Rights Issue Rampung, Utang XL Axiata Turun Rp 4,558 Triliun
Senin, 14/12/2009 11:27 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatat penurunan utang sebesar Rp 4,558 triliun sepanjang triwulan IV-2009. Perseroan juga telah merampungkan aksi rights issue Rp 2,8 triliun.
Demikian disampaikan Presiden Direktur EXCL, Hasnul Suhaimi dalam siaran persnya, Senin (14/12/2009).
Pada 30 September 2009, total utang perseroan tercatat sebesar Rp 18,442 triliun. Namun pada akhir tahun diperkirakan bakal berada di posisi Rp 13,884 triliun. Itu artinya terjadi penurunan utang sebesar Rp 4,558 triliun.
Penurunan utang tersebut merupakan bagian dari program perseroan guna mengurangi pinjaman dan obligasi dolar AS yang dimilikinya dengan melakukan pembayaran cepat atas sebagian utang-utangnya, terutama saat nilai tukar dolar AS berada di bawah Rp 10.000.
Salah satu sumber dana pembayaran cepat tersebut adalah melalui penerbitan 1,418 miliar saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue di harga Rp 2.000. Total dana yang diperoleh mencapai Rp 2,8 triliun.
Dana ini terutama akan digunakan untuk melunasi atau membayar sebagian utang-utang berdenominasi dolar AS milik perseroan. Hanya satu utang rupiah yang dibayarkan dengan dana rights issue, yaitu utang pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 400 miliar.
Sebelum rights issue, selama triwulan IV-2009, EXCL juga telah melakukan pembayaran hutang dipercepat sebesar US$ 100 juta (HSBC sebesar US$ 50 juta dan SCB sebesar US$ 50 juta) dan membeli kembali sebagian Obligasi sebesar US$ 64,6 juta (setelah pembelian kembali sebagian Obligasi yang masih beredar adalah sebesar US$ 59,4 juta). Total pembayaran hutang dipercepat dan pembelian kembali sebagian Obligasi adalah sebesar US$ 164,6 juta, yang didanai oleh arus kas internal.
Dengan aksi pembayaran cepat tersebut, posisi utang EXCL berubah drastis. Total utang menjadi Rp 13,884 triliun, turun Rp 4,558 triliun dari posisi 30 September 2009 sebesar Rp 18,442 triliun. Utang bersih menjadi Rp 13,366 triliun, turun Rp 3,494 triliun dari sebelumnya Rp Rp 16,860 triliun.
Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) menjadi 1,6 dari akhir September masih di posisi 3,1. Rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 2,5 dari 3,2. Komposisi utang dolar AS menjadi 36% dari sebelumnya 49%.
(dro/qom)
Demikian disampaikan Presiden Direktur EXCL, Hasnul Suhaimi dalam siaran persnya, Senin (14/12/2009).
Pada 30 September 2009, total utang perseroan tercatat sebesar Rp 18,442 triliun. Namun pada akhir tahun diperkirakan bakal berada di posisi Rp 13,884 triliun. Itu artinya terjadi penurunan utang sebesar Rp 4,558 triliun.
Penurunan utang tersebut merupakan bagian dari program perseroan guna mengurangi pinjaman dan obligasi dolar AS yang dimilikinya dengan melakukan pembayaran cepat atas sebagian utang-utangnya, terutama saat nilai tukar dolar AS berada di bawah Rp 10.000.
Salah satu sumber dana pembayaran cepat tersebut adalah melalui penerbitan 1,418 miliar saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue di harga Rp 2.000. Total dana yang diperoleh mencapai Rp 2,8 triliun.
Dana ini terutama akan digunakan untuk melunasi atau membayar sebagian utang-utang berdenominasi dolar AS milik perseroan. Hanya satu utang rupiah yang dibayarkan dengan dana rights issue, yaitu utang pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 400 miliar.
Sebelum rights issue, selama triwulan IV-2009, EXCL juga telah melakukan pembayaran hutang dipercepat sebesar US$ 100 juta (HSBC sebesar US$ 50 juta dan SCB sebesar US$ 50 juta) dan membeli kembali sebagian Obligasi sebesar US$ 64,6 juta (setelah pembelian kembali sebagian Obligasi yang masih beredar adalah sebesar US$ 59,4 juta). Total pembayaran hutang dipercepat dan pembelian kembali sebagian Obligasi adalah sebesar US$ 164,6 juta, yang didanai oleh arus kas internal.
Dengan aksi pembayaran cepat tersebut, posisi utang EXCL berubah drastis. Total utang menjadi Rp 13,884 triliun, turun Rp 4,558 triliun dari posisi 30 September 2009 sebesar Rp 18,442 triliun. Utang bersih menjadi Rp 13,366 triliun, turun Rp 3,494 triliun dari sebelumnya Rp Rp 16,860 triliun.
Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) menjadi 1,6 dari akhir September masih di posisi 3,1. Rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi 2,5 dari 3,2. Komposisi utang dolar AS menjadi 36% dari sebelumnya 49%.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 16:33 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 16:31 WIB
Garuda Bidik Load Factor Penumpang Jakarta-Taipei 80%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:13 WIB
Asing Jual Saham Rp 970 Miliar, IHSG Jatuh 2%
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
Semen Gresik Buka Opsi Terbitkan Obligasi Rp 4,87 Triliun
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
