapura sudah (dengan Australia)," katanya.
Ia menjelaskan, sekarang ini Indonesia menempati peringkat 12 dari negara-negara mitra dagang Australia. Sedangkan negeri jiran Singapura menempati posisi 5 dan Malaysia menempati posisi ke- 7.
Beberapa produk Indonesia yang sudah tembus ke pasar Australia antara lain produk udang, kopi, karet, tekstil, sepatu, elektronik, suku cadang, kulit, makanan olahan, bumbu masak dan lain-lain. Produk-produk tersebut juga harus bersaing dengan produk negara-negara tetangga tersebut.
Sampai saat ini, ia mengakui masalah-masalah perdagangan masih terjadi antara kedua negera misalnya soal dumping, diantaranya Australia yang menuduh dumping produk kertas toilet Indonesia dan sebaliknya Indonesia menuduh dumping produk terigu asal Australia.
"Memang masalah dumping mewarnai hubungan perdagangan kedua negera," terangnya.
Dikatakannya, pada tahun 2008 total perdagangan kedua negara antara Indonesia-Australia mencapai US$ 6,7 miliar, sedangkan pada tahun 2007 hanya US$ 6,3 miliar.
Khusus untuk perdagangan bebas (FTA) kedua negara, studi kelayakan telah selesai. Sehingga ia mengharapkan hal ini layak untuk dilanjutkan ke perundingan. Targetnya, FTA dengan Australia bisa rampung pada tahun depan dalam rangka Australia-New Zealand FTA ASEAN.
"Kita optimis dengan ini bisa meningkatkan perdagangan antara kedua negara," ucapnya.
(hen/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 13:30 WIB
BBM Non Subsidi Hanya Laku di Pedalaman & Pegunungan Kalimantan
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
Jumat, 25/05/2012 12:47 WIB
Lunasi Utang Bank, Indosiar Minta Duit ke Bos SCTV
-
Jumat, 25/05/2012 12:44 WIB
Berantas Korupsi Perjalanan Dinas PNS, Semua Tergantung Niat
-
Jumat, 25/05/2012 12:35 WIB
Anggota DPR Usul Pemerintah Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
Jumat, 25/05/2012 12:34 WIB
Anggota DPR Usul Pemerintah Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 11:01 WIB
Sudah 20 Tahun Atlet Eropa Pakai Sepatu Made in Tangerang
-
Jumat, 25/05/2012 11:36 WIB
Sesi I
Investor Asing 'Kabur' Dari Bursa, IHSG Anjlok 92 Poin
-
Jumat, 25/05/2012 10:56 WIB
Kegagalan IPO Facebook Jadi Peringatan Awal Bagi Investor
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
