detikfinance

Listrik Byar Pet, Biaya Pengiriman Barang Melonjak 30X Lipat

Nurseffi Dwi Wahyuni - detikfinance
Senin, 16/11/2009 11:32 WIB
Ilustrasi (dok detikcom)
Jakarta - Pemadaman listrik membuat para pengusaha kesulitan menyelesaikan produksi barangnya. Para eksportir pun terpaksa merogoh uang lebih banyak hingga 30 kali lipat agar barang terkirim tepat waktu.

Demikian disampaikan  Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudrajat usai dialog bertemakan ' Ruwetnya Urus Listrik' di Gedung MNC Tower, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (16/11/2009).

Ade mengungkapkan, pemadaman bergilir yang terjadi di wilayah Jakarta, tidak hanya melahirkan kerugian finansial bagi dunia industri  namun juga telah menurunkan kepercayaan konsumen luar negeri kepada industri domestik.

"Yang paling menderita kerugian komitmen," ujarnya.

Ia memaparkan, dengan adanya pemadaman bergilir tersebut telah menyebabkan terlambatnya pengiriman barang ke para pembelinya di luar negeri.

"Hal ini membuat kepercayaan terhadap kita akan menurun. Dengan turunnya kepercayaan, maka Kredibilitas perusahaan dipertaruhkan," ungkapnya.

Untuk mempertahankan kepercayaan kepada konsumen tersebut, Ade mengaku, pihaknya harus merogoh uang lebih agar barang yang dikirimkannya bisa datang tepat waktu.

"Terutama untuk eksportir pakaian jadi. Kalau mati maka sudah celaka. Yang harusnya dikirimkan melalui laut, jadi harus dikirimkan lewat udara yang harganya 30 kali lipat," jelasnya.

Ade menyatakan, pihaknya  juga terus berupaya agar pemadaman bergilir ini tidak membuat kegiatan produksi berhenti. Untuk itu, penggunaan genset menjadi solusi sementara yang diambil industri tekstil tersebut dan hal ini mau tidak mau juga menambah biaya operasional perusahaan. Ia mencontohkan untuk menyewa satu genset 300 KVa, pihaknya harus bayar Rp 15 juta per bulan dan itu belum termasuk beli solar.

"Artinya kepastian usaha ini dipertaruhkan sehingga iklim usahanya menjadi menurun karena tidak tersedianya listrik," jelasnya.

Bahkan Ade mengakui, investor asal Korea dan Jepang juga sudah ancam hengkang dari Indonesia.

"Kalau tidak bisa memberikan kepastian, mereka ancam mau cabut usahanya di sini," ungkapnya.





(epi/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
    • Gb Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
      Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
      Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?