BI Tak Bisa Bendung Dana Asing di SBI
Selasa, 17/11/2009 20:15 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) tidak bisa membatasi masuknya dana asing lewat instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang saat ini sangat deras, besarnya dana di SBI membuat ongkos moneter BI tinggi, dan menjadi salah satu pemicu defisit anggaran BI.
Bahkan di tahun depan, defisit anggaran BI diproyeksikan melonjak menjadi Rp 22,4 triliun, dibandingkan defisit BI tahun ini yang diproyeksikan sebesar Rp 1,904 triliun.
Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan BI akan mempelajari dampak dari pembatasan aliran dana asing pada SBI khususnya dari segi biaya sehingga defisit anggaran bisa dikurangi.
"Karena sampai saat ini yg dikhawatirkan adalah jika asing masuk ke Indonesia, hot money kemudian keluar," tuturnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (17/11/2009).
Tapi menurut Hartadi saat ini dana yang keluar ataupun masuk melalui SBI memang menyebabkan cost yang begitu besar.
"Dan memang kasian BI harus menerima beban bunga SBI yang besar. Tapi itu memang tugas kita, kalau ada uang masuk dari luar maka harus diserap ketimbang dia jadi uang yang hot money," paparnya.
Di tempat yang sama Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI Akhsanul Qosasi mengatakan anggaran kebijakan moneter tersebut memang paling besar karena banyak hal yang tidak bisa terduga.
"Anggaran kebijakan BI dipakai misalnya untuk intervensi rupiah. Intervensi rupiah itu mahal sampai menghabiskan sekian triliun sendiri," ujarnya.
Namun, lanjut Akhsa, kenaikan anggaran lain masih dalam taraf normal. "Kenaikan anggaran lain hanya mencapai 5% sampai 10%, itu normal saja," jelasnya.
Mengenai tingginya bunga yang harus dibayar BI untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Akhsa mengatakan memang tidak ada instrumen lain selain SBI untuk menjaga likuditas.
"Bahkan untuk SBI dari Asing, itu adalah kosekuensi moneter. Karena kita tidak bisa lepas dari asing dan transaksi asing menyebabkan uang masuk dan itu bagus," katanya.
(dru/dnl)
Bahkan di tahun depan, defisit anggaran BI diproyeksikan melonjak menjadi Rp 22,4 triliun, dibandingkan defisit BI tahun ini yang diproyeksikan sebesar Rp 1,904 triliun.
Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengatakan BI akan mempelajari dampak dari pembatasan aliran dana asing pada SBI khususnya dari segi biaya sehingga defisit anggaran bisa dikurangi.
"Karena sampai saat ini yg dikhawatirkan adalah jika asing masuk ke Indonesia, hot money kemudian keluar," tuturnya di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (17/11/2009).
Tapi menurut Hartadi saat ini dana yang keluar ataupun masuk melalui SBI memang menyebabkan cost yang begitu besar.
"Dan memang kasian BI harus menerima beban bunga SBI yang besar. Tapi itu memang tugas kita, kalau ada uang masuk dari luar maka harus diserap ketimbang dia jadi uang yang hot money," paparnya.
Di tempat yang sama Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI Akhsanul Qosasi mengatakan anggaran kebijakan moneter tersebut memang paling besar karena banyak hal yang tidak bisa terduga.
"Anggaran kebijakan BI dipakai misalnya untuk intervensi rupiah. Intervensi rupiah itu mahal sampai menghabiskan sekian triliun sendiri," ujarnya.
Namun, lanjut Akhsa, kenaikan anggaran lain masih dalam taraf normal. "Kenaikan anggaran lain hanya mencapai 5% sampai 10%, itu normal saja," jelasnya.
Mengenai tingginya bunga yang harus dibayar BI untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Akhsa mengatakan memang tidak ada instrumen lain selain SBI untuk menjaga likuditas.
"Bahkan untuk SBI dari Asing, itu adalah kosekuensi moneter. Karena kita tidak bisa lepas dari asing dan transaksi asing menyebabkan uang masuk dan itu bagus," katanya.
(dru/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 14:55 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 14:50 WIB
Orang Terkaya Hong Kong Bantah Menyuap Demi Bangun Kasino di Macau
-
Jumat, 25/05/2012 14:14 WIB
Agus Marto Lantik Pejabatan Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
Jumat, 25/05/2012 12:34 WIB
Anggota DPR Usul Pemerintah Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 14:21 WIB
Agus Marto Lantik Pejabatan Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 13:32 WIB
BBM Non Subsidi Hanya Laku di Pedalaman & Pegunungan Kalimantan
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
