BUMI Terbitkan Lagi Obligasi Konversi US$ 300 juta
Senin, 23/11/2009 13:46 WIB
(foto: dok BUMI)
Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui anak usahanya Enercoal Resources Pte Ltd akan menerbitkan lagi obligasi konversi senilai US$ 300 juta. Obligasi ini berjangka waktu 7 tahun dengan kupon bunga 5%.
Menurut SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava dalam keterangannya, Senin (23/11/2009) mengatakan, obligasi ini akan diterbitkan oleh Enercoal yang merupakan anak usaha BUMI dengan kepemilikan 100%. BUMI memberikan opsi menaikkan nilai penerbitan obligasi hingga US$ 50 juta menjadi US$ 350 juta.
"Harga konversi ditetapkan 30% premium (dari harga pasar)," ujarnya.
Sayangnya Dileep tidak menyebutkan harga konversi pasti penerbitan obligasi konversi ini. Namun ketika jatuh tempo pada 2016, obligasi ini akan ditukar menjadi saham BUMI.
Dalam penerbitan obligasi konversi ini, BUMI kembali menunjuk Credit Suisse (Singapore) Ltd sebagai agen penjual tunggal. Masa penawaran dijadwalkan tutup pada 25 November 2009.
Dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk rencana akuisisi dan investasi pada sektor terkait pertambangan juga untuk mendanai transaksi tukar saham (equity swap) dengan Credit Suisse serta untuk pembiayaan kembali utang-utang (refinancing) dan keperluan umum perusahaan.
Pada Agustus 2009, Enercoal juga menerbitkan obligasi konversi yang bisa ditukarkan menjadi saham BUMI senilai US$ 375 juta. Obligasi berjangka waktu 5 tahun tersebut memberikan kupon bunga 9,25%.
Credit Suisse (Singapore) Ltd juga ditunjuk menjadi agen tunggal penjualan obligasi konversi. Saat jatuh tempo tahun 2014, obligasi ini bisa dikonversi menjadi saham BUMI atau pelunasan tunai.
Harga konversi saham atas obligasi konversi senilai US$ 375 juta itu ditetapkan sebesar Rp 3.366,9046 per saham. Harga konversi 30% lebih tinggi dari harga referensi yang ditetapkan sebesar Rp 2.589,9266.
Setelah penerbitan obligasi konversi US$ 375 juta pada Agustus 2009 dengan harga konversi di level Rp 3.300-an, harga saham BUMI langsung menanjak hingga menembus level Rp 3.400 per saham.
Setelah itu, harga saham BUMI terjun bebas hingga menyentuh level Rp 2.150 per saham. Dengan penerbitan obligasi konversi US$ 300 juta ini, kabarnya harga saham BUMI bakal kembali dikerek hingga menembus level Rp 3.000-an sebelum akhir tahun.
(dro/qom)
Menurut SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava dalam keterangannya, Senin (23/11/2009) mengatakan, obligasi ini akan diterbitkan oleh Enercoal yang merupakan anak usaha BUMI dengan kepemilikan 100%. BUMI memberikan opsi menaikkan nilai penerbitan obligasi hingga US$ 50 juta menjadi US$ 350 juta.
"Harga konversi ditetapkan 30% premium (dari harga pasar)," ujarnya.
Sayangnya Dileep tidak menyebutkan harga konversi pasti penerbitan obligasi konversi ini. Namun ketika jatuh tempo pada 2016, obligasi ini akan ditukar menjadi saham BUMI.
Dalam penerbitan obligasi konversi ini, BUMI kembali menunjuk Credit Suisse (Singapore) Ltd sebagai agen penjual tunggal. Masa penawaran dijadwalkan tutup pada 25 November 2009.
Dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk rencana akuisisi dan investasi pada sektor terkait pertambangan juga untuk mendanai transaksi tukar saham (equity swap) dengan Credit Suisse serta untuk pembiayaan kembali utang-utang (refinancing) dan keperluan umum perusahaan.
Pada Agustus 2009, Enercoal juga menerbitkan obligasi konversi yang bisa ditukarkan menjadi saham BUMI senilai US$ 375 juta. Obligasi berjangka waktu 5 tahun tersebut memberikan kupon bunga 9,25%.
Credit Suisse (Singapore) Ltd juga ditunjuk menjadi agen tunggal penjualan obligasi konversi. Saat jatuh tempo tahun 2014, obligasi ini bisa dikonversi menjadi saham BUMI atau pelunasan tunai.
Harga konversi saham atas obligasi konversi senilai US$ 375 juta itu ditetapkan sebesar Rp 3.366,9046 per saham. Harga konversi 30% lebih tinggi dari harga referensi yang ditetapkan sebesar Rp 2.589,9266.
Setelah penerbitan obligasi konversi US$ 375 juta pada Agustus 2009 dengan harga konversi di level Rp 3.300-an, harga saham BUMI langsung menanjak hingga menembus level Rp 3.400 per saham.
Setelah itu, harga saham BUMI terjun bebas hingga menyentuh level Rp 2.150 per saham. Dengan penerbitan obligasi konversi US$ 300 juta ini, kabarnya harga saham BUMI bakal kembali dikerek hingga menembus level Rp 3.000-an sebelum akhir tahun.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 14:58 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:55 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 14:50 WIB
Orang Terkaya Hong Kong Bantah Menyuap Demi Bangun Kasino di Macau
-
Jumat, 25/05/2012 14:14 WIB
Agus Marto Lantik Pejabat Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
Jumat, 25/05/2012 14:14 WIB
Agus Marto Lantik Pejabat Eselon II Kemenkeu
-
Jumat, 25/05/2012 12:34 WIB
Anggota DPR Usul Pemerintah Naikkan Harga BBM
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
