Mengukir Untung dari Ukiran Aksara Kayu
Senin, 04/01/2010 09:14 WIB
Jakarta - Hal remeh terkadang justru menjadi sesuatu yang menjanjikan bagi suatu bisnis. Misalnya saja bisnis pembuatan aksara kayu (wooden letter). Sepintas bisnis ini tidak meyakinkan tapi sebenarnya pasar dari aksara kayu cukup besar.
Salah satu pembuat akasara kayu kawakan di kawasan Ulujami Jakarta Selatan Sri Wienarto telah memulai bisnis ini sejak 1979. Ia juga bukan hanya membuat aksara untuk kepentingan papan nama namun ia juga membuat beberapa karya lainnya seperti ukiran kaligrafi, furniture, frame, miniatur alat musik, assesories dan lain-lain
Bapak dua anak ini mengaku bisnis membuat aksara kayu cukup menjanjikan karena selain pesaingnya jarang, ia telah memiliki pasar yang tetap seperti para pengembang properti untuk pembuatan nomor rumah, alamat rumah dll.
Selain itu, pasar umum seperti kalangan remaja, mahasiswa juga gemar menggunakan aksara kayu, termasuk pengguna rumah masyarakat umum, perkantoran dan pertokoan untuk kepentingan asesories dan papan nama.
"Terus terang permintaan letter laku sekali, kita sampai kewalahan," kata Sri saat berbincang dengan detikFinance pekan lalu, di Jakarta.
Melalui bantuan 15 orang tenaga kerjanya dan bantuan istri tercintanya Siti Muthmainah, setidaknya ia telah berhasil menjual produk aksara kayu ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Bali, Batam, Makassar dan lain-lain. Meskipun sampai saat ini produk aksara kayunya belum menembus pasar ekspor, tetapi untuk kaligrafi sudah sering diekspor ke pasar Timteng, Afrika, Eropa dan Asia.
Sri mengatakan selama ini, ia menjual aksara kayu ukuran standar (10 cm) per buahnya mencapai Rp 8000, namun ada beberapa produk aksara merek lain dengan kemasan mewah justru dijual hingga Rp 23.000 per buah di supermarket. Sedangkan untuk aksara ukuran 25 cm hanya ia jual Rp 50.000 per buah.
"Harga termahal yang pernah saya jual Rp 2 juta, dengan ukuran 3 meter untuk papan nama restoran," katanya.
Menjalankan bisnis ini bisa dibilang gampang-gampang susah karena Sri mengaku untuk mendapatkan pelanggan tetap memerlukan waktu, sedangkan pembeli umum biasanya ia layani melalui show room-nya di Mangga Dua Jakarta.
Mengenai bahan baku, usaha aksara kayu relatif mudah mendapatkannya karena kayu-kayu jati belanda bekas peti kemas mudah didapat dari beberapa supplier di Jakarta. Biasanya Sri akan memilih kayu jati belanda yang masih dalam kondisi mulus sehingga produk aksara yang dihasilkan mulus sempurna.
"Jujur saja saja margin yang saya ambil 50% lebih karena bagaimana pun ini karya seni," imbuhnya.
Ia mengaku meski sudah sering membuat aksara kayu puluhan tahun namun hingga kini belum ada standar khusus untuk membuat aksara-aksara tersebut. Semua aksara ia buat hanya mengandalkan pengalaman dan perasaan, meskipun untuk ukuran panjang aksara biasanya sudah memiliki ukuran tertentu seperti 10 cm, 17 cm, 50 cm dan lain-lain.
"Ukuran letter nggak ada standar khusus, tapi saya sering jual yang 10 cm," katanya.
Walhasil dari usaha membuat aksara ini, setidaknya pendapatan kotor minimal Rp 50 juta setiap bulannya ia bisa kantongi dengan keuntungan bersih minimal Rp 15 juta per bulan. "Bisnis aksara ini yang penting pemasaran," katanya.
Sri Wienarto
Bhineka Karya Art
Jl. H. Buang II/Ulujami Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12250
Email : bka@cbn.ned.id
Show Room
Pusat Grosir Pasar Pagi
Mangga Dua Blok B Lantai Basement
(hen/qom)
Salah satu pembuat akasara kayu kawakan di kawasan Ulujami Jakarta Selatan Sri Wienarto telah memulai bisnis ini sejak 1979. Ia juga bukan hanya membuat aksara untuk kepentingan papan nama namun ia juga membuat beberapa karya lainnya seperti ukiran kaligrafi, furniture, frame, miniatur alat musik, assesories dan lain-lain
Bapak dua anak ini mengaku bisnis membuat aksara kayu cukup menjanjikan karena selain pesaingnya jarang, ia telah memiliki pasar yang tetap seperti para pengembang properti untuk pembuatan nomor rumah, alamat rumah dll.
Selain itu, pasar umum seperti kalangan remaja, mahasiswa juga gemar menggunakan aksara kayu, termasuk pengguna rumah masyarakat umum, perkantoran dan pertokoan untuk kepentingan asesories dan papan nama.
"Terus terang permintaan letter laku sekali, kita sampai kewalahan," kata Sri saat berbincang dengan detikFinance pekan lalu, di Jakarta.
Melalui bantuan 15 orang tenaga kerjanya dan bantuan istri tercintanya Siti Muthmainah, setidaknya ia telah berhasil menjual produk aksara kayu ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Bali, Batam, Makassar dan lain-lain. Meskipun sampai saat ini produk aksara kayunya belum menembus pasar ekspor, tetapi untuk kaligrafi sudah sering diekspor ke pasar Timteng, Afrika, Eropa dan Asia.
Sri mengatakan selama ini, ia menjual aksara kayu ukuran standar (10 cm) per buahnya mencapai Rp 8000, namun ada beberapa produk aksara merek lain dengan kemasan mewah justru dijual hingga Rp 23.000 per buah di supermarket. Sedangkan untuk aksara ukuran 25 cm hanya ia jual Rp 50.000 per buah.
"Harga termahal yang pernah saya jual Rp 2 juta, dengan ukuran 3 meter untuk papan nama restoran," katanya.
Menjalankan bisnis ini bisa dibilang gampang-gampang susah karena Sri mengaku untuk mendapatkan pelanggan tetap memerlukan waktu, sedangkan pembeli umum biasanya ia layani melalui show room-nya di Mangga Dua Jakarta.
Mengenai bahan baku, usaha aksara kayu relatif mudah mendapatkannya karena kayu-kayu jati belanda bekas peti kemas mudah didapat dari beberapa supplier di Jakarta. Biasanya Sri akan memilih kayu jati belanda yang masih dalam kondisi mulus sehingga produk aksara yang dihasilkan mulus sempurna.
"Jujur saja saja margin yang saya ambil 50% lebih karena bagaimana pun ini karya seni," imbuhnya.
Ia mengaku meski sudah sering membuat aksara kayu puluhan tahun namun hingga kini belum ada standar khusus untuk membuat aksara-aksara tersebut. Semua aksara ia buat hanya mengandalkan pengalaman dan perasaan, meskipun untuk ukuran panjang aksara biasanya sudah memiliki ukuran tertentu seperti 10 cm, 17 cm, 50 cm dan lain-lain.
"Ukuran letter nggak ada standar khusus, tapi saya sering jual yang 10 cm," katanya.
Walhasil dari usaha membuat aksara ini, setidaknya pendapatan kotor minimal Rp 50 juta setiap bulannya ia bisa kantongi dengan keuntungan bersih minimal Rp 15 juta per bulan. "Bisnis aksara ini yang penting pemasaran," katanya.
Sri Wienarto
Bhineka Karya Art
Jl. H. Buang II/Ulujami Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12250
Email : bka@cbn.ned.id
Show Room
Pusat Grosir Pasar Pagi
Mangga Dua Blok B Lantai Basement
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
34 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
