Investor Bersiap Borong Rights Issue DEWA
Kamis, 26/11/2009 14:48 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Kejatuhan tajam saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) hingga menembus 20% pada hari ini diperkirakan merupakan langkah yang dilakukan investor guna mengeksekusi rights issue perseroan di harga Rp 100 per saham.
"Kalau melihat penurunan seperti ini, kelihatannya sebagian investor DEWA melakukan aksi jual untuk mendapatkan dana mengeksekusi rights issue di harga Rp 100," ujar analis PT Anugerah Securindo Indah, Viviet S Putri saat dihubungi detikFinance, Kamis (26/11/2009).
DEWA memang akan menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue pada Januari 2010. Harga rights issue dipatok sebesar Rp 100 per saham, lebih rendah 45,05% dari penutupan kemarin di level Rp 182 per saham.
Rencananya, DEWA akan menerbitkan 6,24 miliar saham baru dengan target dana perolehan sebesar Rp 624 miliar. Dananya akan digunakan untuk pembayaran utang sebesar Rp 427 miliar, membeli peralatan berat Rp 47,5 miliar dan sisanya Rp 149 miliar untuk modal kerja.
Rasio rights issue ditetapkan 5:2 atau 5 pemegang saham lama berhak membeli 2 rights issue DEWA. RUPSLB akan digelar pada 28 Desember 2009. Cum rights issue ditetapkan pada 6 Januari 2010, ex rights issue pada 7 Januari 2010, periode perdagangan pada 13-19 Januari 2010 dan tanggal pembayaran pada 21 Januari 2010.
PT Danatama Makmur ditunjuk menjadi pembeli siaga (rights issue) DEWA.
Pengumuman harga rights issue di level Rp 100 per saham tersebut membuat harga saham DEWA jatuh tajam pada perdagangan hari ini. Hingga berita ini ditulis, harga saham DEWA telah menyentuh level Rp 145 per saham, anjlok Rp 37 (20,32%) dari penutupan kemarin.
Menurut Viviet, melihat harga rights issue yang jauh lebih rendah dari harga pasar, artinya manajemen DEWA menghendaki rights issue dieksekusi oleh pasar, bukan oleh standby buyer. Sebagaimana diketahui, aksi rights issue seringkali dijadikan cara efektif bagi suatu perusahaan untuk melakukan private placement atau backdoor listing.
"Tapi kalau harga rights jauh di bawah pasar, artinya manajemen DEWA ingin agar pasar yang mengeksekusi rights issue ini, bukan standby buyer," ujarnya.
Lantas, kenapa harga DEWA turun tajam pada perdagangan hari ini? Menurut Viviet, bisa jadi itu merupakan bagian dari strategi investor yang sudah memiliki saham DEWA untuk ikut mengeksekusi rights issue tanpa harus mengekuarkan modal baru.
"Misalkan mereka punya 1.000 saham DEWA, bisa saja mereka menjual 500 sahamnya ke pasar dengan harga pasar. Maka ia mendapatkan modal baru dari penjualan itu," ujarnya.
Dengan logika sederhana, investor yang ingin mengeksekusi rights issue DEWA tanpa harus mengeluarkan modal baru akan melakukan hal seperti itu. Sebut saja investor A memiliki 2.000 saham DEWA.
Seharusnya, A memiliki hak mengeksekusi 800 rights issue DEWA dengan rasio 5:2. Namun untuk membeli 800 rights issue tersebut, A harus mengeluarkan modal baru.
Oleh sebab itu, A memutuskan menjual 500 sahamnya pada harga pasar dan mendapatkan modal baru. Dan A masih memiliki 1500 saham DEWA. Dengan kepemilikannya sekarang, A bisa mengeksekusi 600 saham DEWA dengan rasio 5:2.
Nah, dana untuk membelinya itu 600 lembar rights issue itu menggunakan dana hasil penjualan 500 saham tersebut. Apalagi, harga rights issue ditetapkan di harga Rp 100. Jadi dana untuk membeli 600 rights issue itu bisa saja lebih kecil ketimbang untung yang diperoleh dari penjualan 500 saham tadi.
"Bisa saja seperti itu. Karena kalau melihat teknikal analisisnya, harga saham DEWA seharusnya masih punya ruang untuk naik, meskipun harga rights issue sebesar Rp 100. Kejatuhan hari ini agak aneh," ujarnya.
(dro/qom)
"Kalau melihat penurunan seperti ini, kelihatannya sebagian investor DEWA melakukan aksi jual untuk mendapatkan dana mengeksekusi rights issue di harga Rp 100," ujar analis PT Anugerah Securindo Indah, Viviet S Putri saat dihubungi detikFinance, Kamis (26/11/2009).
DEWA memang akan menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue pada Januari 2010. Harga rights issue dipatok sebesar Rp 100 per saham, lebih rendah 45,05% dari penutupan kemarin di level Rp 182 per saham.
Rencananya, DEWA akan menerbitkan 6,24 miliar saham baru dengan target dana perolehan sebesar Rp 624 miliar. Dananya akan digunakan untuk pembayaran utang sebesar Rp 427 miliar, membeli peralatan berat Rp 47,5 miliar dan sisanya Rp 149 miliar untuk modal kerja.
Rasio rights issue ditetapkan 5:2 atau 5 pemegang saham lama berhak membeli 2 rights issue DEWA. RUPSLB akan digelar pada 28 Desember 2009. Cum rights issue ditetapkan pada 6 Januari 2010, ex rights issue pada 7 Januari 2010, periode perdagangan pada 13-19 Januari 2010 dan tanggal pembayaran pada 21 Januari 2010.
PT Danatama Makmur ditunjuk menjadi pembeli siaga (rights issue) DEWA.
Pengumuman harga rights issue di level Rp 100 per saham tersebut membuat harga saham DEWA jatuh tajam pada perdagangan hari ini. Hingga berita ini ditulis, harga saham DEWA telah menyentuh level Rp 145 per saham, anjlok Rp 37 (20,32%) dari penutupan kemarin.
Menurut Viviet, melihat harga rights issue yang jauh lebih rendah dari harga pasar, artinya manajemen DEWA menghendaki rights issue dieksekusi oleh pasar, bukan oleh standby buyer. Sebagaimana diketahui, aksi rights issue seringkali dijadikan cara efektif bagi suatu perusahaan untuk melakukan private placement atau backdoor listing.
"Tapi kalau harga rights jauh di bawah pasar, artinya manajemen DEWA ingin agar pasar yang mengeksekusi rights issue ini, bukan standby buyer," ujarnya.
Lantas, kenapa harga DEWA turun tajam pada perdagangan hari ini? Menurut Viviet, bisa jadi itu merupakan bagian dari strategi investor yang sudah memiliki saham DEWA untuk ikut mengeksekusi rights issue tanpa harus mengekuarkan modal baru.
"Misalkan mereka punya 1.000 saham DEWA, bisa saja mereka menjual 500 sahamnya ke pasar dengan harga pasar. Maka ia mendapatkan modal baru dari penjualan itu," ujarnya.
Dengan logika sederhana, investor yang ingin mengeksekusi rights issue DEWA tanpa harus mengeluarkan modal baru akan melakukan hal seperti itu. Sebut saja investor A memiliki 2.000 saham DEWA.
Seharusnya, A memiliki hak mengeksekusi 800 rights issue DEWA dengan rasio 5:2. Namun untuk membeli 800 rights issue tersebut, A harus mengeluarkan modal baru.
Oleh sebab itu, A memutuskan menjual 500 sahamnya pada harga pasar dan mendapatkan modal baru. Dan A masih memiliki 1500 saham DEWA. Dengan kepemilikannya sekarang, A bisa mengeksekusi 600 saham DEWA dengan rasio 5:2.
Nah, dana untuk membelinya itu 600 lembar rights issue itu menggunakan dana hasil penjualan 500 saham tersebut. Apalagi, harga rights issue ditetapkan di harga Rp 100. Jadi dana untuk membeli 600 rights issue itu bisa saja lebih kecil ketimbang untung yang diperoleh dari penjualan 500 saham tadi.
"Bisa saja seperti itu. Karena kalau melihat teknikal analisisnya, harga saham DEWA seharusnya masih punya ruang untuk naik, meskipun harga rights issue sebesar Rp 100. Kejatuhan hari ini agak aneh," ujarnya.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
