Greenpeace Kembali Serang Sinar Mas
Jumat, 18/12/2009 19:05 WIB
Jakarta - LSM lingkungan international, Greenpeace kembali mengeluarkan serangan atas kelompok usaha Sinar Mas Group. Kali ini yang mendapat serangan adalah Asia Pulp & Paper (APP) milik Sinar Mas di China.
Serangan itu dikeluarkan dalam laporan berjudul "APP: 30 Tahun Merusak Hutan" yang diluncurkan di Beijing, Kamis (17/12/2009) kemarin.
Laporan Greenpeace terhadap kegiatan ilegal Sinar Mas ini diluncurkan saat pertemuan iklim penting PBB di Kopenhagen dimana perlindungan hutan untuk menurunkan emisi global didiskusikan. Greenpeace merekomendasikan terbentuknya dana global untuk menghentikan deforestasi di negara seperti Indonesia dan Brasil, dimana negara maju harus menginvestasikan dana US$ 45 miliar per tahun untuk perlindungan hutan.
Dalam laporan tersebut, Greenpeace mengklaim hasil tes terhadap produk kertas APP di China, yang menunjukkan bahwa kertas itu mengandung serat yang berasal dari hutan alam tropis di Indonesia.
Greenpeace dalam siaran persnya, Jumat (18/12/2009) menjelaskan, pada Oktober 2009, Greenpeace China menunjuk Intergrated Paper Services Inc (IPS) untuk melakukan tes laboratorium guna menganalisa serat pada lima tipe sampel kertas. Hasilnya menunjukkan bahwa tiga dari lima jenis kertas itu mengandung pulp tropis campuran yang berasal dari hutan alam.
Greenpeace memperkirakan bahwa proses produksi setiap ton pulp APP (Indonesia) pada 2007 menghasilkan emisi hingga 5,1 ton CO2 akibat perusakan hutan alam dan memperkirakan 29 ton CO2 berasal dari perusakan hutan di lahan gambut yang kaya karbon. Pada 2007, tujuh perusahaan APP (China) mengimpor 309.000 ton pulp dari Indonesia untuk memproduksi 4,39 juta ton produk kertas.
Laporan Greenpeace sebelumnya juga telah membuat Unilever memutuskan kontrak pasokan CPO dengan Sinar Mas.
"Perusahaan multinasional ini melakukan sesuatu karena tidak mau lagi terlibat dalam perusakan hutan dan perubahan iklim. Ini mengirimkan pesan jelas kepada pemerintah Indonesia bahwa perusahaan dan masyarakat Indonesia ingin melihat aksi segera untuk menyelamatkan hutan kita," ujar ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia adalah satu negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia. Kerusakan hutan lahan gambut di negara ini saja tercatat sebagai 4% penyumbang emisi gas rumah kaca dunia. Hal ini, menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga penyumbang emisi global setelah Amerika Serikat dan China.
Greenpeace mengungkapkan, perusahaan Selandia Baru Spicers Papers juga mengeluarkan siaran pers yang mengatakan bahwa akan menghentikan pembelian dalam beberapa bulan ke depan sebagai upaya perusahaan ini untuk membantu suplier Indonesia menunaikan kewajibannya memperbaiki performa lingkungan mereka.
Pihak Sinar Mas sendiri sebelumnya telah menyayangkan laporan dari Greenpeace karena dikeluarkan sebelum dilakukan perundingan terlebih dahulu. Padahal Sinar Mas mengaku siap berdialog dan melakukan berbagai perbaikan.
"Yang dilakukan Greenpeace bukan semata-mata murni untuk lingkungan. Kita menganggap ada penumpang gelap yang membonceng Greenpeace," ujar Managing Director Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto beberapa waktu lalu.
(qom/qom)
Serangan itu dikeluarkan dalam laporan berjudul "APP: 30 Tahun Merusak Hutan" yang diluncurkan di Beijing, Kamis (17/12/2009) kemarin.
Laporan Greenpeace terhadap kegiatan ilegal Sinar Mas ini diluncurkan saat pertemuan iklim penting PBB di Kopenhagen dimana perlindungan hutan untuk menurunkan emisi global didiskusikan. Greenpeace merekomendasikan terbentuknya dana global untuk menghentikan deforestasi di negara seperti Indonesia dan Brasil, dimana negara maju harus menginvestasikan dana US$ 45 miliar per tahun untuk perlindungan hutan.
Dalam laporan tersebut, Greenpeace mengklaim hasil tes terhadap produk kertas APP di China, yang menunjukkan bahwa kertas itu mengandung serat yang berasal dari hutan alam tropis di Indonesia.
Greenpeace dalam siaran persnya, Jumat (18/12/2009) menjelaskan, pada Oktober 2009, Greenpeace China menunjuk Intergrated Paper Services Inc (IPS) untuk melakukan tes laboratorium guna menganalisa serat pada lima tipe sampel kertas. Hasilnya menunjukkan bahwa tiga dari lima jenis kertas itu mengandung pulp tropis campuran yang berasal dari hutan alam.
Greenpeace memperkirakan bahwa proses produksi setiap ton pulp APP (Indonesia) pada 2007 menghasilkan emisi hingga 5,1 ton CO2 akibat perusakan hutan alam dan memperkirakan 29 ton CO2 berasal dari perusakan hutan di lahan gambut yang kaya karbon. Pada 2007, tujuh perusahaan APP (China) mengimpor 309.000 ton pulp dari Indonesia untuk memproduksi 4,39 juta ton produk kertas.
Laporan Greenpeace sebelumnya juga telah membuat Unilever memutuskan kontrak pasokan CPO dengan Sinar Mas.
"Perusahaan multinasional ini melakukan sesuatu karena tidak mau lagi terlibat dalam perusakan hutan dan perubahan iklim. Ini mengirimkan pesan jelas kepada pemerintah Indonesia bahwa perusahaan dan masyarakat Indonesia ingin melihat aksi segera untuk menyelamatkan hutan kita," ujar ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia adalah satu negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia. Kerusakan hutan lahan gambut di negara ini saja tercatat sebagai 4% penyumbang emisi gas rumah kaca dunia. Hal ini, menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga penyumbang emisi global setelah Amerika Serikat dan China.
Greenpeace mengungkapkan, perusahaan Selandia Baru Spicers Papers juga mengeluarkan siaran pers yang mengatakan bahwa akan menghentikan pembelian dalam beberapa bulan ke depan sebagai upaya perusahaan ini untuk membantu suplier Indonesia menunaikan kewajibannya memperbaiki performa lingkungan mereka.
Pihak Sinar Mas sendiri sebelumnya telah menyayangkan laporan dari Greenpeace karena dikeluarkan sebelum dilakukan perundingan terlebih dahulu. Padahal Sinar Mas mengaku siap berdialog dan melakukan berbagai perbaikan.
"Yang dilakukan Greenpeace bukan semata-mata murni untuk lingkungan. Kita menganggap ada penumpang gelap yang membonceng Greenpeace," ujar Managing Director Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto beberapa waktu lalu.
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:33 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 16:31 WIB
Garuda Bidik Load Factor Penumpang Jakarta-Taipei 80%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:13 WIB
Asing Jual Saham Rp 970 Miliar, IHSG Jatuh 2%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
-
55 Komentar
-
54 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
