Inpres Hemat Listrik Takkan Efektif Atasi Krisis Listrik
Rabu, 18/11/2009 09:18 WIB
Jakarta - Instruksi Presiden (Inpres) hemat listrik yang akan dikeluarkan Presiden SBY dinilai tidak akan memberikan dampak yang signifikan untuk mengurangi defisit listrik yang tengah terjadi di Indonesia.
"Itu memang lebih gampang dikoordinir tapi dampaknya tidak signifikan," ucap Pengamat Kelistrikan, Tri mumpuni saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (18/11/2009).
Menurut dia, penerapan hemat listrik di instansi-instansi pemerintah hanya akan mengurangi pemakaian daya yang kecil.
"Kantor-kantor pemerintahnya itukan jumlahnya sedikit, tidak sebanding dengan jumlah konsumen listrik sekitar 26 juta pelanggan. Jadi ini cuma langkah kecil dari seorang pemimpin yang kurang berani," ujar Tri.
Ia menambahkan, kebijakan SBY ini kurang efektif apalagi kalau dilihat dari attitude sebagian masyarakat Indonesia yang masih belum bisa berhemat.
"Katanya krisis listrik, tapi orang kaya tidur pakai selimut tebal dengan AC dinyalakan. Ini baru attitude individu belum kolektif," ungkapnya.
Tri juga menilai, pemerintah tidak pernah belajar untuk mengatasi masalah dari akarnya sehingga masalah itu akan terus ada.
"Kalau orang sakit lukanya hanya diolesi salep, tapi busuknya tidak diobati," tukasnya.
Salah satu langkah yang harusnya dilakukan pemerintah, lanjut dia, yaitu melakukan reformasi di tubuh PLN agar PLN menjadi independen, transparan, dan akuntabel.
"Harus ada politikus yang punya komitmen mau mengubah PLN menjadi Independen, transparan dan akuntabel dan orang ini juga harus bisa bekerjasama dengan pemerintahan SBY," ungkapnya.
Menurut dia, sebenarnya Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh orang yang memenuhi kriteria ini. Selain ia juga dekat dengan SBY mengingat jabatannya sebagai Ketua bidang ekonomi Partai Demokrat, Darwin juga
seorang ekonom.
"Kalau dia komitmen, dia sudah memenuhi kriteria ini. Ia hanya tinggal membentuk tim restrukturisasi untuk mereformasi PLN," jelas Tri.
Tri menegaskan reformasi dalam tubuh PLN ini harus segera dilakukan, karena membutuhkan waktu yang cukup lama itu sekitar 3-4 tahun.
"Harus dimulai dari sekarang karena takutnya kalau di tengah-tengah pemerintahan SBY baru dilakukan lalu nanti ganti pemerintahan maka reformasi di tubuh PLN kemungkinan akan terhenti," tandas Tri.
Seperti diketahui, Presiden SBY berencana untuk menerbitkan Inpres yang berisi intruksi penghematan listrik pada instansi-instansi pemerintah. Inpres ini dikeluarkan ada penghematan penggunaan listrik sehingga mengurangi pemadaman baik di Jakarta maupun di daerah-daerah lain di Indonesia.
Inpres ini dikeluarkan untuk memperkuat Inpres Nomor 10 tahun 2005 mengenai intruksi penghematan energi.
(epi/qom)
"Itu memang lebih gampang dikoordinir tapi dampaknya tidak signifikan," ucap Pengamat Kelistrikan, Tri mumpuni saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (18/11/2009).
Menurut dia, penerapan hemat listrik di instansi-instansi pemerintah hanya akan mengurangi pemakaian daya yang kecil.
"Kantor-kantor pemerintahnya itukan jumlahnya sedikit, tidak sebanding dengan jumlah konsumen listrik sekitar 26 juta pelanggan. Jadi ini cuma langkah kecil dari seorang pemimpin yang kurang berani," ujar Tri.
Ia menambahkan, kebijakan SBY ini kurang efektif apalagi kalau dilihat dari attitude sebagian masyarakat Indonesia yang masih belum bisa berhemat.
"Katanya krisis listrik, tapi orang kaya tidur pakai selimut tebal dengan AC dinyalakan. Ini baru attitude individu belum kolektif," ungkapnya.
Tri juga menilai, pemerintah tidak pernah belajar untuk mengatasi masalah dari akarnya sehingga masalah itu akan terus ada.
"Kalau orang sakit lukanya hanya diolesi salep, tapi busuknya tidak diobati," tukasnya.
Salah satu langkah yang harusnya dilakukan pemerintah, lanjut dia, yaitu melakukan reformasi di tubuh PLN agar PLN menjadi independen, transparan, dan akuntabel.
"Harus ada politikus yang punya komitmen mau mengubah PLN menjadi Independen, transparan dan akuntabel dan orang ini juga harus bisa bekerjasama dengan pemerintahan SBY," ungkapnya.
Menurut dia, sebenarnya Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh orang yang memenuhi kriteria ini. Selain ia juga dekat dengan SBY mengingat jabatannya sebagai Ketua bidang ekonomi Partai Demokrat, Darwin juga
seorang ekonom.
"Kalau dia komitmen, dia sudah memenuhi kriteria ini. Ia hanya tinggal membentuk tim restrukturisasi untuk mereformasi PLN," jelas Tri.
Tri menegaskan reformasi dalam tubuh PLN ini harus segera dilakukan, karena membutuhkan waktu yang cukup lama itu sekitar 3-4 tahun.
"Harus dimulai dari sekarang karena takutnya kalau di tengah-tengah pemerintahan SBY baru dilakukan lalu nanti ganti pemerintahan maka reformasi di tubuh PLN kemungkinan akan terhenti," tandas Tri.
Seperti diketahui, Presiden SBY berencana untuk menerbitkan Inpres yang berisi intruksi penghematan listrik pada instansi-instansi pemerintah. Inpres ini dikeluarkan ada penghematan penggunaan listrik sehingga mengurangi pemadaman baik di Jakarta maupun di daerah-daerah lain di Indonesia.
Inpres ini dikeluarkan untuk memperkuat Inpres Nomor 10 tahun 2005 mengenai intruksi penghematan energi.
(epi/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 14:58 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:55 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 14:50 WIB
Orang Terkaya Hong Kong Bantah Menyuap Demi Bangun Kasino di Macau
-
Jumat, 25/05/2012 14:14 WIB
Agus Marto Lantik Pejabatan Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
Jumat, 25/05/2012 12:34 WIB
Anggota DPR Usul Pemerintah Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 14:21 WIB
Agus Marto Lantik Pejabatan Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 13:32 WIB
BBM Non Subsidi Hanya Laku di Pedalaman & Pegunungan Kalimantan
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
