Grup Bakrie Kuasai Jatah Saham Divestasi Newmont
Rabu, 11/11/2009 14:10 WIB
Tambang Batu Hijau Newmont (dok detikcom)
Jakarta - Multicapital, anak usaha Bakrie Capital dan Bumi Resources (BUMI) akhirnya mendapatkan jatah terbesar dari divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara. Multicapital akhirnya mendapatkan 75% dari 14% jatah divestasi Newmont tahun 2008 dan 2009, setelah PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mundur.
Padahal sebelumnya, Multicapital sudah mendapat jatah 75 persen dari 10 persen saham divestasi Newmont tahun 2006 dan 2007.
"Untuk pembagiannya, kami tetap 25 persen dan Multicapital 75 persen ditambah advance dividen yang harus mereka setorkan," ujar Gubernur NTB, Zainul Madji saat dihubungi, Rabu (11/11/2009).
Zainul menjelaskan, mundurnya Antam dari konsorsium tersebut BUMN tambang itu menginginkan kepemilikan saham 50 persen dari 31 persen saham divestasi Newmont mulai tahun 2006 hingga 2010.
"Antam punya kepentingan strategis kalau 37,5 persen maka kepentingan strategis mereka itu tidak optimal. Makanya mereka mundur," jelas Zainul.
Saat ditanya alasan Pemda hanya mau memberikan 37,5 persen saham ke Antam,Zainul menyatakan, jika porsi saham 37,5 persen untuk Antam ditambah 25 persen Pemda maka kepemilikan saham pemerintah dalam
divestasi tersebut menjadi mayoritas.
"Pemda NTB kan bagian dari Pempus kalau kami tawarkan 37,5 persen ke Antam supaya Pemerintah tetap jadi mayoritas yaitu sebesar 62,5 persen sisanya multicapital. Sementara Antam punya kepentingan strategsi kalau 37,5 persen maka kepentingan strategis itu tidak optimal maka mereka mundur," paparnya.
Sebelumnya, Zainul menjelaskan dalam pertemuan dengan Antam pagi ini ada empat hal yang dibahas dalam pertemuan.
Pertama, Antam menyatakan minatnya gabung dalam konsorsium untuk 31 persen. Antam minta 50 persen dan konsorsium Pemda NTB dan Multicapital 50 persen. Jadi masing-masing 15,5 persen.
Kedua, Pemda sebagai lead untuk pembelian saham menawarkan kepada Antam agar dari 31 persen saham 2006 hingga 2010, 25 persen pemda, 37,5 persen Antam dan 37,5 persen Multicapital.
Ketiga, Pemda dan Antam sama-sama menghargai kepentingan strategis masing-masing.
Keempat, Antam tidak jadi ikut pembelian divestasi dalam 2008 dan 2009 (14 persen) dan menghargai pemda untuk beli sepenuhnya 2008 dan 2009.
Sementara untuk 7 persen saham divestasi tahun 2010 hingga saat ini masih belum dibahas, namun Zainul berharap 7 persen saham tersebut tetap menjadi milik konsorsium Pemda NTB dan Multicapital.
"Kami harapkan tetap dalam konsorsium ini agar tetap lebih optimal," ungkapnya.
(epi/qom)
Padahal sebelumnya, Multicapital sudah mendapat jatah 75 persen dari 10 persen saham divestasi Newmont tahun 2006 dan 2007.
"Untuk pembagiannya, kami tetap 25 persen dan Multicapital 75 persen ditambah advance dividen yang harus mereka setorkan," ujar Gubernur NTB, Zainul Madji saat dihubungi, Rabu (11/11/2009).
Zainul menjelaskan, mundurnya Antam dari konsorsium tersebut BUMN tambang itu menginginkan kepemilikan saham 50 persen dari 31 persen saham divestasi Newmont mulai tahun 2006 hingga 2010.
"Antam punya kepentingan strategis kalau 37,5 persen maka kepentingan strategis mereka itu tidak optimal. Makanya mereka mundur," jelas Zainul.
Saat ditanya alasan Pemda hanya mau memberikan 37,5 persen saham ke Antam,Zainul menyatakan, jika porsi saham 37,5 persen untuk Antam ditambah 25 persen Pemda maka kepemilikan saham pemerintah dalam
divestasi tersebut menjadi mayoritas.
"Pemda NTB kan bagian dari Pempus kalau kami tawarkan 37,5 persen ke Antam supaya Pemerintah tetap jadi mayoritas yaitu sebesar 62,5 persen sisanya multicapital. Sementara Antam punya kepentingan strategsi kalau 37,5 persen maka kepentingan strategis itu tidak optimal maka mereka mundur," paparnya.
Sebelumnya, Zainul menjelaskan dalam pertemuan dengan Antam pagi ini ada empat hal yang dibahas dalam pertemuan.
Pertama, Antam menyatakan minatnya gabung dalam konsorsium untuk 31 persen. Antam minta 50 persen dan konsorsium Pemda NTB dan Multicapital 50 persen. Jadi masing-masing 15,5 persen.
Kedua, Pemda sebagai lead untuk pembelian saham menawarkan kepada Antam agar dari 31 persen saham 2006 hingga 2010, 25 persen pemda, 37,5 persen Antam dan 37,5 persen Multicapital.
Ketiga, Pemda dan Antam sama-sama menghargai kepentingan strategis masing-masing.
Keempat, Antam tidak jadi ikut pembelian divestasi dalam 2008 dan 2009 (14 persen) dan menghargai pemda untuk beli sepenuhnya 2008 dan 2009.
Sementara untuk 7 persen saham divestasi tahun 2010 hingga saat ini masih belum dibahas, namun Zainul berharap 7 persen saham tersebut tetap menjadi milik konsorsium Pemda NTB dan Multicapital.
"Kami harapkan tetap dalam konsorsium ini agar tetap lebih optimal," ungkapnya.
(epi/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:08 WIB
Kasihan, Baru 34% Rumah di Papua Teraliri Listrik
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
Kamis, 24/05/2012 17:15 WIB
8 IPO Perusahaan Teknologi yang Gagal
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
