detikfinance

Bank Century Diselamatkan Karena RI Pernah Alami Krisis Moneter

Wahyu Daniel - detikfinance
Selasa, 24/11/2009 16:22 WIB
Foto: dok depkeu
Jakarta - Menanggapi hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait bailout Bank Century, Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan tanggapan sementara pemerintah.
 
Menurut Sri Mulyani penyelamatan Bank Century didasarkan oleh perkiraan dampak sistemik jika bank ini ditutup.
 
"Kalau lihat kondisi saat itu pada November 2008, dimana terjadi krisis keuangan global, maka penutupan Bank Century sesuai dengan akal sehat bisa menimbulkan efek berantai. Akan terjadi rush atau antrian bukan hanya pada Bank Century, tapi juga bank-bank lain, ada 23 peer bank dan sejumlah BPR yang punya masalah sama dengan Bank Century," tutur Sri Mulyani dalam jumpa pers di kantornya, Jalan wahidin Raya, Jakarta, Selasa (24/11/2009).
 
Penutupan Bank Century pada saat krisis tersebut, dikatakan Sri Mulyani akan menimbulkan dampak menjalar kepada bank-bank lain dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.

"Apalagi Indonesia pernah mengalami krisis yang sama," ujarnya.
 
Ada beberapa indikator yang dijadikan acuan oleh KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan) yang diketuai Sri Mulyani saat itu untuk menyelamatkan Bank Century. Selain berdasarkan data BI, KSSK juga melihat berbagai perkembangan terkait kondisi makro ekonomi dunia.

"Kondisi makro saat bulan-bulan terakhir 2008 mengalami tekanan serta ada gangguan sistem perbankan dan keuangan yang diperkirakan memiliki potensi riil menciptakan perburukan situasi dan dapat berpotensi menciptakan instabilitas," urainya.

Beberapa latar belakang yang mendasari penyelamatan Bank Century adalah:
 
Pertama adalah tekanan yang kuat dari pasar keuangan akibat jatuhnya lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Lehman Brothers, AIG, dan lainnya.
 
"Pasar modal dunia mengalami tekanan yang terlihat dari indeks saham. Kita tahu IHSG pada Januari 2008 mencapai 2830, tapi pada November turun menjadi 1155, penurunannya lebih dari 50%. Dan kalau anda ingat beberapa kali kita melakukan suspensi pasar modal," paparnya.
 
Kedua, harga obligasi negara turun dan yield-nya naik sampai mencapai 17,1%.
 
Ketiga, pada saat ini persepsi risiko gagal bayar obligasi di Indonesia meningkat yang terlihat dari credit default swap (CDS) yang naik dari 250 bps menjadi lebih dari 1.000 bps.
 
Keempat, nilai cadangan devisa turun dalam waktu 3 bulan turun dari US$ 59,45 miliar menjadi US$ 51,64 miliar.
 
Kelima, nilai tukar rupiah terdepresiasi dalam dari Rp 9.800 per dolar AS di Januari menjadi Rp 12.100 per dolar AS.

"Rupiah terdepresiasi 30%, seperti yang anda ingat wartawan selalu menanyakan saya kondisi nilai tukar saat itu," katanya.



(dnl/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.