Pertumbuhan Ekonomi 4,2%, RI Jadi Penetralisir Krisis
Selasa, 10/11/2009 20:08 WIB
Foto: Depkeu
Jakarta - Pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2009 yang sebesar 4,21% menjadikan Indonesia salah satu negara yang dapat menetralisir krisis global yang terjadi sejak akhir tahun 2008.
Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/11/2009).
"Indonesia masih tumbuh positf pada level di atas 4 persen. Dari hal tersebut, Indonesia dipandang sebagai negara penetralisir krisis global dalam pertemuan G-20 dua hari lalu," ujar Sri Mulyani.
Dari pertemuan G-20 tersebut, Sri Mulyani memaparkan beberapa risiko perekonomian global yang masih terjadi saat ini.
"Yang pertama yakni tingkat pengangguran dunia tahun 2009 mencapai kisaran 6,5% atau meningkat tajam dibandingkan awal 2008 sebesar 5,4%," ungkapnya.
Dari anggaran, pembengkakan defisit menjadi salah satu risiko akibat krisis ekonomi global yang terjadi.
"Utang pemerintah negara maju juga meningkat dan diperkirakan akan mencapai lebih dari 100 persen GDP di 2009. Di Jepang saja hampir 200 persen dari GDP. Rata-rata besaran utang sama dengan GDP-nya. Tetapi di Indonesia sendiri rasio utang terhadap GDP kita ada di kisaran 32 persen," papar Sri Mulyani.
Pembengkakan utang ini terjadi karena banyak negara-negara terus menerbitkan surat utang guna membiayai dampak krisis, baik itu untuk bailout atau penyelamatan sektor keuangan maupun untuk biaya stimulus fiskal. "Di Amerika sendiri penerbitan surat utang naik dari US$ 1,1 triliun ke US$ 1,4 triliun," jelasnya.
Ditambahkannya, negara-negara maju juga melakukan kebijakan moneter yang ekspansif. Salah satunya dengan melakukan penurunan suku bunga dan pencetakan uang yang juga menyebabkan potensi inflasi melonjak.
"Dalam sejarah perekonomian global, inilah masa terberat. Dunia mengalami kontraksi minus 1,1 persen dan harapannya tahun depan hanya tumbuh menjadi 3,1 persen," ungkapnya.
G-20 dikatakan Sri Mulyani terus melakukan pertemuan sampai tiga kali di tingkat para pemimpin dunia.
Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kepanikan global dan mengembalikan kepercayaan global. "Serta mulai melakukan koordinasi untuk menetralisir kontraksi ekonomi. Pertemuan G-20 tahun depan masih akan dilakukan 2 kali lagi," pungkasnya.
(dru/dnl)
Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/11/2009).
"Indonesia masih tumbuh positf pada level di atas 4 persen. Dari hal tersebut, Indonesia dipandang sebagai negara penetralisir krisis global dalam pertemuan G-20 dua hari lalu," ujar Sri Mulyani.
Dari pertemuan G-20 tersebut, Sri Mulyani memaparkan beberapa risiko perekonomian global yang masih terjadi saat ini.
"Yang pertama yakni tingkat pengangguran dunia tahun 2009 mencapai kisaran 6,5% atau meningkat tajam dibandingkan awal 2008 sebesar 5,4%," ungkapnya.
Dari anggaran, pembengkakan defisit menjadi salah satu risiko akibat krisis ekonomi global yang terjadi.
"Utang pemerintah negara maju juga meningkat dan diperkirakan akan mencapai lebih dari 100 persen GDP di 2009. Di Jepang saja hampir 200 persen dari GDP. Rata-rata besaran utang sama dengan GDP-nya. Tetapi di Indonesia sendiri rasio utang terhadap GDP kita ada di kisaran 32 persen," papar Sri Mulyani.
Pembengkakan utang ini terjadi karena banyak negara-negara terus menerbitkan surat utang guna membiayai dampak krisis, baik itu untuk bailout atau penyelamatan sektor keuangan maupun untuk biaya stimulus fiskal. "Di Amerika sendiri penerbitan surat utang naik dari US$ 1,1 triliun ke US$ 1,4 triliun," jelasnya.
Ditambahkannya, negara-negara maju juga melakukan kebijakan moneter yang ekspansif. Salah satunya dengan melakukan penurunan suku bunga dan pencetakan uang yang juga menyebabkan potensi inflasi melonjak.
"Dalam sejarah perekonomian global, inilah masa terberat. Dunia mengalami kontraksi minus 1,1 persen dan harapannya tahun depan hanya tumbuh menjadi 3,1 persen," ungkapnya.
G-20 dikatakan Sri Mulyani terus melakukan pertemuan sampai tiga kali di tingkat para pemimpin dunia.
Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kepanikan global dan mengembalikan kepercayaan global. "Serta mulai melakukan koordinasi untuk menetralisir kontraksi ekonomi. Pertemuan G-20 tahun depan masih akan dilakukan 2 kali lagi," pungkasnya.
(dru/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
