Dubai: Penundaan Pembayaran Utang Direncanakan Matang
Jumat, 27/11/2009 20:21 WIB
Foto: Reuters
Dubai - Dubai mengaku telah merencanakan dengan hati-hati terkait permintaannya kepada kreditur Dubai World untuk menunda pembayaran surat utang yang jatuh tempo. Lembaga pemeringkat Standard and Poor's mengartikan permintaan penundaan pembayaran utang itu sebagai gagal bayar atau default.
Ketua Mahkamah Komite Fiskal Dubai, Sheikh Ahmed bin Saeed al-Maktoum mengatakan, pemerintah juga telah memperhitungkan dampak penundaan pembayaran utang tersebut ke pasar finansial.
"Intervensi atas Dubai World direncanakan dengan matang dan merefleksikan posisi finansialnya secara khusus. Informasi lebih lanjut akan dibuat pada awal pekan depan," ujarnya seperti dikutip dari AFP, Jumat (27/11/2009).
"Pemerintah mengawali restrukturisasi dari operasi komersial ini dengan pengetahuan penuh tentang bagaimana pasar akan bereaksi. Kami mengerti kekhawatiran pasar dan kreditur secara khusus. Namun kami harus mengintervensi karena kebutuhan untuk mengambil keputusan ini terutama terkait beban utang," tambahnya.
Dubai kini sebelumnya dilanda booming properti. Namun negara teluk itu juga tak luput dari krisis global. Sheikh Ahmed bersikukuh bahwa pertumbuhan yang luar biasa di Dubai dan hampir seluruh wilayan di Uni Emirat Arab dalam 1 dekade terakhir telah membarikan pondasi untuk perekonomian yang berkesinambungan di luar sumber daya alam.
"Seperti negara-negara lain di dunia, Dubai memiliki pengalaman untuk menghadapi tantangan ekonomi dan sosial di tengah krisis global. Tidak ada pasar yang imun dari isu ekonomi. Ini adalah keputusan bisnis yang wajar," ujarnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Dubai secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo. Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.
Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.
Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.
Keputusan itu telah menimbulkan guncangan di pasar finansial berbagai belahan dunia. Bursa Eropa dan Asia hari ini harus kocar-kacir karena investor khawatir gagal bayar Dubai World akan berimbas ke berbagai belahan dunia.
Gagal bayar utang obligasi tersebut kini menyeret sejumlah bank. Sejumlah nama bank-bank besar dari Jepang dikabarkan memiliki eksposure atas surat utang Dubai World tersebut.
Mitsubishi UFJ Financial dan Sumitomo Mitsui dikabarkan menjadi anggota konsorsium 11 investor yang memberikan pinjaman ke Dubai World.
(qom/qom)
Ketua Mahkamah Komite Fiskal Dubai, Sheikh Ahmed bin Saeed al-Maktoum mengatakan, pemerintah juga telah memperhitungkan dampak penundaan pembayaran utang tersebut ke pasar finansial.
"Intervensi atas Dubai World direncanakan dengan matang dan merefleksikan posisi finansialnya secara khusus. Informasi lebih lanjut akan dibuat pada awal pekan depan," ujarnya seperti dikutip dari AFP, Jumat (27/11/2009).
"Pemerintah mengawali restrukturisasi dari operasi komersial ini dengan pengetahuan penuh tentang bagaimana pasar akan bereaksi. Kami mengerti kekhawatiran pasar dan kreditur secara khusus. Namun kami harus mengintervensi karena kebutuhan untuk mengambil keputusan ini terutama terkait beban utang," tambahnya.
Dubai kini sebelumnya dilanda booming properti. Namun negara teluk itu juga tak luput dari krisis global. Sheikh Ahmed bersikukuh bahwa pertumbuhan yang luar biasa di Dubai dan hampir seluruh wilayan di Uni Emirat Arab dalam 1 dekade terakhir telah membarikan pondasi untuk perekonomian yang berkesinambungan di luar sumber daya alam.
"Seperti negara-negara lain di dunia, Dubai memiliki pengalaman untuk menghadapi tantangan ekonomi dan sosial di tengah krisis global. Tidak ada pasar yang imun dari isu ekonomi. Ini adalah keputusan bisnis yang wajar," ujarnya.
Seperti diketahui, Pemerintah Dubai secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo. Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.
Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010. Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.
Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010.
Keputusan itu telah menimbulkan guncangan di pasar finansial berbagai belahan dunia. Bursa Eropa dan Asia hari ini harus kocar-kacir karena investor khawatir gagal bayar Dubai World akan berimbas ke berbagai belahan dunia.
Gagal bayar utang obligasi tersebut kini menyeret sejumlah bank. Sejumlah nama bank-bank besar dari Jepang dikabarkan memiliki eksposure atas surat utang Dubai World tersebut.
Mitsubishi UFJ Financial dan Sumitomo Mitsui dikabarkan menjadi anggota konsorsium 11 investor yang memberikan pinjaman ke Dubai World.
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:04 WIB
PNS Tak Habis Akal 'Bobol' Anggaran Perjalanan Dinas
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
32 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
