Industri Sepatu Siap 'Menangis' Hadapi AFTA
Selasa, 29/12/2009 16:15 WIB
Foto: dok. detikFinance
Jakarta - Menjelang awal tahun 2010, industri sepatu dalam negeri menyiapkan diri dengan lonjakan impor produk asal China. Dengan penerapan pembebasan bea impor, industri sepatu dalam negeri diperkirakan akan menangis.
Menurut Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho, kebijakan pembebasan bea impor antara Indonesia dengan China sangat merugikan. Terlebih untuk industri sepatu dalam negeri.
Indonesia, sampai saat ini belum bisa menyaingi harga produksi sepatu asal China. Untuk produktifitas tenaga kerja pun, Indonesia masih jauh tertinggal. Menurutnya, angkatan kerja Indonesia hanya 60% dari yang warga China miliki.
"Produksi sepatu China US$ 2. Bagaimana ini bisa tersaingi oleh kita. 90% pelaku industri kita adalah di sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Harga produksi sulit untuk menyaingi," katanya kepada detikFinance di kantornya Jalan Gator Subroto, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
Dari hasil studi yang LIPI lakukan, pengrajin sepatu asal Cibaduyut, Bandung, sudah mengeluh dengan sepinya pembeli. Ini termasuk angka penjualan yang semakin menurun. Hal yang sama juga diakui pengrajin alas kaki asal Surabaya.
"Bahkan, saat ini mereka sudah mengkombinasikan produk sepatu lokal dengan produk asal China. Belum AFTA dengan China saja, kita sudah kedatangan banyak produk ilegal. Sulit untuk bersaing," ujarnya.
Dengan analisa sederhana, lanjutnya, Indonesia dinilai belum siap jika harus head-to-head dengan China. "Ekspor kita ke China didominasi oleh produk Migas (minyak, gas alam). Sedangkan China kirim barang ke Indonesia, produk-produk non migas, produk jadi, seperti sepatu, garmen, dan lain-lain," imbuhnya.
Untuk mengantisipasi hal ini, saran Agus, yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan meminimalkan produk ilegal yang masuk ke dalam negeri. Selain itu, kebijakan non tarif lainnya adalah, penerapan standar produksi nasional, dan pelabelan produk UMKM.
"Ini bukan hambatan tarif ya. Namun ini bentuk lain untuk menjaga produk dalam negeri. Minimalkan produk ilegal, juga penerapan standar produksi. Label juga telah dilakukan di industri kecil, dan Badan POM, khusus untuk produk-produk obat dan makanan," paparnya.
Penerapan sertifikasi halal juga jadi cara ampuh untuk memproteksi produk dalam negeri. Seluruhnya untuk mengantisipasi lonjakan impor yang kemungkinan besar terjadi awal Januari 2009.
(wep/ang)
Menurut Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho, kebijakan pembebasan bea impor antara Indonesia dengan China sangat merugikan. Terlebih untuk industri sepatu dalam negeri.
Indonesia, sampai saat ini belum bisa menyaingi harga produksi sepatu asal China. Untuk produktifitas tenaga kerja pun, Indonesia masih jauh tertinggal. Menurutnya, angkatan kerja Indonesia hanya 60% dari yang warga China miliki.
"Produksi sepatu China US$ 2. Bagaimana ini bisa tersaingi oleh kita. 90% pelaku industri kita adalah di sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Harga produksi sulit untuk menyaingi," katanya kepada detikFinance di kantornya Jalan Gator Subroto, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
Dari hasil studi yang LIPI lakukan, pengrajin sepatu asal Cibaduyut, Bandung, sudah mengeluh dengan sepinya pembeli. Ini termasuk angka penjualan yang semakin menurun. Hal yang sama juga diakui pengrajin alas kaki asal Surabaya.
"Bahkan, saat ini mereka sudah mengkombinasikan produk sepatu lokal dengan produk asal China. Belum AFTA dengan China saja, kita sudah kedatangan banyak produk ilegal. Sulit untuk bersaing," ujarnya.
Dengan analisa sederhana, lanjutnya, Indonesia dinilai belum siap jika harus head-to-head dengan China. "Ekspor kita ke China didominasi oleh produk Migas (minyak, gas alam). Sedangkan China kirim barang ke Indonesia, produk-produk non migas, produk jadi, seperti sepatu, garmen, dan lain-lain," imbuhnya.
Untuk mengantisipasi hal ini, saran Agus, yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan meminimalkan produk ilegal yang masuk ke dalam negeri. Selain itu, kebijakan non tarif lainnya adalah, penerapan standar produksi nasional, dan pelabelan produk UMKM.
"Ini bukan hambatan tarif ya. Namun ini bentuk lain untuk menjaga produk dalam negeri. Minimalkan produk ilegal, juga penerapan standar produksi. Label juga telah dilakukan di industri kecil, dan Badan POM, khusus untuk produk-produk obat dan makanan," paparnya.
Penerapan sertifikasi halal juga jadi cara ampuh untuk memproteksi produk dalam negeri. Seluruhnya untuk mengantisipasi lonjakan impor yang kemungkinan besar terjadi awal Januari 2009.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 17:05 WIB
Wah! Sepatu Timberland dan Clarks pun Made in Sidoarjo
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:33 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 16:31 WIB
Garuda Bidik Load Factor Penumpang Jakarta-Taipei 80%
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:27 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
55 Komentar
-
55 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
