Suku Bunga Kredit Konsumsi Kok Malah Naik?
Rabu, 04/11/2009 15:01 WIB
Jakarta - Suku bunga deposito terus turun seiring penurunan BI Rate. Namun nyatanya suku bunga kredit tidak turun signifikan, bahkan untuk suku bunga kredit konsumsi malah naik.
Demikian seperti dikutip detikFinance dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Rabu (4/11/2009).
Bank Indonesia mencatat selama September 2009, suku bunga deposito sudah turun dengan magnitude yang lebih besar dari periode sebelumnya.
Suku bunga deposito 1 bulan selama September 2009 tercatat turun 51 basis poin (bps). Sehingga total penurunan suku bunga deposito 1 bulan sejak Desember 2008 hingga September 2009 telah mencapai 297 bps. Sementara suku bunga tenor lainnya turun dengan besaran yang bervariasi.
Berdasarkan kelompok banknya, penurunan suku bunga deposito terbesar secara rata-rata pada September terjadi pada kelompok bank BUMN sebesar 43 bps. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, dimana bank-bank asing dan campuran biasanya paling agresif menurunkan suku bunga depositonya.
Dan sejalan dengan penurunan cost of fund , bank-bank pun mulai menyesuaikan suku bunga kreditnya meski dalam besaran yang tidak berimbang. Secara rata-rata penurunan suku bunga kredit selama September hanya sebesar 12 basis poin.
BI mencatat suku bunga kredit modal kerja (KMK) turun hanya 13 poin, kredit investasi (KI) hanya turun 18 bps. Namun suku bunga kredit konsumsi (KK) naik 5 basis poin.
"Suku bunga KK justru bergerak berlawanan arah meningkat 5 bps selaras dengan karakteristik kredit jenis uni yang permintaannya relatif tidak terlalu elastis dengan perubahan suku bunga," demikian penjelasan dari BI.
Dengan penurunan itu, maka rata-rata tertimbang suku bunga KMK adalah 14,17%, dan KI sebesar 13,20%.
Sementara jika dilihat berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga kredit terbesar masih terjadi pada kelompok bank asing dan campuran.
Meski mengalami kenaikan suku bunga, namun nyatanya kredit konsumsi mencatat pertambahan yang paling besar. Sementara kredit modal kerja justru mengalami koreksi yang cukup dalam, khususnya untuk sektor indstri dan pertambangan.
Posisi kredit (termasuk channeling) pada September 2009 menurun tipis sebesar Rp 481 juta dari bulan sebelumnya. Sehingga pertambahan kredit selama Januari-September 2009 baru mencapai Rp 46,2 triliun atau tumbuh 3,4% (ytd) atau 8,7% (yoy).
DPK Perbankan Bertambah Rp 10,2 Triliun
Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tercatat naik Rp 10,2 triliun selama September 2009. Kenaikan itu terutama berasal dari besarnya peningkatan tabungan perorangan yang berada dalam upward trend, seiring dengan menurunnya suku bunga deposito.
Ke depan, DPK diperkirakan akan kembali naik, khususnya DPK Rupiah sejalan dengan akan semakin ekspansifnya aliran likuiditas dari Pemerintah Pusat ke Daerah dan penyaluran kredit perbankan diharapkan akan meningkat.
Namun pertumbuhan DPK melambat menjadi 16% (yoy) dari 20,9% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Melambatnya pertumbuhan DPK pada September 2009 tersebut terutama bersumber dari besarnya realisasi belanja Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sebagaimana tampak pada penurunan posisi rekening giro terkait Pemerintah.
Selain itu, rekening giro milik kelompok Badan Usaha Milik Swasta non keuangan dan perorangan juga terpantau menurun, sejalan dengan pola musiman setelah liburan Idul Fitri.
(qom/dnl)
Demikian seperti dikutip detikFinance dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Rabu (4/11/2009).
Bank Indonesia mencatat selama September 2009, suku bunga deposito sudah turun dengan magnitude yang lebih besar dari periode sebelumnya.
Suku bunga deposito 1 bulan selama September 2009 tercatat turun 51 basis poin (bps). Sehingga total penurunan suku bunga deposito 1 bulan sejak Desember 2008 hingga September 2009 telah mencapai 297 bps. Sementara suku bunga tenor lainnya turun dengan besaran yang bervariasi.
Berdasarkan kelompok banknya, penurunan suku bunga deposito terbesar secara rata-rata pada September terjadi pada kelompok bank BUMN sebesar 43 bps. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, dimana bank-bank asing dan campuran biasanya paling agresif menurunkan suku bunga depositonya.
Dan sejalan dengan penurunan cost of fund , bank-bank pun mulai menyesuaikan suku bunga kreditnya meski dalam besaran yang tidak berimbang. Secara rata-rata penurunan suku bunga kredit selama September hanya sebesar 12 basis poin.
BI mencatat suku bunga kredit modal kerja (KMK) turun hanya 13 poin, kredit investasi (KI) hanya turun 18 bps. Namun suku bunga kredit konsumsi (KK) naik 5 basis poin.
"Suku bunga KK justru bergerak berlawanan arah meningkat 5 bps selaras dengan karakteristik kredit jenis uni yang permintaannya relatif tidak terlalu elastis dengan perubahan suku bunga," demikian penjelasan dari BI.
Dengan penurunan itu, maka rata-rata tertimbang suku bunga KMK adalah 14,17%, dan KI sebesar 13,20%.
Sementara jika dilihat berdasarkan kelompok bank, penurunan suku bunga kredit terbesar masih terjadi pada kelompok bank asing dan campuran.
Meski mengalami kenaikan suku bunga, namun nyatanya kredit konsumsi mencatat pertambahan yang paling besar. Sementara kredit modal kerja justru mengalami koreksi yang cukup dalam, khususnya untuk sektor indstri dan pertambangan.
Posisi kredit (termasuk channeling) pada September 2009 menurun tipis sebesar Rp 481 juta dari bulan sebelumnya. Sehingga pertambahan kredit selama Januari-September 2009 baru mencapai Rp 46,2 triliun atau tumbuh 3,4% (ytd) atau 8,7% (yoy).
DPK Perbankan Bertambah Rp 10,2 Triliun
Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tercatat naik Rp 10,2 triliun selama September 2009. Kenaikan itu terutama berasal dari besarnya peningkatan tabungan perorangan yang berada dalam upward trend, seiring dengan menurunnya suku bunga deposito.
Ke depan, DPK diperkirakan akan kembali naik, khususnya DPK Rupiah sejalan dengan akan semakin ekspansifnya aliran likuiditas dari Pemerintah Pusat ke Daerah dan penyaluran kredit perbankan diharapkan akan meningkat.
Namun pertumbuhan DPK melambat menjadi 16% (yoy) dari 20,9% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Melambatnya pertumbuhan DPK pada September 2009 tersebut terutama bersumber dari besarnya realisasi belanja Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sebagaimana tampak pada penurunan posisi rekening giro terkait Pemerintah.
Selain itu, rekening giro milik kelompok Badan Usaha Milik Swasta non keuangan dan perorangan juga terpantau menurun, sejalan dengan pola musiman setelah liburan Idul Fitri.
(qom/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 17:42 WIB
Lebih Cepat, Kini Urus Sertifikat Halal Bisa Secara Online
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
