detikfinance

Impor Bakal Terbentur Spesifikasi Jenis Gula

Suhendra - detikfinance
Rabu, 09/12/2009 15:23 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Keputusan pemerintah untuk mengimpor 500.000 ton gula kristal putih (GKP) untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri periode Februari-April 2010 bakal berjalan tidak mulus.
 
Pasalnya negara-negara potensial pengekspor seperti Thailand sebelum melakukan ekspor ke Indonesia harus terlebih dahulu menyesuaikan spesifikasi jenis gula yang menjadi standar Indonesia yaitu gula GKP.
 
Selama ini negara yang masih memproduksi GKP di dunia hanya India dan Indonesia, namun posisi India tidak memungkinkan ekspor ke Indonesia karena sedang mengalami kekurangan gula juga.
 
Negara terdekat yang memungkinkan melakukan ekspor gula ke Indonesia adalah Thailand karena pada bulan Januari 2010 nanti, negeri gajah putih tersebut baru akan memasuki musim giling (produksi).
 
Namun Thailand sudah menjadi negara yang memproduksi mutu gula di atas GKP atau jenis gula rafinasi yang memiliki kadar kejernihan/keputihan di bawah 45 (semakin rendah semakin putih).
 
Sumber Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) mengatakan jika mempertimbangkan kondisi pasar gula dunia saat ini maka peluang impor bisa dilakukan dari Thailand. Dengan kemungkinan realisasi impor baru dilakukan awal Februari 2009, meskipun pemerintah telah memberikan izin mulai 1 Januari 2010.
 
"Impor gula saat ini yang paling memungkinkan adalah dari Thailand makanya sebelum impor harus ada semacam penyesuaian spesifikasi gula Indonesia," kata sumber tersebut saat ditemui di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Rabu (9/12/2009).
 
Ia menjelaskan istilah gula putih di dunia ini hanya dikenal dua macam yaitu jenis gula rafinasi dan jenis raw sugar. Khusus untuk gula rafinasi umumnya sudah memiliki tingkat kejernihan di bawah icumsa 24 (lebih putih), sedangkan gula yang dibutuhkan Indonesia (GKP) mengacu pada icumsa gula di atas 100 atau lebih pekat warnanya.
 
"Jadi nanti kalau impor, lalu yang dimasukan dengan icumsa di bawah 45, ini bisa ada problem di Bea Cukai," katanya.
 
Ia menyayangkan langkah pemerintah untuk memutuskan impor gula jika nantinya yang akan diimpor justru berbasis gula rafinasi.

Padahal kata dia seharusnya pemerintah bisa memberdayakan industri dalam negeri dengan cara menambah impor gula mentah (raw sugar ) kemudian diolah oleh industri gula rafinasi dalam negeri menjadi gula putih rafinasi.
 
"Jadi kalau dilihat situasinya delivery -nya mungkin di awal Februari," jelasnya.
 
Sebelumnya pemerintah melalui Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Bidang Perekonomian pada tanggal 24 November 2009 telah menyetujui untuk melakukan impor GKP sebanyak 500.000 ton mulai 1 Januari sampai dengan 15 April 2010.

Departemen Perdagangan telah mengeluarkan izin impor gula dengan menunjuk 6 perusahaan di dalam negeri untuk melakukan impor.
 
Perusahaan-perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melakukan impor yaitu PTPN IX sebanyak 81.000 ton, PTPN X sebanyak 94.500 ton, PTPN XI sebanyak 103.500 ton, PT. RNI sebanyak 85.500 ton, PT. PPI sebanyak 85.500 ton dan Perum Bulog sebanyak 50.000 ton.



(hen/dnl)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
    • Gb Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
      Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
      Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?