Putus Kontrak Dengan Sinar Mas, Unilever Pilih Dengar Tetangga Sebelah
Rabu, 16/12/2009 18:34 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyesalkan langkah Unilever yang melakukan tindakan sepihak dan terburu-buru terkait penghentian pembelian sementara produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terhadap Sinar Mas (Smart).
Unilever dinilai oleh Gapki lebih memilih mendengarkan Greenpeace yang merupakan bukan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Tindakan ini juga mencerminkan sikap tidak percaya terhadap hukum pemerintah Indonesia terkait pengembangan dan pengelolaan kelapa sawit di Tanah Air.
Hal ini disampaikan oleh Sekrtaris Umum Gapki Joko Supriyono dalam acara konferensi pers di kantor Gapki, Jakarta, Rabu (16/12/2009).
Dikatakan Joko, sebagai sesama anggota RSPO seharusnya Unilever memanfaatkan forum RSPO untuk melakukan klarifikasi melalui dialog. Adanya peristiwa ini terkesan pihak Unilever mengabaikan prosedur dan mekanisme klarifikasi yang dalam RSPO.
Hal ini menunjukan sikap Unilever yang tidak fair sebagai salah satu anggota yang mempelopori berdirinya RSPO. "Unilever itu anggota RSPO tetapi rupanya lebih mendengar laporan dari tetangga (Greenpeace)," tegas Joko.
Pasca kejadian ini ia yakin posisi RSPO akan kehilangan kredibilitas di mata anggotanya. Mengingat hal semacam itu tidak menutup kemungkinan akan menimpa pelaku usaha (produsen) sawit lainnya termasuk yang berada di luar Indonesia yang menjadi anggota RSPO. "Saya yakin kredibilitas RSPO akan semakin turun," katanya.
Meskipun sampai saat ini, lanjut Joko, Gapki belum mengambil langkah apapun termasuk melakukan langkah ekstrim dengan keluar dari RSPO.
"Kalau keluar (dari RSPO) terlalu vulgar, seharusnya RSPO proaktif kalau tidak kredibelitasnya bisa turun, kalau tidak cepat mengambil action ," katanya.
Sementara itu Presiden Direktur Smart Tbk Daud Dharsono mengatakan sampai saat ini pihaknya belum memutuskan untuk mengambil langkah hukum kepada Greenpeace terlebih lagi kepada Unilever. Mengingat pihak Unilever hanya menghentikan sementara pembelian CPO dari Smart hingga ada perbaikan dari pihak Smart.
"Smart belum memutuskan mengambil tindakan hukum kepada Unilever dan Greenpeace," ucap Daud.
(hen/dnl)
Unilever dinilai oleh Gapki lebih memilih mendengarkan Greenpeace yang merupakan bukan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Tindakan ini juga mencerminkan sikap tidak percaya terhadap hukum pemerintah Indonesia terkait pengembangan dan pengelolaan kelapa sawit di Tanah Air.
Hal ini disampaikan oleh Sekrtaris Umum Gapki Joko Supriyono dalam acara konferensi pers di kantor Gapki, Jakarta, Rabu (16/12/2009).
Dikatakan Joko, sebagai sesama anggota RSPO seharusnya Unilever memanfaatkan forum RSPO untuk melakukan klarifikasi melalui dialog. Adanya peristiwa ini terkesan pihak Unilever mengabaikan prosedur dan mekanisme klarifikasi yang dalam RSPO.
Hal ini menunjukan sikap Unilever yang tidak fair sebagai salah satu anggota yang mempelopori berdirinya RSPO. "Unilever itu anggota RSPO tetapi rupanya lebih mendengar laporan dari tetangga (Greenpeace)," tegas Joko.
Pasca kejadian ini ia yakin posisi RSPO akan kehilangan kredibilitas di mata anggotanya. Mengingat hal semacam itu tidak menutup kemungkinan akan menimpa pelaku usaha (produsen) sawit lainnya termasuk yang berada di luar Indonesia yang menjadi anggota RSPO. "Saya yakin kredibilitas RSPO akan semakin turun," katanya.
Meskipun sampai saat ini, lanjut Joko, Gapki belum mengambil langkah apapun termasuk melakukan langkah ekstrim dengan keluar dari RSPO.
"Kalau keluar (dari RSPO) terlalu vulgar, seharusnya RSPO proaktif kalau tidak kredibelitasnya bisa turun, kalau tidak cepat mengambil action ," katanya.
Sementara itu Presiden Direktur Smart Tbk Daud Dharsono mengatakan sampai saat ini pihaknya belum memutuskan untuk mengambil langkah hukum kepada Greenpeace terlebih lagi kepada Unilever. Mengingat pihak Unilever hanya menghentikan sementara pembelian CPO dari Smart hingga ada perbaikan dari pihak Smart.
"Smart belum memutuskan mengambil tindakan hukum kepada Unilever dan Greenpeace," ucap Daud.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 16:33 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 16:31 WIB
Garuda Bidik Load Factor Penumpang Jakarta-Taipei 80%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:13 WIB
Asing Jual Saham Rp 970 Miliar, IHSG Jatuh 2%
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
Semen Gresik Buka Opsi Terbitkan Obligasi Rp 4,87 Triliun
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
-
55 Komentar
-
54 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
