Komando BI Pangkas Suku Bunga 14 Bank adalah Represi Finansial
Senin, 02/11/2009 09:20 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Kesepakatan untuk menurunkan suku bunga deposito oleh 14 bank nasional yang diprakarsai Bank Indonesia (BI) dinilai tidak akan berjalan efektif dalam jangka waktu yang lama. Artinya, kesepakatan tersebut hanya berlaku sebentar, kemudian semuanya kembali ke mekanisme pasar.
Selain itu, kesepakatan tersebut cenderung mengarah kepada sistem kartel.
Ekonom Kepala PT Bank Negara Indonesia, Tony Prasetiantono mengatakan mengatakan peristiwa ini disebut "Financial Repression". Artinya suku bunga dikomando oleh otoritas keuangan (BI).
"Dunia, termasuk kita (Indonesia) pernah melakukannya sebelum era 1980-an dan di Indonesia sebelum 1983, kata Tony kepada detikFinance, Minggu malam (01/11/2009).
Tony menambahkan, dulu bank-bank di komando soal penentuan suku bunga, namun akibatnya bank-bank menjadi tidak efisien.
"Karena itu tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing bank, dan tidak merupakan hasil mekanisme pasar," ujarnya.
Sebelumnya juga Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyatakan langkah kesepakatan 14 bank untuk menurunkan suku bunga deposito dianggap sebagai tindakan kartel oleh bank.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institude Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan tindakan BI yang mengkoordinasikan agar perbankan menurunkan bunga deposito bersama sama boleh dianggap sebagai legitimasi dari kekuatan kartel perbankan.
Purbaya menuturkan, penurunan bunga deposito tanpa disertai tindakan penurunan suku bunga pinjaman pada saat yang bersamaan atau tanpa penetapan target waktu penurunan suku bunga pinjaman seolah menjamin keuntungan perbankan yang lebih besar.
Sebab, selisih bunga yang dinikmati perbankan menjadi seolah-olah terjamin tinggi.
"Memang niat BI tampaknya cukup baik, yaitu menurunkan cost of fund dari perbankan agar suku bunga pinjaman dapat turun," ujar Purbaya.
Tapi, sambung Purbaya BI kurang jeli dalam mengantisipasi perilaku dari perbankan. Ia menambahkan koordinasi untuk menurunkan suku bunga deposito tentu saja akan segera dituruti oleh bank bank besar tersebut karena menguntungkan mereka.
"Sebaliknya, mereka (bank) pasti enggan menurunkan suku bunga," pungkasnya.
(dru/dro)
Selain itu, kesepakatan tersebut cenderung mengarah kepada sistem kartel.
Ekonom Kepala PT Bank Negara Indonesia, Tony Prasetiantono mengatakan mengatakan peristiwa ini disebut "Financial Repression". Artinya suku bunga dikomando oleh otoritas keuangan (BI).
"Dunia, termasuk kita (Indonesia) pernah melakukannya sebelum era 1980-an dan di Indonesia sebelum 1983, kata Tony kepada detikFinance, Minggu malam (01/11/2009).
Tony menambahkan, dulu bank-bank di komando soal penentuan suku bunga, namun akibatnya bank-bank menjadi tidak efisien.
"Karena itu tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing bank, dan tidak merupakan hasil mekanisme pasar," ujarnya.
Sebelumnya juga Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menyatakan langkah kesepakatan 14 bank untuk menurunkan suku bunga deposito dianggap sebagai tindakan kartel oleh bank.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institude Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan tindakan BI yang mengkoordinasikan agar perbankan menurunkan bunga deposito bersama sama boleh dianggap sebagai legitimasi dari kekuatan kartel perbankan.
Purbaya menuturkan, penurunan bunga deposito tanpa disertai tindakan penurunan suku bunga pinjaman pada saat yang bersamaan atau tanpa penetapan target waktu penurunan suku bunga pinjaman seolah menjamin keuntungan perbankan yang lebih besar.
Sebab, selisih bunga yang dinikmati perbankan menjadi seolah-olah terjamin tinggi.
"Memang niat BI tampaknya cukup baik, yaitu menurunkan cost of fund dari perbankan agar suku bunga pinjaman dapat turun," ujar Purbaya.
Tapi, sambung Purbaya BI kurang jeli dalam mengantisipasi perilaku dari perbankan. Ia menambahkan koordinasi untuk menurunkan suku bunga deposito tentu saja akan segera dituruti oleh bank bank besar tersebut karena menguntungkan mereka.
"Sebaliknya, mereka (bank) pasti enggan menurunkan suku bunga," pungkasnya.
(dru/dro)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:55 WIB
Tanri Abeng: Belajar Networking Setelah itu Baru Jadi Entrepreneur
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 17:42 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
