Penjualan Parsel Anjlok Tajam
Sabtu, 26/12/2009 15:53 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Hari Raya Natal tahun ini rupanya belum membawa berkah bagi para pedagang parsel. Penjualan parsel merosot tajam jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Menurut Nyai, salah seorang penjual parsel di pasar Cikini, penjualan parsel pada Natal tahun ini merosot tajam hingga 75-85% jika dibandingkan dengan penjualan tahun lalu dengan harga jual kisaran Rp 100-800 ribu untuk parsel makanan dan Rp 300-700 ribu untuk parsel keramik. Nyai menyatakan memang pembelian parsel sempat ramai pada H-7 sebelum Natal tetapi tidak seramai tahun lalu.
"Anjlok!!! Mungkin itu kata yang tepat untuk penjualan parsel tahun ini," keluh Nyai saat ditemui detikFinance di tokonya, Sabtu (26/12/2009).
Pedagang asli Cikini mengeluh karena penurunan penjualan itu, ia belum bisa mengembalikan modal yang dipinjamnya. "Ini kan modal pinjaman, jadi ya belum balik modal. Kita pasrah saja," ujarnya.
Untuk mengembalikan modal tersebut, berbagai usaha ditempuh Nyai dan beberapa pedagang parsel di pasar ini. Salah satunya dengan menjadi penghias parsel. Dengan usaha ini, paling tidak Rp 10-20 ribu bisa didapatkan mereka dari ongkos hias sebesar Rp 85 ribu per parsel.
Selain itu, mereka juga menyimpan barang-barang yang tidak terjual pada Natal kali ini untuk kembali dijual pada Tahun Baru, Valentine, dan Imlek. Namun, mereka tidak menggantungkan pendapatannya pada hari-hari tersebut karena dipastikan hanya beberapa orang saja yang memesan parsel.
"Order untuk Tahun Baru memang ada, tetapi kita tetap menggantungkan pada Lebaran karena saat itu saja yang jumlah pemesannya lebih banyak dibanding Hari raya lainnya," ungkap Nyai.
Nyai memperkirakan turunnya penjualan parsel tahun ini disebabkan panasnya suasana politik di Indonesia. Apalagi beberapa pejabat pemerintah dicurigai sebagai pelaku korupsi. Hal inilah yang sepertinya membuat takut masyarakat untuk memberi parsel karena takut dituduh melakukan usaha KKN.
"Mungkin karena di atas berantem masalah Century dan lain-lain kali, jadi bikin takut masyarakat," ungkapnya.
Seperti yang kita ketahui, pada tahun 2003, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memberikan larangan pemberian parsel kepada institusi maupun orang yang mengatasnamakan institusi untuk mencegah praktik Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). semenjak itulah penjualan parsel menjadi tidak stabil.
Pedagang parsel lain yang juga berjualan di Pasar Stasiun Cikini tersebut, Sri, menceritakan saat munculnya larangan itu dirinya dan beberapa pedagang parsel sempat demo ke KPK karena terjadinya penurunan penjualan. Namun, rupanya pemerintah tidak menggubris.
"Kami datang ke KPK dan rumah anggota KPK, tapi mereka diam saja," ujar Sri.
Namun, semenjak pemerintahan SBY yang mendukung usaha kecil dan menengah (UKM), penjualan parsel kembali meningkat. Hanya saja entah karena alasan apa, penjualan parsel tahun ini kembali menurun.
(nia/dnl)
Menurut Nyai, salah seorang penjual parsel di pasar Cikini, penjualan parsel pada Natal tahun ini merosot tajam hingga 75-85% jika dibandingkan dengan penjualan tahun lalu dengan harga jual kisaran Rp 100-800 ribu untuk parsel makanan dan Rp 300-700 ribu untuk parsel keramik. Nyai menyatakan memang pembelian parsel sempat ramai pada H-7 sebelum Natal tetapi tidak seramai tahun lalu.
"Anjlok!!! Mungkin itu kata yang tepat untuk penjualan parsel tahun ini," keluh Nyai saat ditemui detikFinance di tokonya, Sabtu (26/12/2009).
Pedagang asli Cikini mengeluh karena penurunan penjualan itu, ia belum bisa mengembalikan modal yang dipinjamnya. "Ini kan modal pinjaman, jadi ya belum balik modal. Kita pasrah saja," ujarnya.
Untuk mengembalikan modal tersebut, berbagai usaha ditempuh Nyai dan beberapa pedagang parsel di pasar ini. Salah satunya dengan menjadi penghias parsel. Dengan usaha ini, paling tidak Rp 10-20 ribu bisa didapatkan mereka dari ongkos hias sebesar Rp 85 ribu per parsel.
Selain itu, mereka juga menyimpan barang-barang yang tidak terjual pada Natal kali ini untuk kembali dijual pada Tahun Baru, Valentine, dan Imlek. Namun, mereka tidak menggantungkan pendapatannya pada hari-hari tersebut karena dipastikan hanya beberapa orang saja yang memesan parsel.
"Order untuk Tahun Baru memang ada, tetapi kita tetap menggantungkan pada Lebaran karena saat itu saja yang jumlah pemesannya lebih banyak dibanding Hari raya lainnya," ungkap Nyai.
Nyai memperkirakan turunnya penjualan parsel tahun ini disebabkan panasnya suasana politik di Indonesia. Apalagi beberapa pejabat pemerintah dicurigai sebagai pelaku korupsi. Hal inilah yang sepertinya membuat takut masyarakat untuk memberi parsel karena takut dituduh melakukan usaha KKN.
"Mungkin karena di atas berantem masalah Century dan lain-lain kali, jadi bikin takut masyarakat," ungkapnya.
Seperti yang kita ketahui, pada tahun 2003, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memberikan larangan pemberian parsel kepada institusi maupun orang yang mengatasnamakan institusi untuk mencegah praktik Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). semenjak itulah penjualan parsel menjadi tidak stabil.
Pedagang parsel lain yang juga berjualan di Pasar Stasiun Cikini tersebut, Sri, menceritakan saat munculnya larangan itu dirinya dan beberapa pedagang parsel sempat demo ke KPK karena terjadinya penurunan penjualan. Namun, rupanya pemerintah tidak menggubris.
"Kami datang ke KPK dan rumah anggota KPK, tapi mereka diam saja," ujar Sri.
Namun, semenjak pemerintahan SBY yang mendukung usaha kecil dan menengah (UKM), penjualan parsel kembali meningkat. Hanya saja entah karena alasan apa, penjualan parsel tahun ini kembali menurun.
(nia/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 17:05 WIB
Wah! Sepatu Timberland dan Clarks pun Made in Sidoarjo
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:33 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 16:31 WIB
Garuda Bidik Load Factor Penumpang Jakarta-Taipei 80%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
Jumat, 25/05/2012 14:14 WIB
Agus Marto Lantik Pejabat Eselon II Kemenkeu
-
55 Komentar
-
54 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
